Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Cemburu yang tersimpan


__ADS_3

Dag dig dug door


Tatapan mata Shaina bertemu dengan tatapan mata Fathir, Fathir yang sedang naik eskalator dan Shaina yang sedang turun.


Beberapa saat mereka hanya saling memandang, hingga akhirnya Fathir tersenyum manis, sangat manis ke arah Shaina. Barulah Shaina sadar dari ketersimaannya.


"Ya Allah, ampunkan hamba."


Gumam Shaina.


Shaina segera memalingkan wajahnya merasa malu.


Ish...kenapa hati ini bergetar sangat kuat. Ya allah tolong ampunkan hamba.


Lirih Shaina.


Sementara Fathir sudah sampai di ruangan Zeze.


Tok tok tok


"Masuk!" Teriak Zeze dari dalam.


"Hey..."


Bruk.


Fathir memasuki ruangan Zeze dengan langkah gontai, namun wajahnya terlihat beseri.


"Ada apa? apa kau sudah menemui Shaina? kenapa kau tidak ke mari dari tadi?"


Pertanyaan pertanyaan yang sepertinya tidak ingin di jawab Fathir, karena dia hanya diam, namun bibirnya terlihat tersenyum, ternyata dia melamun, menatap kosong ke depan.


"Bruk, hey lelaki misterius, bisa kau jawab aku?"


Ketika Zeze menepuk mejanya kasar, niatnya bukan marah, namun ingin membangunkan Fathir dari lamunannya.

__ADS_1


"Ooh...hahahaha."


Fathir terbangun dari Halunya.


"Kau ini aneh tau nggak? orangnya sudsh di depan mata, malau kau entah di mana, giliran orangnya sudah ada, malah di biarkan begitu saja."


pZeze kesel karena Fathir tidak menemui Shaina, padahal dia sudah memberi kesempatan untuknya.


"Aku takut Ze, kau kan tau? kalau aku sudah di tolak berulang kali oleh Shaina." Ucap Fathir sendu.


"Itu dulu, saat dia ada Hendra. lha... sekarang kan beda Thir, kau ini buang buang kesempatan aja."


Zeze benar benar terlihat kesel dengan olah Fathir.


"Aku takut, tetap saja aku merasa takut, hatiku ini tak sekuat baja Ze. Aku juga rapuh, bisa bisa aku kena tekanan mental kalau terus terusan di tolak." Ucap Fathir.


"Baiklah, terserah kau, aku tidak bisa lagi membantumu." Zeze menyerah.


"Ze, aku hanya mampu berdoa untuk itu, aku slalu berdoa, agar aku memang akan di jodohkan Author sama Shaina😜😜😜😜."


Karena sekarang sudah jam 12 siang. saatnya makan siang.


"Makan siang? heh, makan pagi saja aku beluum, apalagi makan siang." Jawab Fathir tersenyum sinis.


"Ayo! biar aku traktir." Zeze pun berdiri di ikuti Fathir.


Mereka sebenarnya adalah pasangan serasi, namun persahabatan mereka murni tanpa ada rasa yang tersimpan antara keduanya.


Sesampainya di kantin mereka pun memesan makanan kesukaan masing masing.


"Thir...jadi kau benar benar hanya menunggu Shaina saja? apa kau tidak ingin melamarnya?"


Zeze masih penasaran dengan kelakuan Fathir.


"Ho oh. Aku akan selalu menunggunya seperti yang ku lakukan sebelum ini." Jawabnya.

__ADS_1


"Heh...lelaki aneh, bagaimana kalau dia di lamar oleh orang lain? dia kan cantik dan menarik! di tambah lagi, sekarang dia adalah pemilik perusaan Linggar grup, pasti banyak pembisnis yang akan menjodohkannya."


Zeze coba menakuti Fathir, dan benar saja kini wajah Fathir berubah.


"Ze, berhenti menakutiku, tanpa kau takuti aku sudah takut tau?" Ucap Fathir


"Hahahaha..."


Mereka akhirnya selesai makan, Fathir pun bermaksud pamit.


"Aku akan pulang ke rumah ibuku sore ini." ucap Fathir


"Eh tunggu, ayo kita belanja dulu! aku ingin membelikan ibumu sesuatu."


Ucap Zeze.


Mereka pun pergi ke sebuah mall yang tak terlalu besar. Sesampainya di sana mereka berjalan sejajar, walau pun tak berpegangan tangan, namun mereka seperti pasangan romantis.


Di kejauhan...


"Bukankah itu Mabk Zeze dan Fathir?"


Ternyata Shaina baru saja selesai makan di Resto yang ada di mall itu.


"Mereka sangat serasi."


Gumamnya lagi. Namun entah mengapa ada sisi hati yang terasa sakit.


Sementara Zeze dan Fathir tidak menyadari itu. Shaina pun membayar makannya dan berjalan meninggalkan area mall tersebut.


Hap


Ketika tangannya di cengkram oleh seseorang.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2