
Sementara Shaina yang ada tak jauh dari Fathir, berontak, namun mulutnya di sumbat baju pemuda berandalan dan tangannya pun di pegangi mereka. Apa daya Shaina yang imut kecil tak mampu melawan, semakin lama tenaganya semakin hilang. Tubuhnya pun mulai lemah.
"Shainaaa." Fathir terus saja berteriak, naMun tetap tak ada jawaban. Fathir semakin menjauh dsri tempat Shaina di sembunyikan, Shaina mulai sadar dan teringat Zahwa anaknya.
Aku harus kuat
Buk
Tiba tiba Fathir di timpuk sebiji batu sebesar ibu jari di belakang kepalanya. Fathir pun berbalik arah dengan diam diam.
"Kita bawa ke mana perempuan ini heh?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Kita bawa kebelakang bangunan itu saja, ayo aku kebelet." Jawab yang lainnya.
Tubuh Shaina pun di gotong menuju sebuah bangunan yang terlihat remang remang.
"Nah di sini saja, kita undi dulu, siapa yang menang dia duluan." Ucap yang lainnya.
cap cip cup
"Aku duluan, hahaha, kalian tunggu di sana." Ucap lelaki itu senang, ke 2 temannya pun pergi berbalik untuk menjauh. Pria tersebut sudah melepas semua ce-lananya, baju, dan cela-na dalam. Kini dia sudah te-lanjang bulat.
Dia mendekati Shaina yang sudah tak berdaya.
Hap
"Aaaaaah." Pekiknya.
"Waaah pasti sudah mulai, sebentar sekali kok sudah mulai?" Ucap temannya yang sudah sangat gelisah dan tidak sabar menunggu giliran.
"Biasa, udah lama puasa dia, biasa cuma goyang sendiri." Ucap teman yang lain.
"Bagaimana kalau kita main bertiga saja? pasti seru." Ucap pria itu lagi.
🌷
"Shaina bangun! sayang," Fathir yang sudah menggendong Shaina pun berlari menuju keramaian.
"Pak, di mana ada klinik di sini?" Tanya Fathir pada seseorang.
"Tidak ada Tuan, coba ke rumah sakit saja, naik ojek aja Tuan," Ucap seorang bapak bapak yang sedang belanja jajanan.
"Terimakasih," Fathir pun menuju pemuda yang sedang nongkrong.
"Hey, kalian tolong antar aku ke rumah sakit. Istriku sedang sakit, tonglah!" Fathir menghiba dan wajah sangat kusut dan putus asa.
"Baik Pak, mari!" Seorang pemuda berusia 18th mendekati motornya dan bersedia mengantar Fathir.
🌷
"Broo...kok nggak ada suara lagi, hey, berapa ronde sih?" Tanya berandalan yang tadi menggilir Shaina.
"Ucit...kau pingsan ya? hey, apa sudah selesai?" Temannya yang lain lun ikut bertanya, namun tak ada jawaban.
"Apa kita lihat saja heh?" Ucapnya lagi.
"Baik, ish mengapa dia ini, jangan jangan di bawanya kabur lagi gadis itu untuk dirinya sendiri." Gumam pemuda berandalan itu kesal, karena pentongannya sudah bangun lama.
"Hah, apa? hey bangun, mana gadis itu? hey Badrul, aaaah." kesal tuh pria, gadisnya udah hilang.
__ADS_1
"Cit, mana gadis itu? hey." temannya pun menggoyang goyang tubuh nya yang te lanjang bulat.
"Uaaaah, sakiiit." Dia meringis memegangi punuknya.
"Mana gadis itu? ayo pakai bajumu dulu!" Temannya pun melempar baju punya ucit.
Setelah berpakaian utuh ucit pun bercerita.
"Saat aku sudah pasang kuda kuda saat mau menyentuh gadis itu, tiba tiba punukku di pukul sangat keras, aku pun berteriak aaaaa. mengapa kalian tidak mendengarku? aku pun pingsan." Ucapnya sambil terus mengelus elus punuknya yang masih terasa nyeri.
"Mana kami tau kalau kau kesakitan, kami kira kau sudah ONGOING kayak Author kejar target. Lain kali kalau sakit itu tolooong." Ucap temannya kesal sambil berjalan menjauh dari tempat kejadian di iringi teman lainnya.
"Gagal deh ih." Gumam yang lainnya.
😄😄😄😄
Fathir sudah sampai Rumah sakit menuju ruang UGD.
"Dek, tunggu sini dulu ya, jangan pergi." ucap Fathir pada pemuda yang telah mengantarnya tadi.
"Bentar aja Tuan ya, soalnya di tungguin..",Fathir sudah menghilang di pintu UGD.
" Ih, orang itu, mau apa dia di tungguin, aku kan mau nongkrong lagi sama teman teman." Gumamnya.
Apa aku tinggalin aja ya? tapi kasian.
Bathinnya lagi.
Di dalam."Suster tolong istri saya, dia pingsan."
perawat yang jaga pun mengambil tindakan cepat dan memberi selang oksigen juga infus.
Setelah kurang lebih 15 menit selesai, Fathir baru ingat kalau dia meninggalkan seseorang di halaman UGD.
"Kemana pemuda tadi ya?" Fathir celingukan mencari pemuda yang tadi mengantarnya.
"Tuan." Teriak seseorang di kejauhan, rupanya pemuda tadi sedang asyik makan pentol di sudut halaman parkir.
"Kemarilah!" Fathir melambai.
"Kenapa Tuan?"
"Aku ingin kau menolongku menjemput seseorang, aku akan beri imbalan yang banyak." Ucap Fathir.
"Tapi Tuan, aku sedang ada janji dengan teman teman ku tadi." Suaranya agak memales.
"Tolonglah, kami sedang ingin berobat di kota ini, kami tidak punya siapa siapa, kami dari luar kota, tolong, aku akan membayar mahal untuk itu." Pinta Fatjir lagi.
"Hups, baiklah Tuan."
"Kau bawa HP, tolong simpan no ku. Kau harus ke hotel Bintang no....tolong temu nini Zahwa, dan telpon aku." Pria itu pun mengerti.
"Setelah itu, bawa beliau kemari, ini aku Dp." Fathir lun mengeluarkan 2 lembar kertas berwarna merah.
"Tuan tidak usah, aku hanya membantu. Aku baru tau kalau kalian dari luar kota, ku kira kalian orang sini juga, makanya tadi aku sempat menolak untuk menolong." ucapnya, sambil menolak keras pemberian Fathir.
"Tidak, ini ambil, nanti kalau kemari tolong temui aku lagi. oke?"
Pemuda itu pun pergi menuju Hotel tersebut.
__ADS_1
🌷
"Shaina ke mana Mah, kok nggak balik balik?" Ucap Hendra yang sudah berbaring di ranjang.
"Mungkin Zahwa masih rewel Nak."
ting tong
"Nah, mungkin itu." Ny.Linggar pun membuka pintu.
Ceklek
sssssssssst
Ummi berbisik.
"Hen, Zahwa masih rewel, kamu tidur saja ya, Shaina masih menyu-sui." Ucap mamahnya.
"Ooh, baiklah." Hendra percaya saja apa kata mamahnya, karena kepalanya oun terasa sakit.
Mamah dan ummi pun ke kamarnya.
"Siapa pria ini?" Pemuda yang di utus Fathir sudah datang.
Pria itu pun memceritakan semua kisahnya bertemu Fathir. Ummi oun menangis mendengarnya.
"Bagaimana ini Ny.Linggar?" Ummi bingung bagaimana dengan Hendra.
"Aku ada ide."
Ternyata Ny.Linggar minta di belikan obat tidur buat Hendra. Setelah Mamah Hendra bercerita kondisi Hendra, pamuda itu mengerti.
"Baik Nyonya." Dia pun pergi mencari Apotek.
Keluarga macam apa mereka ya? pria di dalam kamar itu suaminya, trus yang di rumah sakit tadi juga suaminya? aneh.
Lirihnya.
Akhirnya dia pun pergi mencari apotik. dan membeli obat tidur cair. Tak berapa lama dia sudah kembali.
🌷
"Shaina maafkan aku, aku janji tidak akan mengganggumu lagi, mungkin aku hanya perlu menunggu Hendra meninggal."
Ucap Fathir sambil menggenggam tangan Shaina dan menciuminya dengan berjuta cinta.
"Shaina... apa yang terjadi? mengapa dia sampai pingsan begini."
Ternyata Ummi sudah datang bersama pemuda tadi. Sedang Zahwa tinggal sama Ny.Linggar.
"Mi, mana Zahwa?" Hanan kaget karena Ummi tanpa Zahwa.
"Tinggal sama mamah Hendra." jawab Ummi.
"Apa tidak apa apa, apa tidak di jahatin ama dia?" Fathir cemas.
"Nggak, jangan berprasangka buruk, nanti malah betulan." jawab Ummi lagi, dia pun duduk di samping Shaina berbaring.
BERSAMBUNG....
__ADS_1