
"Uhuk uhuk." Fathir menyemburkan air yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya, saat dia mendengar Zahwa memanggilnya.
"Bos, ada apa?" Tanya Ujang saat melihat Bosnya keselek.
"Aku mendengar Zahwa memanggilku jang. Apa kau mendengar suara anak kecil?" Tanyanya balik.
"Tidak Bos, ah atau jangan jangan?"
Ujang berdiri dan seperti berpikir.
"Ada apa jang? cepat katakan!" Bentak Fathir
"Bu, di dalam gang sana apa ada rumah tukang taksi?" Tanya ujang.
"Nggak Mas, ini perkampungan Mas, jarang ada taksi. Kalau di ujung sana ada ibu ibu yang baru datang, tadi pagi dia belanja di sini juga."
Jawab Ibu
"Ooh, lalu taksi tadi siapa ya kira kira?" Ujang garuk garuk kepala yang tidak gatal.
Hap
"Ayo!"
Fathir tiba tiba bangun dan meletakkan uang 100 ribu untuk bayar makanan tanpa menunggu kembalian.
"Salman, kau di sini saja ya, nanti ku kabari!"
Ucap Fathir sambil menghidupkan mobil dan meluncur.
......................
"Mamaa...apa Kak Zahwa udah datang?" Tanya Rangga.
Rangga pasti kangen dengan kakaknya itu, walau sering disakiti Rangga, namun Zahwa sering memangku Rangga sambil bermain.
"Belum sayang, papa juga belum datang." jawab Zahwa.
__ADS_1
"Kok lama sih? pasti kak Zahwa sangat marah sama Rangga kan?" Wajah Rangga cemberut.
"Rangga...sini main sama kakek yuk!"
Pa Linggar datang menghampiri Rangga.
"Kek, Kak Zahwa kok nggak datang datang, Rangga kangen."
Rengek Rangga lagi. Shaina pun kembali meneteskan air mata. Tadi malam dia hanya bisa tidur kurang lebih satu jam, setiap dia bangun dia pun menangis.
"Kak Zahwa lagi nemenin papa mungkin ke luar kota nak." Jawab pa Linggar.
"Assalamualaikum."
Suara wanita yang slalu menjadi sahabat terbaik Shaina terdengar di teras rumah.
"Mbak, masuk!"
Shaina pun menyambut kedatangan Ceo Muda itu.
Sepagi ini Zeze sudah datang berkunjung untuk memberi kekuatan Shaina.
"Belum mbak. Rangga! temenin Kak Daxon tuh."
Daxon anak Zeze atau cucu pak Manae, dia orangnya tak mau mengalah dan emosian. Karena memang dia sangat di manjakan pak manae semasa beliau hidup.
"Kak kita main ke atas yuk!"
Ajak Rangga. Daxon pun mengikuti.
"Kak Yolaaa, ayo!" Ajak Rangga juga.
Mereka bertiga pun ke ruang bermain, sebenarnya pa Linggar kurang suka Daxon bermain dengan Rangga, karena sudah pernah dulu memukul Rangga karena rebutan mainan waktu kecil.
"Rara, tolong temenin mereka di atas ya!" Titah pa Linggar, karena dia mengkwatirkan cucu kesayangannya.
"Baik Tuan Besar."
__ADS_1
Rara pun pergi ke atas.
"Aku akan membantumu melacak keberadaan Zahwa, kamu harus sabar, mungkin ini akan memakan waktu berhari hari, aku sudah menelpon seseorang untuk melukis wajah"
Ucap Zeze.
"Tapi apa Yola bisa menceritakan detail wajah krang ktu?"
Shaina tampak ragu.
"Kita coba saja dulu, sebentar lagi akan datang."
Menanti beberapa waktu Shaina sangat gelisah.
Tok tok
2 orang lelaki datang, dialah sang pelukis wajah.
"Masuk! Shain, mereka datang."
Mereka pun di persilahkan masuk dan mulai mempersiapkan alat tulis.
"Lala, tolong panggilkan Yola!"
Titah Shaina. Lala pun segera ke atas dan membawa Rangga, sementara Rara juga turun karena kebelet BAB.
"Lala pun mengingat ingat wajah orang yang telah menculik Zahwa. Dia mencaritakan ciri2 orang tersebut. Dan pelukis mulai menyelesaikan lukisannya.
"Luna?"
Ucap Pa Linggar yang tiba tiba sudah berada di belakang pelukis, padahal lukisan itu belum selsai.
Deg
Shaina pun kaget.
BERSAMBUNG....
__ADS_1