
Fathir terus memanggil nama Shaina, mulutnya pun bau Alkohol, ternyata Fathir mabok tadi malam. Ini pertama kalinya dia tidak bisa menahan dirinya, ketika hatinya hancur berkeping keping.
"Ada apa Non?" Budi pun datang karena telah di telpon Ummi. dan menatap kaget tubuh pria yang tersungkur di dapan pintu.
"Tolong bawa dia masuk." Ucap Shaina, sementara Ummi menidurkan Zahwa yang sempat bangun. dan meletakkannya di kamar.
"Baik, Non," Budi pun menggandeng tubuh kekar Fathir masuk kedalam, tampak dia juga sangat kesulitan membawanya, karena tubuh budi juga tak begitu besar. Fathir pun di baringkan di ruang tamu.
"Mas Budi, terimakasih kau boleh pulang." Ucap Shaina.
"Baik Non, kalau ada apa apa telpon saja." Budi pun pamit.
"Tuan Fathir, bangun Tuan, ada apa? mengapa tuan mabuk?" Shaina menggoyangkan tubuh Fathir mencoba menyadarkannya.
Hap
"Shainaaaa jangan pergi." Fathir menangkap tangan Shaina dan menariknya kedalam pelukannya, tubuh kurus Shaina tak berdaya menolaknya, Shaina pun tersungkur dan spontan jatuh dalam pelukan Fathir yang tegapnya kaya beton kraton.
"Tuan, lepaskan saya, Ummi..." Shaina kaget dan mencoba melepaskan diri, namun dia tidak berdaya.
"Shaina ada apa, ah Tuan, lepaskan!" Ummi pun menarik tangan Fathir agar menjauh dari Shaina, namun Fathir menepisnya dan membuat Ummi pun terhuyung ke belakang.
"Shainaaaa, tolong maafkan aku, jangan tinggalkan aku, hik hik hik hik." Fathir terus mengigau dan menangis.
"Tuan, Mi tolong ambilkan air putih, biar kita siram." Tubuh kurus Shaina masih dalam pelukan Fathir sambil tengkurap di samping Fathir dengan posisi Fathir mereng dan sedang memeluk Shaina.
"Shaina, tolong maafkan aku, Zahwa anakku tolong Papah Nak, Zahwa."
Byur
Byur
Byur
Wajah ganteng Fathir pun di siram Ummi pakai air dingin. Spontan Fathir pun melepas pelukannya dan mengusap mukanya.
"Hujan hujan." Fathir mengira kehujanan ckckckckck.
"Tuan." Shaina pun menjauh, namun masih coba menyadarkan. Namun Tidak terlihat dia sadar, semakin lama, semakin lemes dan akhirnya terdengar dengkuran yang sangat nyaring. Rupanya dia tertidur.
"Dia tidur Mi, bagaimana ini?" Shaina malah tambah bingung.
"Kita panggil Budi aja, nyuruh dia jagain, kita harus segera ke rumah Hendra, ayo!" Ummi pun mengambil Hpnya dan menghubungi budi kembali.
***
__ADS_1
"Assalamualaikum, bu" Budi sudah datang.
"Tolong kamu jaga Tuan itu ya? nanti kalau dia bangun, ada nasi dan lauk kok di dapur, kamu juga makan tuh, banyak kok." Ucap Ummi.
"Baik Bu,"
Ummi dan Shaina pun berangkat menuju rumah Hendra.
"Shain! apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu ini heh?" Tanya Ummi, karena Ummi dapat merasakan saat tadi anaknya itu berada dipelukan Fathir ada wajah yang tak bisa di jelaskan tampak di muka anaknya itu, saat wajah mereka berdekatan.
"Kenapa Ummi menanyakan itu?" Shaina pun tampak heran dengan Ummi.
"Apa kau mencintai Fathir?" Shaina terdiam sesaat.
"Mi, dia hanya ayah Zahwa, tak lebih, aku ingin ngembahagiain Mas Hendra, aku akan fokus padanya." Sahut Shaina, namun wajahnya sedikit aneh, dan tatapannya kosong ke depan.
"Kau harus yakin, jangan sampai salah melangkah, dan akhirnya ke tiganya tersakiti."
"Ke tiganya? maksud Ummi apa?" Shaina menatap wajah keriput Umminya tak mengerti.
"Kau menikah dengan Hendra, namun hatimu terpaut pada Fathir, kalau Hendra tau kalian bertiga pasti terluka," Ucap Ummi.
"Mi, kadang kita harus berkorban perasaan demi membahagiakan orang lain, lagian Mas Hendra lebih membutuhkanku di bandingkan Fathir." Raut wajah Shaina menunjukkan bahwa di sana pun ada luka.
"Jangan kau membalas perbuaan Fathir dulu. kalau kau memang membutuhkannya." Jawab Ummi lagi.
"Baiklah nah. terserah kau saja, asal apa yang kau ambil hari ini tak akan kau sesali kelak."
"Insyaa Allah Mi."
Tak terasa mereka pun sudah sampai di tempat yang di tuju. Halaman Hendra tampak ramai di datangi beberapa kerabat dekay Hendra, Semua mata pun tertuju pada Shaina yang datang menggunakan kebaya yang di berikan Ny.Linggar tadi malam, Zahwa yang di gendong ummi pun di hiasi sangat cantik.
"Waah cantik, tapi sayang bekas orang." Ada beberapa ibu ibu yang nyinyir, membuat dada Shaina terasa sesak, tubuhnya pun terasa mulai panas dingin dan keringat bercucuran.
"Kok mau ya Tuan muda sama wanita janda, masih banyak yang mengejarnya, aku juga mau tu punya mantu kayak Hendra, tampan kaya lagi." sahut ibu yang lain, menambah telinga Shaina panas.
"Sayang, mari!"
Ny.Linggar pun menyambut ke datangan Shaina dan membawanya ke panggung kecil untuk segera ijab qabul.
Hendra yang sudah duduk manis pun tersenyum bahagia melihat kedatangan calon istrinya.
"Shain, kau sangat cantik."
Puji Hendra saat Shaina sudah ada di sampingnya, Shaina hanya tersenyum menundukkan wajahnya malu.
__ADS_1
Pernikahan pun akan di mulai. penghulu wali nikah Shaina dan saksi saksi sudah duduk rapi di tempatnya masing masing.
Acara pun di mulai setelah beberapa saat
"Sah?" tanya penghulu.
"Saaaaaaah."
Hendra pun memeluk istrinya spontan, den mengecup dahi Shaina berulang ulang. Shaina yang baru pertama kali merasakan ini oun kaget, ada rasa bahagia yang menjalar di tubuhnya.
"Kalian semua, karena ini acara dadakan, aku mohon maaf atas kekurangan ini. Silahkan kalian makan sepuasnya." Teriak Hendra kepada sahabat kerabat dan juga tetangga di sekitar rumahnya. walau dadakan, namun berbagai menu catring tersedia di meja.
"Sayang, ayo?" Hendra pun menggenggam tangan Shaina. dan menariknya untuk berdiri.
"Ke mana?" Tanya Shaina Heran.
"Kita makan, trus nemui Zahwa."
"Oh iya, Zahwa ke mana?" Shaina tidak melihat Umminya dan Zahwa, dari saat naik panggung untuk ijab Qabul.
"Ada kok, udah aku siapin kamar buat Ummi dan Zahwa." Ucap Hendra.
"Di mana?"
"Kita makan dulu." Mereka pun menuju meja makan dan memilih menu. setelah itu mereka tampak berbaur duduk bersama papah dan mamahnya, juga Tante adik papahnya.
"Hen, selamat ya, mudahan langgeng," Tantenya itu melirik Shaina seakan mencibir.
"Iya Tante, terimakasih."
"Hen, kalau kamu tidak cocok dengannya, kamu masih bisa kok bilang sama Tante, Shela pasti mau maafin kamu." Shela adalah ponakan Tantenya. dia itu tante ipar gitu, sedang Omnya adalah kakak ibunya.
"Tante, maaf, saya tidak berniat mencari yang lain, ayo Shain, kita pindah." Hendra pun meraih tangan Shaina. Sementara Shaina hanya menurti, tentu saja Shaina tersinggung atas perlakuan Tante Hendra itu.
"Hen, siapa tau aja pengen ngerasain yang Virgin." ucap tantenya lagi. Hendra pun berhenti dan menggenggam erat tangannya.
Hap.
Shaina dengan cepat bisa menguasai keadaan. Dia merangkul pinggang suaminya.
"Mas, ayo! ini hari bahagia kita," Shaina pun dengan keras menarik suaminya agar berjalan maju meninggalkan tempat itu.
namun
Bruk.
__ADS_1
Tiba tiba tubuh Hendra merosot jatuh sambil memegangi kepalanya.
BERSAMBUNG....