Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Sesakit ini


__ADS_3

Hendra terjatuh dan merasakan nyeri yang begitu kuat di bagian kepala belakangnya.


"Mas, ada apa? apanya yang sakit Mas?" Shaina dan orang orang pun bergerombol mendekati pasangan penganten itu.


"Pak, tolong angkat ke kamar ya?" ucap Ny.Linggar yang sudah mulai meneteskan air matanya. dia menyuruh paman satpam yang mengangkat Hendra.


"Ada apa mah?" Pak Linggar pramana pun datang mendekat.


"Oh, Hendra pah hik hik hik, tolong jangan sekarang, tolong." Ucap Ny.Linggar.


"Mah tenang dulu." Ucap Shaina.


Mereka pun membawa masuk Hendra ke kamar penganten.


"Shain, sakit, kepalaku sakit, mengapa sesakit ini?" Jerit Hendra, dia terus memegangi kepalanya, Shaina yang melihat itu hanya mampu menangis tanpa menjawab.


"Mas, sabar ya, Mah apa obat Mas Hen masih ada?" Tanya Shain.


"Ada di kamarnya nak, ayo!"


Hendra pun di baringkan di ranjang penganten yang sudah bertabur bunga.


"Mas ini minum dulu." Shaina pun segera membukakan obat Hendra dan memasukkannya dalam mulut suaminya.


"Shain, sebenarnya aku sakit apa? kok sakitnya begini amat," Tanya Hendra. Shaina bingung harus jawab apa.


"Mas, itu jahitanmu belum sembuh, mungkin tadi ketarik atau gimana." sahut Shaina menenangkan. Tak terasa ada butiran bening yang hampir jatuh di ujung mata Shaina.


"Kamu jangan ke mana mana ya, biar tidur di sini saja, makan biar Bibi yang bawain." Ny.Linggar yang mendengar ucapan Hendra pun keluar dan menangis tersedu sedu di balik pintu kamarnya, dia terduduk dan memegangi dadanya.


"Mbak, ada apa? kok nangis, Hendra kenapa?" Tante Hendra yang tadi sempat bersahut sahutan dengan Hendra pun mendekat.


"Kamu...kamu aku mohon, silahkan kamu pergi dari rumahku ini, kamu telah menyebabkan anakku begini heh, pergi!" Pinta Nyi.Linggar pelan.


"Mbak, kenapa kasar sekali, aku ini kakak iparmu lo? walau aku masih muda darimu."


"Pergi!"


Buk buk buk


Ny.Linggar memukul mukul kaka iparnya itu dan mendorongnya hingga wanita itu terjatuh.


"Mah, ada apa? hentikan! mamah." Shaina yang mendengar sedikit teriakan tante itu pun keluar dan melerai pertengkaran dua wanita itu.


"Dasar janda kegatelan, cih, bisa bisanya Hendra tergoda dengan wanita sepertimu, wanita kampungan." Tante Hendra pun bangun dan ngoceh sambil berjalan meninggalkan rumah tersebut.


"Shain, jangan dengarkan dia. Tolong jaga Hendra ya?" Pinta Ny.Linggar.


"Mah, insyaa Allah, aku tidak akan mendengarkan orang lain, aku dan Mas Hendra sekarang satu, apa pun yang terjadi, aku siap menjadi bagian dari semuanya Mah, aku akan berusaha memberikan yang terbaik." balas Shaina.


"Setelah Hendra membaik, aku ingin membawa kau berobat ke dokter terhebat, agar kau bisa hamil cepat, aku takut kehilangan waktuku, sedang Hendra adalah pewaris tunggal perusahaan kami Nak."


Shaina hanya diam, dia mengerti kegelisahan mamah Hendra saat ini.


*

__ADS_1


*


*


"Uaaaah, Bu...apa ada lauk, aku lapar." Ucap Fathir yang masih males malesan membuka matanya.


jam menunjukkan jam 2 siang.


"Bos sudah bangun! ayo makan di dapur, da lauk dan,nasi kok." Ajak Budi.


"Hah? kau kenapa ada di rumaku?


Fathir pun memindai sekelilingnya."


"Di mana ini?" Fathir akhirnya sadar kalau itu bukan rumahnya.


"Ini rumah Shaina Tuan, tadi pagi Tuan mabuk dan datang ke sini."


"Apa? Oooh sial, mana Shaina, jam nerapa sekarang?"


"Jam 2 Bos Tuan," Budi kadang plin plan manggil Bos atau Tuan.


"Ooh(ngucek rambut kaya cucian), apa kau tau Shaina pergi ke mana heh?" Tanya Fathir.


"Tidak Tuan, mereka tampak rapi dan terburu buru."


"Sial. Mengapa aku sampai mabok."


Ternyata tadi malam pak Manae mengatakan kalau rekan bisnisnya bernama Hendra akan menikah dengan karyawannya yang bernama Shaina. Dari situlah Fathir tau, tadi malam dia sangat Frustasi, dan sudah nelpon Ummi, dan berbicara banyak dengan Shaina, namun Shaina tetap menolak untuk dinikahi. Hingga Fathir Frustasi dan mabok semabok maboknya, pagi itu dia juga di antar taksi menuju rumah shaina.


Dreeeet dreeet dreeet


'Assalamualaiku, Mi, kalian di mana?'


'Fathir, kau sudah sadar? Nak, sekarang Shaina dan Hendra sudah menikah, tolong kau jangan lagi berharap pada Shaina."


'Mi, mengapa kalian tega padaku Mi? aku sudah menunggu selama ini mencari kalian, kenapa ketika kita sudah bertemu, harus terjadi hal seperti ini Mi? kenapa?'


'Nak, tolong, ini takdir dari Allah, kau harus berusaha ikhlas.'


'Mi aku merasa sudah musnah, aku tidak bisa Mi, kalau begini, aku mau Zahwa, Zahwa adalah anakku, darah dagingku, ku mohon Mi, izinkan aku mengambil Zahwa.'


'Nanti kita bicarakan, sekarang lagi sibuk, maaf ya!'


Tuuut


Bruk


Brak


Prang


Fathir pun melempar Hpnya hingga hancur berkeping keping. Budi yang melihat kejadian tersebut pun terkejut dan menyamping ke dinding sambil berdiri dan menunduk.


"Budi, tolong ambilkan kartu memorynya juga kartu lainnya." Fathir memerintah Budi mengambil kartunya, padahal kan udah di buang.

__ADS_1


"Iya Bos" Budi pun mengambil Kepingan Hp dan mencari kartu yang di maksud."


"Ini di apakan Bos?" Maksud Budi, kepingan kepingan itu.


"Tolong bersihkan dan buang! oh iya, besok temui aku di Toko Manae grop di kota, kau akan ku beri pekerjaan. Dan juga, bujuk Shaina tetap tinggal di rumah itu, kalau tidak mau, bilang padanya, aku akan merebut Zahwa bagaimanapun caranya." Ancamnya.


"Baik Bos, terimakasih." ucap Budi sopan.


Fathir pun melangkah menuju jalanan yang tak begitu jauh dari rumah Shaina.


"Bu inah, apa ada taksi lewat sini?" tanya Fathir.


"Maaf Tuan, di sini cuma pinggiran kota, mana ada taksi, kenapa tidak minta antar Budi saja?" Ucap bu inah heran.


"Oh iya, Bu, tolong telpon Budi." ujar Fathir


"Kenapa tidak tuan saja?" Bikin Bu Inah tambah bingung.


"Hpku rusak Bu." Ya iyalah rusak wong di lempar, ckckckck.pasti Jp mahal, kan orang kayaaaaaah


"Ooh." Bu inah pun mengambil Hpnya dan nelpon keponakannya itu. selang 5 menit Budi pun datang.


"Antar aku ke kota?" Ucap Fathir sambil mengunyah cemilan.


"Ke kota? pakai apa?" Budi jadi heran.


"Ya pakai Motormu? masa jalan kaki? ayo!" Fathir berdiri dan mendesak Budi.


"Tapi Tuan..anu." belum sempat Budi ngomong.


"Ayo cepeten, nggak usah banyak bicara."


"I...iya..." Budi pun mengambil motor bututnya.


"Apa ini?" tunjuk Fathir ke motor Budi.


"Cuma ini motor saya Tuan, kerjaan saja tidak punya, apalagi motor bagus."


"Apa ini bisa jalan sampai kota? atau mungkin dekat showroom atau dealer gitu?" Tanya Fathir, dia tampak meragukan dengan kondisi motor yang sangat butut, bahkan platnya saja tidak punya.


"Kalau cuma Satu jam perjalanan bisa Tuan."


"Ayo!"


Mereka berangkat dengan motor butut itu.


diperjalanan yang sunyi mereka di hadang oleh beberapa orang preman.


Fathir yang males berurusan dengan mereka pun turun dari motor.


"Budi tanyain, apa mau mereka?" Budi tampak gemetar.


"Takut Bos."


"Jangan panggil aku Bos, nanti di kira banyak uang lagi, ayo!"

__ADS_1


"I...iya."


BERSAMBUNG....


__ADS_2