Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Terpaku tak Berdaya


__ADS_3

Damon terus memanggil nama Shaina, Shaina pun memegangi dadanya yang sakit.


Mas, maaf, mungkin kita tidak akan pernah bisa bersama, kau harus sehat, agar kelak anak ini bisa bertemu denganmu, aku tidak mungkin hadir di antara kalian, wanita dan anak kecil itu pasti sangat butuh kau di bandingkan aku.


Shaina terus mencucurkan air mata, bila dia mengingat Damon yang sedang menggendong bayi saat itu, hatinya sangat sakit. Bagaimana bisa lelaki yang berjanji menikahinya, ternyata sudah mempunyai wanita lain dan bahkan mempunyai anak.


"Mas, awalnya aku pun ingin mencarimu, tapi ke mana aku mencari hik hik hik, kau hilang bagai di telan bumi, saat kau mengopload foto selayar ini pun aku berusaha mencari kembali akunmu, tapi aku malu bertanya Mas, hik hik.


"Mbak ini baju Masnya," perawat pun menyerahkan baju Damon, karena saat operasi tadi semua baju di lepas.


"Oh terimakasih." Shaina pun mengambil baju Damon.


"Coba aku cari telponnya, siapa tau ada yang dapat ku hubungi,"


....


....


....


" Syukurlah tidak di kunci." pertama-tama Shaina melihat panggilan yang paling sering menghubungi


Zeze


Dreeeeeng Dreeeeng


Terhubung


{Assalamualaikum,}


{Hey, bukankah ini no Mas Damon? mengapa kau yang menelpon? siapa kau?}


{Maaf Mbak, pemilik Hp ini sedang di rumah sakit, aku yang membawanya}


{Rumah sakit?}


{Aku akan mengirim lokasi, mbak cepat ke sini ya!}


{Baiklah}


Tuut.


"Shainaaa, di-ma-na ka-u." Damon terus saja memanggil namanya.


"Mas,maafin aku, aku tidak bisa menunggumu sampai siuman, Istri dan anakmu akan segera kemari, kelak kalau anak ini besar, aku akan menyuruhnya mencarimu" Shaina mengelus-elus perutnya piku. Akhirnya dia pun mengambil dompet Damon, mau apa dia?


Jangan marahin Author ya, karena belum saatnya bertemu Shaina dan Damon😁


"Mas aku harus menemukan sesuatu milikmu, untuk jadi pegangan Anak inj kelak" Shaina pun membuka dompet Damon, namun dia tidak menemukan apa pun. Dia beralih ke tangan Damon, dia melihat cincin melingkar kelingking Damon. Bergambar burung.


"Apa ini cincin kawin? tapi terlihat biasa saja." Gumam Shaina. dia pun mengambilnya.


"Apa aku harus membawa ini?" Shaina galau, bagaimana kalau itu cincin kawin.


"Ah tidak, jangan ini." Dia pun kembali memasangkan cincin itu.


Tok


Tok


Tok


"Mbak." Ketika Pak Manae dan Zeze masuk Shaina pun kaget.


"Kamu yang membawa dia ke rumah sakit ini?"Tanya Pak Manae.


"Benar pak."


"Terimakasih banyak, padahal kau juga sedang hamil besar." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Andai bapak tau, dia adalah ayah anak yang ku kandung


Gumamnya.


"Maaf pak, kalau begitu saya permisi dulu."


Shaina pun pergi meninggalkan ruangan tanpa membawa apa pun.


Dia bersandar di dinding dekat pintu sebelum dia melangkahkan kakinya pergi menjauh. entah mengapa hatinya sangat sakit, ada perasaan yang tumbuh entah dari mana datangnya.


"Nak, tumbuhlah jadi anak yang sehat, agar kelak kau bisa bertemu dengan ayahmu." Shaina pun mengelus perutnya sambil berjalan menjauh.


#


#


Di sebuah taman yang luas.


"Sayang, aku ingin punya anak yang banyak." Lelaki itu pun mengelus-elus perut sang wanita yang sedang hamil tua.


terdengar Azan zuhur berkumandang ketika tiba-tiba seorang lelaki tampan menghampiri mereka.


"Maaf Mas, mungkin aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, kita berbeda Mas."


Wanita itu pun berdiri dan meraih tangan lelaki yang baru saja datang.


"Shaina, apa maksudmu? kau mau ke mana? jangan tinggalkan aku, ku mohon!" Ternyata Damon. Dia menarik tangan Shaina dan membawanya ke dadanya.


"Aku mau memenuhi panggilan itu Mas(Azan) maaf kita berbeda, kau tidak akan bisa memenuhi panggilan itu karena kau tidak mengerti," Shaina pun menarik tangannya kasar, dan berjalan beriringan dengan pemuda tampan tadi.


"Shaina, tolong tunggu! shaina tunggu aku."


"Damon, bangun, Damon kau memanggil siapa? hey."


Tuan Manae dan Zeze pun menggoyang kaki damon pelan.


"Shaina...dimana dia?" Pak Manae dan Zeze pun saling pandang. Setahu mereka Damon tak pernah dekat dengan wanita man pun.


"......"


Damon pun akhirnya membuka matanya.


"Pak, Zeze, kemana wanita itu?"


"Wanita? maksudmu, wanita hamil yang menolongmu?" Ucap Pak Manae.


"Iya, apa dia hamil?" Damon pun jadi balik bertanya.


Berarti benar Shaina, dia yang telah menolongki


Gumamnya


"Iya, mungkin usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan." Ucap Zeze lagi.


Oh iya, Zeze sekarang udah baikan dari frustasinya karena Damon membantu mendampinginya dengan sabar.


"Di mana dia sekarang Ze?"


"Dia udah pamit Mon." Jawab Pak Manae lagi.


Bruk


Damon turun dari ranjangnya dan melepaskan infus.


"Kau mau ke mana?" Kau masih sakit.


Bruk bruk


Damon terjatuh.

__ADS_1


karena obat bius separo badannya belum habis total.


"Aku mau mencari wanita itu, tolong ambilkan kursi roda.


"Mau ke mana Mon, kamu belum baikan." Ucap pak manae.


"Tolong Ze, aku sudah sering menolongmu, kali ini tolong aku, bukan aku tidak ikhlas, tolonglah." Damon terus memohon akhirnya Zeze pun keluar dan kembali dengan membawa kursi Roda.


Damon pun duduk dan di dorong oleh Zeze keluar ruangan.


Deg


Sepasang mata sedang memandang Damon dan zeze dari balik tiang besar di sebrang lorong. Rupanya Shaina belum pulang dan masih menatap kamar Damon, air matanya pun menetes tanpa bisa di kendalikan, dia menikmati sakit di hatinya dengan tetap menatap lelaki yang pernah berjanji akan datang padanya, namun ternyata lelaki itu sudah beristri dan punya seorang anak kecil.


"Sayang, kita harus kuat, mungkin ini takdir tuhan untuk kita nak." Shaina mengusap-usap kembali perutnya yang sudah membesar.


Tring Tring Tring


HP Shaina berdering.


{Assalamualaikum, Mas ada apa?}


{wa alaikumuszalam.Kamu di mana? aku jemput kamu ke rumah tapi tidak ada.}


Suara Hendra dari ujung telpon sedang mencarinya


{Aku akan pulang, ini mau berangkat}


{Baiklah, aku tunggu di rumah mu ya.}


{Assalamualaikum}


{Wa alaikusalam}


Shaina pun berbalik meninggalkan lorong.


#


"Ze, itu dia, lihat! Shaina, tunggu,! Shaina." Damon yang melihat Shaina dari jarak yang sangat jauh pun berteriak, namun Shaina tidak mendengar, karena gemuruh dadanya terasa lebih nyaring dari suara guntur sekali pun.


Shaina pun sudah menaiki kendaraannya dan melaju dengan cepat, sedang Damon tertinggal jauh di belakangnya. sepanjang jalan sesekali. dia menyeka air matanya yang terus mengalir.


*


"Damon, kita tidak bisa mengejarnya, dia sudah keluar dari area Rumah sakit ini, ayo kita kembali ke kamar.


"Hik...hik...hik.. Shaina, mengapa nasibku jadi begini, mengapa, bruk bruk bruk."


Dia pun memukul-mukul kursi rodanya keras.


Zeze pun membawa Damon kembali ke kamar perawatan. Damon kembali naik ke atas ranjangnya, suster pun kembali memasangkan infus yang tadi di lepas. Damon mengambil HPnya. Saat dia mengusap layar, dia langsung melihat kamera yang masih aktif. dia pun membuka, dan menemuka tangannya yang terikat selayar sedang di pegang tangan yang mulus seperti tangan wanita.


"Shaina, apakah kau juga mengingatku, bahwa aku adalah ayah dari bayi itu?" Tangan Shaina, apakah shaina sengaja meninggalkan jejak misterius itu?


"Mon, bicara apa sih loe? bayi?"


"Iya Ze, maaf, aku tidak bisa menerima usulan Pak Manae untuk menikahimu, karena aku sudah punya wanita lain, namun sampai saat ini aku belum bisa menemukannya, dan saat kami bertemu malah kondisi seperti ini, aku kehilangan jejak lagi Ze, hik hik hik.


"Jadi wanita tadi adalah wanitamu? pacarmu yang sedang hami?"


"Bukan pacar Ze?"


"Lho, trus apaan? TTM? kok hamil?" Zeze malah heran, sementara Pak Manae sedang asyik ngobrol dengan bapak-bapak di muka kamar.


"Tidak juga Ze, aku bahkan baru pertama bertemu dengannya dan bercocok tanam😝."


"Ha? Gila loe ya, anak orang di hamilin begitu saja."


"Aku tidak sengaja Ze, saat aku kembali untuk melamarnya, Dia sudah pindah rumah.

__ADS_1


" Trus."


BERSAMBUNG DEH......


__ADS_2