Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Sindiran Halus


__ADS_3

Senin 08.00 Jam kerja yang sangat sibuk.


"Helo semuanya, aku atasan baru kalian namaku Sisilia, Jadi mulai sekarang kalian akan berada di bawah pengawasanku."


Seorang wanita cantik dan seksi memakai Rok mini di atas lutut sedang berdiri di depan semua karyawan yang sedang berjejer, tentunya dengan sengaja di kumpulkan begitu untuk memberi pengumuman. Dan di antara mereka juga ada Shaina yang sedang berdiri menatap Bis barunya.


"Baiklah, karena kalian sudah tau, silahkan kembali ke tempat kalian masing-masing, Oh ya Bendahara tolong segera keruanganku." Sisilia pun pergi meninggalkan tempat para karyawan tersebut.


Tap


Tap


Tap


"Assalamualaikum, saya Bendahara di sini" Shaina yang sudah datang dan berdiri di depan pintu menunggu jawaban Bosnya.


"Oh, silahkan masuk." Tanpa menjawab salam.


"Ada yang bisa saya bantu bu?"


"aku mau laporan keuangan selama 3 bulan terakhir."


"Oh? bukankah itu sudah saya laporkan sama Maneger terdahulu?"


"Sekarang yang mimpin aku, jadi aku juga mau laporan itu sekarang, nanti sore sudah selesai."


"Oh, baiklah bu, saya permisi dulu."


"Hmm."


Shaina pun pergi ke ruangannya dan segera menghidupkan laptopnya, tak sulit baginya menyelesaikan laporan karena sudah ada filenya.


"Ada apa Shain, kok tampak sibuk?" Mbak Luri yang baru datang heran melihat temannya itu tampak sibuk di depan komputer sepagi ini."


"Maneger baru pengen laporan keuangan 3 bulan terakhir mbak."


"Lho, kan sudah sama Pak Bim, kok lagi?"


"Pak Bim di pindah tugaskan, dan di ganti dengan maneger baru."


"Ooh, kok aku baru tau ya? di ganti dengan siapa?"


"Katanya sih krang suruhan Mamahnya pak Hendra, ank kerabat jauh gitu."


"Oooh, laki apa cewe?"


"Cewe, cantik."


"Hmmm, hati-hati ya, jangan sampai pak Hendra lepas dari genggamanmu, hihi."


"Apaan sih Mbak, aku naggak pantes bersaing dengan mbak sisil, dia sangat cantik dan sempurna. Mereka akan sangat terlihat cocok."


"Tapi kan saat ini Pak Hendra sangat mencintaimu, kamu nggak boleh mengalah, udah terima saja, nanti setelah lahiran kalian bisa menikah, paling tidak kalian tunangan dulu kek."


"Aku takut menikah kalau orang tua Pak Hendra tidak menyukaiku Mbak, aku nggak mau."


"Nanti juga Luluh, apalagi dia kan anak satu-satunya."


"Udah dulu mbak ya, aku mau ngantar laporan dulu, udah selesai nih."

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


Shaina pun berjalan menuju meja Maneger baru yang berada di depan ruangan Ceo perusahaan.


"Assalamualaikum, bu..." Tak ada sahutan. Shaina pun maju dan berdiri di depan meja Sisilia bermaksud meletakkan berkas yang di pintanya. Tanpa sengaja Shaina menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka, Pintu Ceo(Pak Hendra)


Deg


Shaina terpana melihat pemandangan yang tak biasa.


Seorang pria yang duduk membelakangi pintu sedang Bercumbu dengan Sisilia. Mereka saling menautkan Bi**r mereka, Shaina pun langsung berbalik, dan meninggalkan tempat tersebut.


Hendra? ada hubungan apa mereka berdua? apa benar itu Hendra. Aku tidak menyangka, sepertinya itu memang Hendra dari gaya rambutnya dan tegap badannya sih iya.


Shaina terus bergumam.


Bruk


"Au aduh, hey, hati-hati kalau jalan." Seorang wanita paruh baya yang berpakaian Modis dan terlihat terawat tak sengaja di tabrak oleh Shaina.


"Bu Bos, maaf." Ternyata dia Maminya Hendra.


"Kau? bukankah kau wanita itu? heh, jalan kok bengong." Mami Hendra pun pergi menuju ruangan anaknya.


Sementara Shaina hanya mampu menunduk merasa bersalah, dan akhirnya melanjutkan perjalannnya menuju ruangannya.


Ceklek


"Sisil, sedang apa kau di sini? siapa lelaki itu.


"Dia, Cs di sini Mi, ku suruh bersih-bersih ruangan Hendra."


"Ooh."


"Mami...kok sendirian? Hendra mana?" Sisilia pun meraih tangan Mami Hendra dan menciumnya penuh simpati.


"Apa dia belum datang? katanya tadi duluan kok."


"Belum Mi."


"Bagaimana rencana kita?"


"Beres Mi... baru pemanasan, tenang saja."


"Pemanasan? seperti apa itu?"


"Hihi, ada deh."


"Assalamualaikum. Mi, kok kesini"


Tiba-tiba Hendra masuk karena melihat pintu ruangannya terbuka.


"Suka-suka Mami kan, karena ini juga perusahaan Mami."


"Iya sih, tapi untuk apa? seumur-umur Mami tak pernah kemari kan?"

__ADS_1


"Alaaaaah biasa aja kalee, aku pengen lebih dekat dengan calon mantuku ini Dra."


"Calon mantu? Shaina maksudnya?" Hendra sengaja menyebut nama Shaina, karena Dia tau pasti yang di maksud adalah Sisil.


"Udah ah, aku mau lihat-lihat kantor anak semata wayangku dulu," Mami pun pergi meninggalkan ruangan Hendra. Sementara Sisil mengekorinya.


"Mi, ayo aku temenin."


Mereka pun berkeliling kepenjuru kantor anaknya, terakhir dia pun mampir di ruangan Shaina.


"Bu Bos." Shaina pun menyapa duluan, namun yang di sapa tidak melihat ke arahnya sama sekali.


"Luri, apa kabarmu?" Mami Hendra malah asyik menyapa Luri yang sedang sibuk mengetik.


"Ibu? baik Bu."


"Yang rajin bekerjanya ya, jangan suka memanfaatkan, apalagi kalau merasa di sayangi Bos, kamu udah lama kan bekerja di sini?"


"Iya Bu." Luri malah tampak bingung dengan ucapan Bu Bosnya itu.


Shaina yang merasa di sindir pun hanya mampu diam.


"Kalau tidak ada pekerjaan jangan duduk-duduk saja, bersihkan sampah atau pel kaca sapu debu-debu mungkin? dari pada makan gajih buta." Tambahnya lagi.


Kemudian dia pun melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


"Aneh, ada apa dengan Mami Hendra ya?" ucap Luri yang heran.


"Mbak, dia tidak menyukai aku, Hendra sudah pernah membawaku ke rumahnya, namun orang tua Hendra menolakku mentah-mentah."


"Emang mau mereka seperti apa? wanita yang di sampingnya tadi? kelihatan seeprti penjilat." Ucap Luri lagi.


"Katanya sih, itu calonnya Hendra."


"Emang mau Hendra di jodohkan sama wanita obralan itu?"


"Ah Mbak, apaan sih." Shaina tampak tak suka kalau ada yang mengajaknya menggosip.


"Ya obralan lah, tuh lihat, pakai Rok tapi kayak telanjang, masa pakai rok cuma 4 jari di bawah Ompes."


"Udah ah, nggak baik, kita yang begini aja belum tentu lebih baik dsri dia Mbak."


"Setidaknya kita berusaha menutuo aurat kita, walau mulut masih belepotan hihi."


"Iya... mudahan dia dapet hidayah, hingga Mas Hendra dapat jodoh yang baik."


"Lho...kok kamu gitu, Hendra itu udah Cocok sama kamu Shain,"


"Lha kan jodoh haknya Allah yang tentuin."


"Iya juga sih, oh iya apa kamu belum menemukan ayah dari bayimu?"


"Aku udah pernah melihatnya, waktu itu, waktu kita mau ke mall, aku terjatuh lemes. aku melihatnya, lelaki yang menatap mobil kita, itu orangnya."


"Apa? jadi dia orangnya, kenapa kamu tidak menemuinya dan meminta pertanggung jawabannya?"


"Tak semudah itu Mbak, dia sudah berkeluarga dan memiliki anak seusia mungkin 5 atau 6 bulan, masih kecil, mana mungkin aku tega memisahkan dan menjadi perusak mereka."


Shaina pun tampak meneteskan air mata di ujung matanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2