Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Mulai Melupakan sekelilingnya


__ADS_3

Shaina dan teman sekantornya masih asyik makan makan. Namun Shaina terlihat sangat Gelisah.


"Ada apa Bos? kok terlihat sayu begitu, seperti ada yang dipikirkan?" Ucap Luri sekretaris pribadinya sekaligus teman akrab yang slalu membantunya.


"Nggak Mbak, aku kangen rumah aja." bohongnya, padahal dia ragu antara mau menemui Fathir atau tidak, sudah 5 bulan tekhir ini Fathir tidak lagi meminta bertemu Zahwa, dia hanya sesekali nelpon dan rutin mengirim uang bulanan, walau tidak pernah di pakai Shaina. karena itu akan dia tabung untuk Zahwa besar nanti.


"Mbak, punya mantan nggak?" Tiba tiba Shaina menanyakan itu.


"Ya punya lah, banyak malahan, aneh, kok nanya gitu?ada apa?"


"Kalau tiba tiba Mbak ketemu mantan! gimana reaksi Mbak?" Tanya Shaina.


"Tergantung mantannya, kalau dulu berakhir dia khianati, ya aku koyo koyoin, haha, kalau mantannya baik dan aku yang ninggalin, ya aku sapa biasa aja, atau mungkin perlu aku minta maaf duluan."


"Begitu ya?" Shaina makin bingung.


Terlihat Fathir dan anaknya sudah selesai makan dan akan meninggalkan restauran itu.


"Mbak, kalau misalnya tidak pernah pacaran, namun memendam rasa bagaimana?"


"Apaan sih Bos, kok aneh gitu?"


"Jawab aja Mbak!"


"Ya Temuin saja, dia juga nggak tau kalau kita suka kan, beres."


Tap


Tap


Tap


"Bos mau ke mana? ini makanannya belum selesai!"


Shaina mengejar Fathir yang keluar bersama baby sutter dan Anaknya juga sopir.


"Mas Fathir!" Akhirnya Shaina sampai tepat di belakang Fathir.


Deg


Fathir sangat kenal suara itu, suara wanita yang selama ini bersemayam di hatinya.


"Shaina."


Mengapa tiba tiba air mata Fathir jatuh tak terkontrol ya? dia menyeka air matanya, lalu berpaling menghadap Shaina.


"Shaina? apa kabar?"


"Baik Mas, Mas dan Mbak Salma apa kabar?"


"Bi, tolong bawa Yola duluan ya!"


"Iya Tuan."


"Baik, maaf, beberapa bulan ini aku tidak menemui Zahwa lagj, karena ada kesibukan di luar kota." Ucapnya, lirih.


"Nggak papa Mas, Salma mana? kok nggak bersama kalian, selamat ya, udah punya baby, dia pasi cantik seperti Salma." Ucap Shaina, membuat air mata Fathir hampir keluar.


"Dia istirahat di rumah."


Terakhirnya.


Lirih hati Fathir.


"Oh iya, maaf kami terburu buru, nanti kalau ada waktu kami akan bermain lagi ke rumahmu ya! kalau Hendra apa kabarnya sekarang?"


"Alhamdulillah sehat, cuma ingatannya aja udah sering pudar, oh baiklah, silahkan, aku mohon maaf, kalau aku banyak salah sama Mas, salam buat Salma ya, assalamualaikum."


"Wa alaikum salam." Fathir pun berbalik menuju mobil.


Shaina, kalau memang takdir mempertemukan kita, aku akan datang untuk melamarmu nanti.


Lirih bathinnya.


Mereka pun menuju tempat masing masing.


"Siapa?" Rupanya Luri tidak mengenal Fathir.


"Ayah Zahwa."

__ADS_1


"Ha? benarkah? mengapa tidak kau kenalkan aku dengan lelaki tampan itu?" Luri sangat bersemangat saat mendengar nama Fathir.


"Dari mana Mbak tau kalau Fathir tampan


"Dari karyawan yang pernah melihatnya, katanya, tampannya itu melebihi Hendra, apa benar?"


"Mbak, bagiku, suamiku itu udah paling tampan, aku nggak mau muji suami orang, nanti dosa mbak."


"Aduuuh, iya deh, ustadzah, haha." Mereka pun tertawa bersama dan melanjutkan makan mereka.


...


...


...


"Bos, sudah ketemu orang yang sengaja ingin mencelakai Bos, namun tak di sangka malah Nyonya Besar yang kena."


Ucap security


"Panggil dia ke mari!"


"Siap."


...


Ceklek


"Ini Bos!"


"Sisil dan Mirna? mengapa kalian lakukan itu.


" Maaf Bos, aku hanya di suruh."


Sisil tidak mau mengakui kekalahan, dia hanya diam seribu bahasa dengan hati yang sangat kesal.


"Kemasi barang barang kalian, kalian akan aku pindah ke cabang, kalau kalian masih berulah, maka kalian akan aku pecat secara tidak hormat, silahkan keluar."


Ceklek


Mereka keluar dengan wajah masam.


"Bos, kenapa tidak di pecat saja?" Tanya Luri.


"Hebat kamu Bos, tapi kalau mertuamu tau, pasti dia akan memecatnya."


"Jangan sampai dia tau, hihi, ya udah Mbak, aku mau pulang nih, Obang pasti nanyain aku terus. sekarang sakitnya udah parah, aku juga udah lepas KB, mudahan Allah masih mempercayakan titipannya padaku.aamiin."


"Aamiin."


Shaina pun pulang dengan wajah berseri, entah akhir akhir ini kebahagiaannya tumbuh begitu saja.


...


...


...


"Assalamualaikum, Ummi? Bang?"


"Sayang udah pulang? baru jam 4 tuh."


"Aku kangen Obang, sini!" Shaina pun bergelayutan di bahu Hendra mesra.


"Wangi sekali sayang, pakai parfum apa?"


Setiap hari kalau Shaina datang ke rumah, dia akan memakai parfum dulu depan pintu.


"Zahwa mana Bang?"


"Tadi ada kok, di dapur atau di kamar kali ya..."


Padahal tadi Ummi udah bilang, kalau mereka akan ke pengajian mingguan.


"Haus, minum dulu."


"Sini biar Obang ambilin."


Tap tap tap

__ADS_1


Shaina mengikuti di belakang.


"Ini sayang."


Shaina pun minum.


"Bang, kita liburan yuk!"


"Ke mana?"


"Sembarang, ke amerika? jepang? korea? atau ke mana aja deh."


"Singapore bagaimana?"


"Obang mau singapore? oke deal, besok lusa ya, aku mau mandi dulu."


"Mandi bareng ya?"


Padahal rambut Hendra udah basah, entah berapa kali dia mandi hari ini.


"Oke!"


Mereka pun mandi bersama.


Obang, aku ingin menemani hari hari indah bersamamu, walau suatu saat, kau tak lagi mengenaliku, aku ikhlas.


Lirih Shaina.


"Kita belanja yuk?" Ajak Shaina.


"Baik! ayo? Ummi juga belum balik."


Mereka menuju Mini market terdekat.


Memilih barang yang di perlukan, Hendrz memikih barang sangat banyak, bahkan troly kali ini sudah penuh.


"Kamu belanja apa?" Tanya Hendra pada Shaina, karena Shaina belum mengambil apa pun.


"Apa yang Obang beli, itu juga ounya aku kan?"


Mereka pun ke kasir dan membayar.


"Bang, bida ambilkan air minum nggak, aus nih."


Itu hanya alasan Shaina.


Hendra lun mencsri lemari es di mini market itu.


"Mbak(kasir)kalau ada barang yang sama, tolong sisihkan ya alias di tinggal, karena aku sedang sakit, kadang aku lupa kalau barang itu udah aku ambil apa belum."


Ucap Shaina, karena dia yakin Hendra pasti mengambil barang yang sama.


"Baik Mbak." Kasir itu menatap Shaina heran dan meng iyakan saja.


Setelah Hendra datang dengan membawa 3 botol minuman, mereka membayar dan pergi.


"Aneh wanita tadi" Ucap kasir.


"Ada apa, ini barang kok banyak banget? punya siapa?"


"Wanita tadi bilang, kalau dia sedang sakit dan sedikit pelupa, dia mengambil barang yang sama sebanyak ini." ucap kasir lagi.


"Lho, aku liat tadi bukan yang istri kok yang ngambil,banyak, aku perhati in yang suami yang terus memasukkan barang dalam keranjang.",Ucap temannya itu.


"Masa? Astagfirullah, aku sudah berprasangka tidak baik pada wanita itu, aku kira dia yang kurang ingatan, mungkin dia lagi menutupi kekurangan suaminya."


"Suaminya tampan sekali, kok di bilang kurang?" Sahabatnya tak paham.


"Nggak papa, dia juga memberikanku tip, ini 2 lembar uang warna merah, ayo kita bereskan ini, ini selembar untukmu, upah buat beres beres."


...


...


...


"Bang, senang?" Semua belanjaan yang mereka beli hanya keperluan suaminya.


"Senang dong sayang emcah," Hendra mengecup tangan istrinya.

__ADS_1


Shaina menyetir mobil pelan. karena Hendra juga kadang lupa jalan. jadi dia ingin Hendra menikmati pemandangan di sekekilingnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2