Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Melamar Tambatan Hati


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.


"Tuan muda Rangga...hati hati jatuh!"


Teriak Bibi pada bocah tampan yang berlarian di area perkantoran besar.


"Helo sayaaaaang, mau makan siang? bentar lagi yaaaaa!"


Shaina pun menyongsong bocah tampan itu dan membawanya ke pelukan nya, ternyata itu adalah anaknya dan Hendra.


"Ranggaaaa, sini ikut kakek!"


Pak Linggar pun menggendong bocah tampan itu di pelukannya.


"Akkeeek."


Rangga pun memeluk Kakeknya, bocah yang kini berusia 2 tahun itu sangat lucu.


"Pah, besok Saya ada meeting dengan klien di perusahaan Manae grop. Kalau papah mau ikut, kita bisa pergi sama sama."


Ajak Shaina pada mertuanya.


"Kau saja yang tangani, aku sudah tua, tidak pantas lagi menangani yang begituan, aku sangat percaya padamu, meski kau berikan perusahaan ini untuk orang lain, aku pun tak keberatan."


Ucap Mertuanya.


"Baik pah, aku sangat berterimakasih, karena Papah sangat mempercayakan semuanya kepadaku."


"Mammam Maaaah." Ucap Rangga sambil menjulurkan ke dua tangannya pada Shaina.


"Baik sayang.ayo!"


Shaina pun mengajak Bibi sitter dan mertuanya untuk makan di luar.


Sepeninggalan mereka dari kantor.


"Nona Shaina sangat beruntung, Mertuanya sangat baik, dan Nona Shaina juga sangat menghormati."


"Iya, walau aku tidak sempat melihat mendiang suaminya, karena aku orang baru, tapi aku yakin, suaminya juga orang yang sangat baik."


"Mungkin."


...


...


...

__ADS_1


Pagi yang cerah. Saatnya Shaina rapat di perusahaan Manae grop.


"Shaina? kau sudah datang?"


Zeze menyambut hangat Shaina yang baru datang.


"Hai Ceo muda, waaah kau sangat anggun hari ini, apa kau sudah punya tambatan hati?"


Seorang pengusaha yang juga baru datang manyapa Shaina dan menggodanya. Sementara Fathir yang memang sejak tadi duduk di kursi belakang tampak gelisah menatap Shaina dan pembisnis itu.


"Ah Pak Wawan bisa saja. Oh iya, jam berapa kita mulai rapat?"


Shaina coba mengalihkan perhatian, namun ke anggunan nya kali ini telah mengalahkan segalanya semua rekan Bisnisnya itu menatap takjub kecantikan Shaina yang natural.


"Asdalamualaikum, Shaina.."


Ternyata Mita juga datang istri dari mendiang Izzam Adinatha.


"Wa alaikum salam mbak emch.".Shaina dan Mita pun cipika cipiki.


"Aku juga mau dooong!" ucap salah seorang rekan kerja mereka yang berparas tampan.


"Kalau kau ingin seperti itu, kau harus menghalalkannya dulu, hahaha."


Ucap pak Wawan. Fathir semakin tidak karuan.


Semua pembisnis itu tertuju ke pintu ruangan, tampak Pak Manae yang sudah keriput memasuki ruangan dengan menggunakan tongkat. Mereka semua menuju meja masing masing, dan kebetulan pak Wawan ada di samping Shaina. Sedang Fathir berada di sebrang Shaina.


"Aku ingin mengumumkan sesuatu, karena usiaku sudah terlalu tua untuk membimbing Bisnis ini. Maka ku ingin menyerahkan wewenangku kepada menantu dan juga cucu satu satunya." Ucap Pak Manae.


"Semangat Ceo Zeze..."


Ucap Wawan yang memang dia paling lincah dan paling riang di antara yang lainnya.


Setelah berbagai macam di bahas, akhirnya mereka pun selesai dengan penyerahan jabatan Zeze di angkat sebagai Ceo baru.


"Selamat ya...."


Semua orang mengucapkan selamat. Sementara Fathir masih terlihat duduk di kursinya.


Ketika Fathir berdiri dan ingin keluar.


Hap


Tangan Fathir di raih oleh seseorang. Namun terasa kasar. Ada apa ya? Fathir pun menoleh ke tangannya. Ternyata orang itu menggunakan kain untuk melapis sentuhan kulitnya dan kulit Fathir.


"Kau?"

__ADS_1


Zeze yang memperhatikan itu jadi terkejut dan tak menyangka.


"Maukah kau menikah denganku?"


Shaina yang dulu slalu menolak Fathir kini malah agresif sendiri.


"Yaaaaah...kalah cepat deh aku."


Ucap Wawan yang memang slalu menggoda Shaina dari tadi.


"Terima terima terima..."


Teriak Zeze. dan di ikuti oleh yang lainnya. Fathir takjub, kakinya kaku, mematung, membisu, dan menuli😄 Namun tidak membuta ya, Matanya tak lepas menatap Shaina tak percaya. Shaina masih menunggu, semenit 2 menit 5 menit.


"Baiklah, berarti kau menolakku kan?"


Ucap Shaina lagi.


Hap


Tiba tiba Fathir memeluk Shaina.


"Tuan!"


Pekik Shaina kaget.


Tampak Fathir menangis sambil memeluk Shaina.


TAMAT


Akan ada ektra part ya.


karya Nana Shin.


#Wanita bercadar biru


#Cinta dalam do'a


#Menikahi selingkuhan papah(rencananya)


#Pembunuh bayaran palsu...


Salam hangat buat my readers semua


terimakasih atas dukungan kalian.


yang mau ke banjarmasin, aku tunggu lho.

__ADS_1


__ADS_2