
"Hey, serahkan uang kalian!" Ucap salah satu preman sambil membawa kayu, dan mengarahkan pada Fathir dan Budi.
"Apanya Tuan? maaf, kami tidak punya apa apa? lihatlah! hanya motor butut ini yang ku punya," ucap Budi sambil gemetar, dia kan anak baik baik.
"Aaaah, coba dompet kalian bawa sini!" Budi pun mendekat dan menyerahkan dompetnya.
"Kosong Bos, hanya beberapa ribu." ucap seorang yang sudah membuka dompet Budi.
"Hey, kamu juga! bawa dompetmu ke mari!" Pinta Bos preman, namun Fathir tak bergerak.
"Kau membangkang?" Ucapnya lagi.
"Aku tidak punya apa apa, aku hanya punya hati itu pun sekarang mulai remuk." Ucap Fathir santai.
"Hey, jangan bercanda kau, ayo! ambil dompetnya!" Beberapa anak buahnya pun mulai berjalan mendekat, Budi yang ketakutan pun berbalik dan membujuk Fathir.
"Tuan, serahkan saja dompetmu, agar kita selamat." ucapnya
"Kalau begitu, ambil saja motor butut itu, mungkin laku 500 ribu." Ucap Fathir.
"Hah, hey itu motorku Tuan!" pekik Budi.
"Bukankah kau ingin selamat tanpa perlawanan?" ucap Fathir lagi.
"Bagaimana kaklau Motor dan isi dompetmu Ha?" Ucap preman itu lagi.
"Sudah ku bilang, aku tidak punya apa apa selain hati yang hampir remuk, apa kalian juga akan mengambilnya?" Tanya Fathir sekali lagi.
"Alaaah, banyak bacot loe."
Anak buah preman itu pun hendak memegangi tangan Fathir.
Hap
Hap
Hap
Kreeek kreeaaaak kreuuuuk
suara tulang atau urat bergesekan terdengar begitu nyaring, ketika tiba tiba Fathir mengelak dan mencengkran tangan preman dan memplintirnya.
"Auuuuu, ampuun." 3 orang preman yang maju pun terduduk dengan posisi tangan mereka saling bertautan di dalam genggaman tangan Fathir.
"Kurang ajar," Bos preman pun maju.
Kreaaaaak
Buk(jatuh)
Suara tulang patah terdengar sangat nyaring
"Aduuuuuh, ampuuun." Dengan sekali plintir ketua Preman itu pun terpental dan tengkurap dengan tangan masih di pegang Fathir, terhempas ke tanah.
"Ada syaratnya." Ucap Fathir. Budi yang melihat kejadian tersebut hanya termangu dan terbelalak dan takjub.
"Iya, iya Tuan, katakan." ucap kepala preman.
"Antar aku ke kota."
"Ke kota? Tuan tidak membawa kami ke polisi kan?" Tanyanya.
"Tidak, oh iya, kenapa kalian membegal orang?" Tanya Fathir lagi.
"Kami tidak punya pekerjaan Tuan." jawab Preman itu.
"Mulai sekarang kalian akan dapat pekerjaan, dengan satu syarat, buang sifat preman kalian, tidak semena mena, mengerti?" ancam Fathir.
__ADS_1
"Baik,Tuan, mari saya antar. Yapi apakah benar kami akan di beri pekerjaan," Tanyanya lagi sambil mengambil motornya yang dia sembunyikan di balik pepohonan.
"Saya bagaimana Tuan?" Tanya Budi.
"Ikuti kami." ujar Fathir.
"Ya aku akan memberi pekerjaan, asal kalian bersikap baik, aku training 3 bulan."
Budi pun menuruti perintah Fathir dan mengikuti dari belakang. setelah perjalanan 50 menit.
"Berhenti!" Fathir menyuruh berhenti di depan dealer bekas, yang banyak menjual motor bekas.
"Budi ayo! kau tunggu di sini." ucap Fathir.
"Baik Tuan," ketua preman itu pun menunggu Fathir di atas kendraannya.
"Budi menurutmu kendaraan apa yang bagus?" Tanya Fathir.
"Kalau buat Tuan yang Ganteng gini apa aja bagus Tuan, apalagi kendaraan NMAX gitu, tambah macho pastinya." Puji Budi.
"Ada yang bisa kami bantu?" seorang karyawan laki laki menghampiri.
"Aku ingin kendaraan NMAX,." Jawab Fathir
"Baik Tuan, kemarilah."
Mereka pun memilih warna dan menyetujui harga.
Transaksi selesai.
"Budi, sekarang kau pulang lah, nanti akan aku hubungi kalau aku perlu sesuatu, ini." Fathir pun menyerahkan kunci motor yang baru di beli.
"Ha? bagaimana dengan motorku?" Tanya Budi Heran.
"Buang saja, butut juga, ini,sudah ada yang baru, kontrak 2 tahun, kalau dalam 2 tahun kau berkelakuan baik bekerja denganku, maka motor ini menjadi milikmu oke,"
"Ha? benarkah Tuan? Alhamdulillah, baik Tuan, tapi sayang tuan, motorku itu aku bawa juga ya? lumayan buat ke kebun kan, kalau yang mulis mulus ini mah, sayang di bawa ke kebun." Jawab Budi.
Akhirnya mereka pun berpisah, Preman dan Fathir meneruskan perjalanan menuju rumah pak Manae.
*
*
*
"Mas, udah bangun?" Tampak Shaina duduk di tepi ranjang tempat Hendra tertidur, karena baru di beri obat, Hendra pun akhirnya bisa tidur.
"Shain, maaf, aku ketiduran." ucapnya, sambil memegang tangan istrinya.
"Nggak papa Mas, jangan terlalu banyak gerak, nanti sakit lagi jahitannya ya," Shaina pun menggenggam tangan suaminya erat.
Mas bertahanlah, aku akan berusaha jadi yang terbaik untukmu.
Bathinya.
"Kamu udah makan?" Tanya Hendra
"Udah Mas, kamu mau makan?"
"Nanti aja, sini!" Sahutnya, dia pun menarik tangan, Shaina agar berbaring di dadanya.
"Aku merasa ini hanyalah mimpi, betapa susahnya aku mendapatkan jawaban darimu, tiba tiba saja kau menerimaku dan malah menikah mendadak." ucapnya.
"Mas, aku juga tidak menyangka mamahmu bekal menerimaku, kalau beliau tidak merestui kita, aku tidak akan menerimanya."
"Aku hampir putus asa, ketika ayah biologis Zahwa datang."
__ADS_1
"Mas, jangan sebut ayah Zahwa di sini, kita sedang bahagia, malah moodku nanti rusak." Itu hanya alasan Shaina, yang sebenarnya, shaina takut Hendra memikirkan Fathir yang sering datang membujuk nya kembali. akan membuat kepala Hendra kembali sakit.
"Baiklah sayang, oh iya, kita bikin langgilan sayang yuk!" Ajak Hendra.
"Panggilan? bagus juga, apa ya?"
"Banggan? gimana?" ucap Hendra
"Apa tu mas?"
"Abang ganteng, hahaha."
"Kepedean ah, ucap Shaina, dia memeluk tubuh suaminya, baru kali ini dia merasa begitu bahagia, seandainya tidak terjadi kecelakaan itu, pasti dia sudah menikah dengan Faruz, siapa sangka takdir itu lebih indah dari apa pun.
" Lalu apa dong?" Tanya Henda, sambil mengelus elus tubuh Shaina
"Obang! ya Obang saja." Jawab Shaina.
"Obang? aneh." Ucap Hendra membalas.
"Nggak kok, lagian biar beda dari yang lain Mas." Pinta Shaina.
"Trus? kamu apa? bagaimana kalau Ocan?" ucap Hendra lagi.
"Ocan? haha lucu." Jawab Shaina,
"Ooo cantiiiik. hahaha."mereka tertawa bersama.
"Oke! setuju!" ucap Shaina.
"Ocan dan Obang." Ucap Shaina lagi, dia menghirup bau tubuh suaminya, dia merasakan candu aroma yang tak biasa.
"Apakah bau semua lelaki itu begini?" Tanya Shaina.
"Mana aku tau? aku kan nggak suka sesama jenis. hahaha." Mereka tertawa bersama.
Obang, aku akan mencintaimu, slalu mencintaimu, walau apa pun kelak yang akan terjadi, aku berjanji, menemanimu sampai akhir.
Tak terasa Shaina pun meneteskan air matanya di kaos suaminya, dia pun memejamkan mata, berharap air mata itu berhenti.
"Ocan? kau menangis?" Tanya Hendra, sambil ingin menarik wajah Shaina. namun Shaina menahan wajahnya tetap tertunduk. takut ketahuan.
"Nggak Bang, cuma terharu, akhirnya setelah cobaan bermacam macam aku sampai ke tahap ini." Jawab Shaina.
"Apa kau bahagia?" Hendra seakan meragukan Shaina.
"Bang, aku sangat sangat bahagia, terimakasih telah menerimaku dengan banyak kekuranganku." Balas Shaina.
"Benarkah?"
Shaina hanya mengangguk.
"Bang, mamah ingin membawaku berobat agar luka operasi ini cepat sembuh, dan kita bisa cepat dapat momongan."
"Zahwa masih kecil juga, jangan terlalu di paksakan, nggak papa kok, kayak mau mati besok aja." Ucap Hendra, yang membuat dada Shaina tambah Sesak. Tubuhnya pun akhirnya bergetar menahan tangis.
"Shain, ada apa? kok tambah nangisnya.
"Hik hik hik Obaaaaang." Shaina peluk tubuh Hendra se erat eratnya, seakan tak kan terlepas. dia terus menangis, Hendra mengira Shaina teringat masa lalunya sehingga demikian, sampai akhirnya Shaina pun tertidur.
Tok tok tok
Ceklek
Ternyata Ny.Linggar yang masuk.
"Mamah ssssst." Mamah Hendra pun kaget saat melihay Shaina tertidur di atas tubuh Hendra.
__ADS_1
"Kayak bayi aja, hihi.",Komentar Ny.Linggar. Nyi Linggar benar benar bisa menerima Shaina, karena melihat Hendra sangat bahagia bersama Shaina.
BERSAMBUNG...