
Fathir kaget saat mendengar penjelasan Yola, bahwa pa Linggar telah mengatakan yang tidak baik pada Yola. Hatinya kini merasa geram atas tindakan mertua Shaina itu.
"Oke sayang, ini makan dulu."
Fathir pun menyuapin Yola, Yola makan dengan lahapnya.
Salma, maafkan aku, kalau aku bukan ayah yang baik buat Yola, namun aku akan menjaganya dan melindunginya dari orang yang ingin menyakitinya.
Batin Fathir.
"Mau lagi?" Tanya Fathir.
Gadis 8 tahun itu pun menggeleng.
"Sekarang kamu ke kamar ya! papa mau bicara sama mama." Ucap Fathir sambil menggandeng gadis kecil itu.
"Iya pa."
Yola pun berlari kecil menuju kamar.
"Shaina, aku mau bicara 4 mata sama kamu!"
Shaina,yang sedang memeluk Rangga pun menoleh.
"Ada Beng?" Tanyanya heran.
"Rangga sayabg, kamu ke kamar duku sama kak Yola ya!"
Rangga pun menggangguk dan berlari mengiringi Yola.
"Shaina, aku tidak bisa basa basi. Aku ingin kita pindah dari rumah ini!" Ucapnya.
"Apa? pindah? tapi bagaimana dengan papa? Hanya Rangga lah keluarganya, kalau kita pindah berarti kita memisahkan dia dari cucu kesayangannya." Ucap Shaina.
"Tapi aku juga tidak bisa melihat Yola di sisihkan, aku baru saja mendengar cerita Yola, kalau pa Linggar mengatakan kalau Yola anak tiri, mungkin ada banyak katq kaya lainnya yang membuat Yola kecewa." Ucap Fathir lagi.
"Beng, kita bisa bicarakan itu dengan papa, kasian papa Beng, di usia tuanya hanya Rangga dan akulah keluarganya." Ucap Shaina lagi.
"Tapi aku tidak bisa kalau Yola di sakiti,Yola adalah tanggung jawabku, dia juga hanya punya aku." Jawabnya lagi.
"Baiklah, aku akan membicarakannya dengan papa." Jawab Shaina, persendiannya terasa putus semua, belum selesai masalah Zahwa, kini datang masalah baru.
"Besok kita sudah pindah dari rumah ini titik!" Tegas Fathir lagi.
"Pindah? pindah ke mana?" Tiba tiba pa Linggar sudah berada di nelakang mereka.
"Papah? anu pa kami..."
Belum selesai, Shaina menjawab.
"Kami akan pindah Rumah pa!" Sahut Fathir.
"Pindah? untuk apa pindah? apa rumah ini terlalu kecil?" Sahut pa Linggar.
__ADS_1
"Kami hanya ingin mandiri pa." sahut Fathir lagi.
"Apakah kau merasa di sini di kekang, bukankah aku tidak memberi aturan apa apa pada kalian. kalian bebas melakukan apa saja, asal aku bisa dekat dengan Rangga cucuku." Sahutnya.
"Iyaaaa, kami hanya ingin merasai hidup sederhana, dan ya..itu ingin hidup mandiri." Fathir juga bingung mau jawab apa.
"baiklah, kalu itu ke inginannmu, namun Rangga tidak noleh di bawa, silahkn kalian oindah."
Pa Linggar pun berjalan menuju dapur.
Bruk
Sepertinya dia melempar sesuatu di dapur sana. Shaina yang mendengar pun kaget.
"Apa? aku harus meninggal Rangga di sini? tidak akan, aku tidak mau jauh dengan anak anakku, kini hanya Rangga yang yang bisa menghiburku, walau Yola jua bisa mengobati rinduku pada Zahwa."
Air mata Shaina kembali mengalir, dia pun berjalan menuju kamar.
Hap
"Kita belum selesai bicara!" Ucap Fathir sambil mencengkram tangan Shaina.
"Tidak ada yang bisa di bicarakan lagi, kalau Rangga tinggal, aku tidak bisa ke mana mana lagi Beng."
Shaina terus berjalan menuju kamarnya untuk menemui Rangga. Luka kehilangan Zahwa belum sembuh, kini harus terpisah dari Rangga itu tidak mungkin menurut Shaina.
"Tapi aku juga tidak bisa numpang hidup di sini terus Sayang, kita juga ada rumah yang besar, hadiah untuk Zahwa waktu itu bisa kita tempati kok." Ucap Fathir.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Rangga di sini." Jawabnua.
Ketus Fathir. Fathir pun berjalan mendahului Shaina menuju kamar.
Ceklek
"Rangga, Yola, bereskan pakaian kalian, kita akan pindah besok!" Ucap Fathir.
"Pindah? kemana?" Tanya mereka bersamaan.
"Kita akan pindah ke rumah baru." Ucap Fathir.
"Beng, bagaimana dengan papah?" Tanya Shaina yang baru masuk kamar.
"Dia itu kakeknya, sedang kau adalah mamanya, apa kau takut kehilangan warisan Hendra?"
Kali ini Fathir tampak emosi, kata kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Beng, serendah itukah kau menilai harga diriku?"
Shaina pun berjalan mendekati Rangga dan meraih tangannya.
"Rangga ayo kita pamit sama kakek dulu ya, kita bilang baik baik ." Rangga oun menurut.
Tok tok tok
__ADS_1
"Kakek."
Panggil Rangga, karena Rangga anak yang sopan, slalu minta izin kalau mau masuk kamar kakeknya. Walau kadang dia kurang toleransinya, karena sering di manjakan kakeknya.
"Masuk Rangga, nggak di kunci kok."
Ceklek
Tap tap tap
"Rangga? Shaina? ada apa?"
Walau pun sudah tau maksud kedatangan cucu dan mantunya itu, namun dia masih juga bertanya.
"Pa, besok Beng Fathir mengajak kami pindah rumah, aku sebagai istri nggak bisa nolak itu pa."
Suara Shaina pelan dan sopan.
"Jadi kau akan pindah membawa Ranggaku? tidak! kau boleh pergi asal kau tinggalkan Rangga di sini!" Ucapnya kasar.
"Rangga pengen ikut mama kek, Rangga ingin ketemu Kak Zahwa." Sahut Rangga.
"Jadi kau juga ingin meninggalkan kakek? apa kau tidak sayang kakek?"
Hap
"Rangga sayang kakek, tapi Rangga mau ketemu kak Zahwa kek."
"Zahwa kakakmu itu sudah hilang di bawa penjahat, bagaimana mau kau bertemu dengannya!"
Cetus Pa Linggar.
Deg
Rangga kaget mendengar, penuturan kakeknya itu, dia terdiam sesaat, lalu menatap wajah mamanya, Shaina pun bingung dan kaget, mertuanya tega mengatakan itu sama Rangga.
"Apa benar ma?"
Shaina tak mampu menjawab.
"Maaa apa benar yang di katakan kakek?"
Shaina mauoin pa Linggar hanya diam, mungkin l Linggar pun terpaksa mengatakan itu karena emosi.
"Pasti kak Zahwa benci sama Rangga, Pasti kakak tidak memaafkan Rangga saat Rangga mencakar rambut kak Zahwa hik hik kakaaaaak, masfkan Rangga....."
Pa Linggar pun memeluk Rangga, namun Rangga berontak.
"Kenapa mama bohong, katanya Kak Zahwa sedang liburan."
Tap tap
Rangga berlari keluar. entah mau ke mana
__ADS_1
Shaina Pun mengikuti.
BERSAMBUNG....