Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Tegar seteguh Karang di lautan


__ADS_3

"Mbak, udah ya, aku harus pulang. kasian Zahwa di tinggal terlalu lama."


Shaina pamit. Setelah bersalaman dengan Zeze, dia membungkukkan badan di depan Fathir tanda permisi. Zeze pun menyenggol nyenggol bahu Fathir dengan bahunya.


Dasar Fathir dia hanya mengangkat angkat ke dua bahunya.


"Ayo!" Ucap Zeze.


"Ayo kenala?"


Sahut Fathir.


"Kejar Shainanya dodol!" Pekik Kecil Zeze gregetan.


"Nggak! aku tidak berani."


Ucap Fathir lagi.


"Hufs ya sudah."


Zeze pun kembali ke mall untuk mencari oleh oleh.


"Sebenarnya mamamu suka apa,sih, baju atau tas atau yang himana? biar aku neli in."


Ucap Zeze yang terus berjalan.


Lama diam, Zeze tidak mendengar jawaban, dia pun berbalik.


"Lho...kemana cowo dodol tadi ya? kok nggak ada?"


Zeze pun berbalik kearah semula. Zeze tersenyum.


"Shaina...aku...aku..."


Ternyata Fathir mengejar Shaina, namun dia terlihat salah tingkah dan buang waktu saja dengan mengulang kata berulang ulang.


"Ada apa sih Tuan? maaf aku harus pergi. Kalau Tuan tidak bisa mengatakannya, baik Tuan kirim surat saja nanti."


Ucap Shaina, Shaina pun berbalik pergi.


"Heh, menyebalkan sekali lelaki ini, dasar emang dodol."


Zeze sangat jengkel dengan ulah Fathir yang plin plan, masa untuk mengatakan cinta saja susah amat.


"Shaina, aku mencintaimu."


Fathir spontan. kali ini orang orang yang ada di sekitarnya pun berbalik menengok ke arah Fathir. Sedang Shaina dia terdiam, kakinya terhenti, dadanya bergetar hebat, sisi hatinya yang memang telah di isi oleh Fathir kini mulai memenuhi seluruhnya.


"Shaina...apa kau mau menerimaku kembali?"


Kali ini semua orang yang melihat jadi iri.


"Kalau dia tidak mau, denganku saja Om."


Goda anak SMP yang masih memakai seragam di siang itu.


Shaina lun berbalik dan menarik tangan Fathir.


"Ooooooooooh." Kini mereka pun di teriaki bahagia oleh orang orang yang melihatnya. Begitu juga Zeze sangat senang.

__ADS_1


Lama


Lama


Lama


Fathir tak juga kembali, Zeze hanya menanti.


Taaaap taaaap taaaaap


Tiba tiba Fathir datang menghampiri Zeze dengan langkah gontai.


"Lho? ada apa? kok loyo?" Tanya Zeze.


Zeze penasaran kok jadi begini ya?


"Aku di tolak lagi." Jawabnya.


"Haaaaah? dasar wanita itu, kok nolak mulu?"


Zeze jadi bingung. mengapa Shaina terus menolak lelaki tampan ini.


"Jadi ngapain dia tadi tarik tarik tanganmu?"


Tanya Zeze.


"Dia bilang, aku tidak bisa menerima lamaran mu, karena aku baru saja bercerai mati."


"Oooh...nggak papa, mungkin dia akan menunggu saat iddahnya selesai. ayo!"


Zeze pun merangkul bahu Fathir dan membawanya kembali ke mall.


Sementara Shaina. Di dalam mobilnya.


Lirihnya.


Dia pun melaju menuju kediaman Linggar permana.


Ceklek


"Papah? ada apa?"


Terlihat Papah dan Pa Danu orang kepercayaan papah menatap Shaina yang baru datang.


"Sini, duduklah!"


Ucap mertuanya.


Pa Danu mengeluarkan berkas perusahaan.


"Aku ingin menyerahkan semua aset perusahaan ku padamu dan juga calon cucuku."


Kemudian dia membuka surat perjanjian dan membubuhkan tanda tangannya. Semua atas nama Shaina.


"Pah, memang kenapa semuanya harus atas namaku? aku takut kalau nanti ada orang yang mengatakan, kalau aku merebutnya dari Papah." ucap Shaina.


"Aku percaya padamu, lagian, ada cucu satu satunya di rahimmu kan?" Tambahnya lagi.


"Baiklah pah, aku akan belajar."

__ADS_1


Shaina pun menerima keputusan mertuanya.


🌷


🌷


🌷


"Pagi semuaaaaa."


Shaina kembali melakukan rutinitasnya sebagai Ceo perusahaan Linggar.


"Pagiiii."


Sahut semua karyawan. Shaina pun memberikan pengarahan tentang strategi baru.


"Beruntung sekali dia ya, menantu bak anak kandung."


Ucap salah satu karyawati.


"Heh kamu tau nggak? katanya dia itu dulu hamil di luar nikah, trus melahirkan tanpa suami, mungkin dia menjampi jampi Pak Hendra hingga mau menerimanya." Sahut karyawati yang lain.


"Masa? gosip kaleee." Sahut karyawati lainnya.


"Hey, kamu dan kamu, kalian berdua ke ruanganku sekarang."


Ternyata Shaina dari tadi memperhatikan mereka yang asyik mengobrol sendiri.


Tap


Tap


Tap


"Aku ingin tau, apa yang sedang kalian obrolin?"


Tanya Shaina lembut. Kedua wanita itu gugup setengah mati.


"Jawab! atau kalian berdua akan tau akibatnya."


"i..itu Bos dia bilang, bu bos hamil di luar nikah."


Ucap karyawati itu, dia takut kalau di pecat, karena dia hanya menggantungkan hidupnya dengan gajih di perusahaan itu.


"Apa benar?"


Tanya Shaina.


"Maaf Bos, saya khilaf."


Jawab karyawati


"Kau ku pecat, silahkan kemasi barang barangmu."


Shaina pun berdiri dan keluar meninggalkan ruangannya tanpa menunggu pembelaan apa pun dari wanita yang bergosip.


Dia pun pergi menggunakan mobil mewah peninggalan Hendra.


"Bang...aku akan kuat seperti pesanmu' kau harus kuat dan tegas untuk menjadi Bos' Aku akan ingat itu, aku akan teguh seperti karang di lautan."

__ADS_1


Gumam Shaina.


BERSAMBUNG....


__ADS_2