Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Zahwa di rebut Fathir


__ADS_3

"Pak, maaf aku izin beberapa hari ini nggak masuk kerja, ada urusan yang perlu ku urus di luar kota." Fathir izin sama pak Manae selaku pemilik perusahaan Fathir bekerja selama ini.


"Keluar kota? mau ke mana kau Mon? kalau ke kota Z di sana ada juga perusahaan kita, sekalian aja kau mampir bagaimana?" Ucap pak Manae.


"Oh iya, bisa kok pak, biar nggak buang buang waktu dan gajih tetap jalan hahahaha." Tawanya.


Zeze yang mendengar pun ikut tertawa.


"Apa kau masih mencari wanita itu?" Tanya Zeze.


"Iya, doain aku ya, agar aku bisa meluluhkan hatinya dan bercerai dengan suaminya itu."


"Apa? dia udah menikah? gila loe Mon? ngapain ngejar cewe itu kalau dia udah nikah!? mending cari yang lain." ucap Zeze yang mendengar cerita Fathir.


"Ze namaku sekarang Fathir, bukan Damon lagi, aku memandang Zahwa anakku, saat aku melihat putriku itu, aku sangat terpesona, bahkan aku jatuh cinta padanya, saaaangat sangat jatuh cinta, pengen ku nikahi saja tu bayi hahahaha." Ucap Fathir sambil tertawa lebar.


"Gila loe ya, putri sendiri aja mau di nikahin, hahaha." Zeze pun ikut tertawa.


"Baiklah, aku pamit, pak Manae terimakasih banyak, alamat pabrik nanti biar aku tanya sama pak eric selaku yang tau segala tentang perusahaan." ucap Fathir.


"Silahkan, hati hati."


Fathir pun pergi mengendarai mobil sportnya yang baru di beli beberapa hari lalu, rencananya akan dia hadiahkan buat Zahwa, namun karena hati Fathir sedang remuk, jadi akhirnya dia pakai sendiri.


*


*


*


Fathir



"Bos, mari!"


Fathir pun di sambut oleh salman.

__ADS_1


"Apa kau tidak salah orang?" Fathir pun memakai kacamata dan jaketnya agar tidak di kenali.


"Mungkin tidak Bos." Salman pun mengekori Bosnya menaiki lift.


"Pertama tama aku mau ada meja di halaman kamarku dan juga aku sudah membeli CCTV untuk memantau mereka keluar masuk Hotel ini.


Karena Fathir membayar lebih, maneger Hotel pun mengizinkannya untuk meletakkan meja dan bunga juga CCTV yang tersembunyi.


Di kamar Shaina.


"Bang, aku mau cemilan, laper tapi males makan nasi."


"Ayo kita cari cemilan ke bawah," Mereka pun keluar dan turun menggunakan Lift.


Fathir hanya bisa mengepalkan genggamannya karena merasa marah dan cemburu melihat pemandangan itu.


Ceklek


Tap


Tap


Tap


Ceklek


Tap tap tap


Dengan langkah seribu Fathir pun mendekati Ummi


Hap


"Ha?kau?" Ummi kaget, ketika tiba tiba Zahwa di rebut dari tangannya.


"Mi, akj ingin pinjam Zahwa hari ini, kamarku ada di ujung sana." Fathir menunjuk kamarnya dan berbalik.


"Tunggu! nanti Hendra tau kalau kau ada di sini." Ummi merasa takut kesehatan Hendra akan terganggu.

__ADS_1


"Mi, aku ingin bersama Zahwa, tolong mi, kalau Hendra sudah dapatkan Shaina, mengapa aku tidak boleh bersama Zahwa." Suara Fathir memales.


"Fathir, tolong mengertilah, Nak Hendra sedang sakit keras, jangan sampai dia bertemu denganmu, mungkin itu akan membuat penyakitnya kumat." Ucap Ummi lagi.


"Mi, sakit Hendra tak sebanding dengan sakit di hatiku Mi. Lagian kakau kita tidak beritahu mereka, pasti merwka tidak akan tau."


Tap


Tap


Tap


Fathir pergi membawa Zahwa menuju kamarnya.


"Tunggu! mau di bawa ke mana Zahwa?" Ummi mengikuti dengan tertatih tatih.


"Ke kamar Mi."


"Bagaimana kalaiu Shaina mencarinya."


"Tinggal bilang kalau aku sedang bersamanya." Ucapnya.


"Tuan. tolong, aku tidak bisa, kasian Hendra."


"Ummi mengapa Ummi tidak bisa merasakan sakit di hatiku, mengapa Ummi hanya mementingkan dia?"


Ceklek


Fathir sampai di pintunya.


"Karena umur Hendra hanya 2 tahun saja, 2 tahun lagi Hendra akan meninggal hik hik hik." Ummi pun terisak.


Deg


FatHir termangu, kakinya kaku.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2