
Shaina tampak menyapu halaman rumah mungil di pinggir kota, mereka membeli rumah mungil berdinding Papan. Hanya ada 3 kamar.
"Sayang kami berangkat dulu ya! aku akan menemui Zeze dan melamar pekerjaan lagi di kantornya."
Ucap Fathir.
"Baik Beng, nanti pulang sekolah, biar aku yang jemput anak anak, biar pakai Motor, saja." Sahutnya lagi.
"Oke, baiklah. emch emh emch." Setelah cipika cipiki Fathir pun masuk ke mobil di ikuti anak yang lain. Namun Rangga tetap saja cemberut, entah apa yang dia pikirkan.
Fathir meluncur menuju sekolahan anak anak .
"Belajar yang rajin ya?" Titahnya.
"Iya pa." Sahut mereka bersamaan.
Setelah salaman dengan anak anak, Fathir pun melanjutkan perjalanannya menuju kantor Zeze.
"Mungkin Zeze akan membantuku, setidaknya dia akan memberiku pekerjaan tetap." Ucapnya sambil terus melaju di jalanan yang ramai. Setelah perjalanan berjam jam akhirnya Fathir pun sampai di gedung mewah itu. Dia di sambut hangat oleh para karyawan, kalau dulu dia adalah Bos tak ada karyawan yang berani menyapanya karena segan, namun kali ini dia datang bukan siapa siapa.
"Pak Fathir, selamat datang, apa kabar?" Semua karyawati menyalaminya antusias. Wajah tampannya tentu saja menebar pesona ke seluruh ruangan. bahkan ada yang ingin cipika cipiki, namun Fathir menolak halus.
"Hey, Fathir?" Semua karyawan pun buber ketika mengenali suara Bosnya. Dulu Zeze adalah orang yang baik dan ramah, namun ternyata dia sudah berubah, mulai saat dia memegang perusahaan, saat itulah dia mulai pemarah dan sedikit angkuh. Maklum, perusahaannya ada di mana mana, warisan pak Manae untuk Daxon.
"Hey...Aku ingin bicara denganmu Ze!" Ucap Fathir, dia pun berjalan menghampiri Zeze yang berdiri di pintu ruangannya.
"Ayo!" Zeze mempersilahkan masuk Fathir.
"Ada apa? Oh iya aku sudah dengar kabar kepindahan kalian, namun aku belum sempat untuk berkunjung." Ucapnya.
__ADS_1
"Iya, perusahaan kami bangkrut, karena ulah mertua Shaina. Kami juga sudah menjual rumah kami dan pindah di pinggiran kota ini." Ucapnya.
"Ooh begitu kah? keterlaluan sekali dia. bukankah dia hanya punya Rangga?" Tanya Zeze.
"Iya, dia juga telah mencoret ahli warisnya Rangga, dan mengalihkan pada yang lain." Fathir pun bercerita banyak hingga tanpa terasa sudah sejam mereka ngobrol. Namun Fathir tidak menyadari kalau selama itu juga Zeze menatap bahkan tanpa berkedip ke wajah tampannya.
"Kita makan siang yuk! nanti sambil makan aku pikirkan jabatan untukmu ya?" Ajak Zeze.
"Baiklah! ayo!"
Fathir pun berjalan membukakan pintu, hanya menghormati calon Bosnya. Namun Zeze terlihat tersenyum sangat manis dan bahagia.
Mereka pun turun menggunakan Lift. Karyawan yang juga akan turun tidak jadi masuk Lift karena melihat Bosnya akan masuk, mereka memang sangat segan lada Bosnya. Mereka pun sampai di kantin.
"Aku ingin melamar pekerjaan, mungkin aku bisa bekerja di perusahaan cabang milikmu." Pinta Fathir.
"Tapi aku kan baru? biasanya yang di pusat ini hanya orang lama yang pindahan dari cabang kan?" Tanya Fathir.
"Aaah kau ini, aku kan Bosnya! suka suka aku dooong, lagian kau bukan orang baru kok! ayo makan dulu!" Zeze terlihat lahap memakan nasinya.
Tampa terasa mereka pun sudah menyelesaikan makannya.
"Ayo kita bicarakan di kantor tentang pekerjaanmu." Ajak Zeze.
"Oke!"
Zeze juga membayar makanan mereka.
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
Ceklek.
Fathir kembali membukakan pintu buat Zeze.
Zeze yang mengenakan rok mini itu berjalan masuk.
"Sebentar, aku mau ke toilet dulu."
Ucp Zeze.
Di dalam,Tolilet.
Mengapa hatiku bergetar hebat saat berdekatan dengannya, apakah aku benar telah jatuh cinta padanya? kalau memang ia, aku harus memilikinya.
Bathinnya. Zeze pun menaikkan Rok mininya hingga hanya beberapa senti saja dari selengk**nnya.
Ceklek.
Otomatis Fathir lin menatap pintu Wc yang terbuka.
Lho, kok Zeze berpakaian seperti itu? tadi kan nggak begitu?
Fathir malah heran melihat perubahan Zeze yang dia sadari.
BERSAMBUNG....
__ADS_1