Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Gafoks


__ADS_3

Saat Yola dan Zahwa bermain di halaman.


"Nak sini bentar! tolong nenek doong. Kaki Nene sakit nih, nggak bisa berdiri"


Luna yang sengaja terduduk di depan pagar rumah melambai ke arah Zahwa dan Yola. Karena Zahwa anak yang paling penyayang dan perhatian dia hanya bocah polos yang tak tega melihat orang lain sakit, dia pun mendekati Luna.


"Kak, jangan!"


Larangan Yola saat itu tidak di dengarnya, Yola sering di tinggal Fathir kerja, dan dia juga sering di wanti wanti, jangan mendekati orang yang tidak di kenal. Jadi Yola hanya mematung di tempatnya saat Zahwa di culik.


Hap


Zahwa pun di gendong dan langsung di bekap.


Kediaman Linggar terlihat sepi, Fathir masih belum pulang, Shaina terus memeluki baju Zahwa, hatinya terasa hancur membayangkan anak itu sekarang entah di mana.


"Bagaimana kalau dia laper? bagaimana kalau dia mau tidur?"


Zahwa pemalu, dia kalau makan slalu minta sama mamanya, walau pun ada Bibi kecuali di tawarin, kalau mau tidur di belai sama mama seperti bayi.


"Mama...Lapeeeer." Rengek Yola.


"Oh, baik sayang." Shaina pun mengambilkan makanan ke dapur karena Bibi sedang ke pasar. Saat mengambil nasi.


"Oooh, treeeeng."


Dia pun menghempaskan sendok ke piring dan berhenti mengambilkan lauk, membuat Yola takut. Akhirnya tanpa sadar Shaina tidak jadi memberi makan Yola, dia hanya duduk di kursi ruang makan sambil terus menangis mengingat Zahwa. Yola hanya menatap mama nya dengan perasaan lapar.


"Nyonya, Tuan muda Rangga mencari Nyonya." Ucap Rara yang datang dari kamar atas. karena Rangga memang suka bermain di ruangan bermain yang ada di lantai 2.


"Oh baiklah."


Shaina lupa lagi, kalau Yola sedang kelaparan. Yola hanya menatap Shaina yang pergi menjemput Rangga.


"Sayang...ada apa?"


Untung Rara sigap dan mendekati Yola.


"Laper Te(Tante)"


Ucap Yola dengan nada lemes.


"Ooh, baiklah, biar Te Rara ambilin, ini punya siapa?" Rara menunjuk piring yang sudah berisi nasi.


"Tadi Mama pengen ngambilin Yola makan, namun tiba tiba mama menangis." jawabnya.


Rara pun mengganti nasi yang sudah dingin dengan nasi baru, dan mengambilkan ayam Bistik kesukaannya. Yola terlihat sangat lahap. Rara menatap anak itu sedih.


"Sebenarnya Nyona tidak pernah membedakan mu dengan anaknya yang lain, cuma kadang tanpa sadar Nyonya melupakanmu."


Gumam Rara pelan.

__ADS_1


"Mau lagi?" Tanya Rara.


"Udah Te, kenyang nih, terimakasih ya."


Ke 3 Bocil itu memang sudah di ajarkan untuk slalu berterimakasih kalau mendapatkan bantuan dari orang lain.


"Mama..." Rangga merengek dan minta di gendong sama Mamanya.


"Kenapa sayang," Cecer Shaina


"Kak Zahwa mana? aku bosen main sendiri, aku janji tidak akan sakitin kak Zahwa lagi deh."


Ucapnya. Emang Rangga sering sekali nyakitin Zahwa kalau dia lagi kesal, seperti tadi, dia menjambak rambut kakaknya. Namun Zahwa tidak pernah melawan, dia hanya menangis kalau di sakitin adiknya itu.


"Hik hik hik...Zahwaaaa."


Shaina kembali menangis tubuhnya bergetar sambil menggendong Rangga turun tangga.


"Mama...kok nangis? mama sangat marah sama Rangga ya? Rangga benar benar janji nggak bekalan nyakitin kaka lagi, janji, suer!" Rangga memperlihatkan 2 jarinya untuk menekankan ucapannya.


"Iya...Rangga harus janji, kalau ketemu kak Zahwa Rangga harus minta maaf lagi, dan peluk Kakak ya?"


Ucap Shaina.


Ceklek


Shaina dan Rangga sudah memasuki kamar bawah.


"Kak lagi ikut Papa. Kamu tidur siang dulu ya?" Shaina pun membaringkan Rangga di ranjang dan menyelimutinya, juga menghidupkan AC kamar.


......................


Malam semakin larut, namun Zahwa masih sedikit terisak, sementara Laila dan Luna sudah mendengkur di dalam ruangan berukuran 4x4 itu hanya ada kipas angin dan lampu tidur.


"Mama...Zahwa takut ma, Zahwa lapeeeeer."


Isakan yang memilukan, perutnya pun kini keroncongan karena dia nggak mau di kasih makan Luna atau pun Laila. Zahwa berusaha mencari kunci kamar, namun tidak menemukannya.


"Mamaa...hik hik hik." Suara Zahwa sedikit mengeras.


"Ooooh, berisik amat loe, ada apa? ngantuk tau." Bentak Laila.


Jam sudah jam 10 malam. Seketika Zahwa pun terdiam walau sesekali masih terisak pelan.


hingga akhirnya dia bisa tertidur di jam 1 malam.


"Hey...bangun! ayo mandi, lalu kita makan." Ucap Laila pada Zahwa.


"Udah pagi ma...Zahwa belum sholat kok makan?" Ucap Zahwa yang belum sadar dia ada di mana. Seketika dia membuka mata, dia pun kembali syok dan ketakutan.


"Ayo cuci muka, lalu kita makan!",Ajak Laila lagi, Zahwa sangat lapar, dia ragu ragu untuk bangun, tapi tubuhnya juga mulai panas karena kehabisan tenaga.

__ADS_1


"Aku belum sholat Te." Ucap Zahwa memberanikan diri untuk ngomong.


"Alaaaaah, kamu masih kecil juga, ayo!"


Zahwa yang terbiasa bangun pagi dan sholat subuh bersama Mamanya, dia merasa tidak enak kalau harus meninggalkan itu.


"Allah, ampuni Zahwa ya Allah."


Lirihnya. Dia pun berjalan keluar mengiringi Laila.


"Eeeh sayang udah bangun? ayo makan dulu!" Ajak Luna, dia memang pandai bermanis manis walau sebenarnya hatinya busuk.


"Aku pengen Mama, antarin aku pulang nek."


Rengeknya.


"Lho? kok pulang? nenek masih rindu dama kamu, nanti kalau kamu pulang, nenek nggak bisa lagi nemuin kamu, nenek ini sedang berkelahi sama mamamu, kamu tau kan kalau orang lagi berkelahi?"


Tanya Luna.


"Iya, ne, pasti nggak tegur sapa kan?" jawab Zahwa polos.


"Naaah itu dia."


"Laila, kayaknya pagi tadi aku melihat ada orang mondar mandir di warung sebelah, untung aku pakai selendang, mungkin di kira aku orang kampung biasa, kita harus segera pergi ari sini." Ucap Luna.


Pasti Fathir dan anak buahnya sudah meng endus keberadaan mereka lewat telpon tadi malam.


"Ayo sayang, makan yang banyak, kita akan berangkat habis makan."


"Mau nemuin Mama ya?"


Tanya Zahwa.


"Kita belanja dulu, nanti baru nemuin Mama ya?" Bohong Luna.


Zahwa pun bersemangat makan, bahkan dia nambah karena semalam seharian tidak makan. Selesai makan mereka pun beres beres dan memesan taksi.


Terlihat mereka memasuki taksi. Dan melaju di kecepatan sedang karena masih banyak anak anak yang bermain. Zahwa yang di letakkan di tengah mereka pun terlihat tenang, karena percaya akan di antar pada mamanya.


Tiba tiba


"Papaaa..."


Zahwa spontan berteriak, karena melihat papanya lagi minum di warung nasi.


Fathir yang merasa mendengar suara Zahwa pun spontak batuk dan menoleh.


BERSAMBUNG....


Yang belum mampir di wanita bercadar biru,

__ADS_1


udah Tamat tuh


__ADS_2