
Fathir hanya menatap tiap langkah Shaina menuju ruangan Zeze, dia bersembunyi di samping gudang di lantai dasar.
"Bos...ada apa?" Salah satu karyawan yang kebetulan lewat heran melihat bekas Bosnya itu berdiri di pojokan seperti ingin mencuri ayam saja.
"Oh, tidak, sana sana!" Usir Fathir. Mengganggu pemandanganny saja.
Sementara Shaina dan Zeze terus melangkah menuju ruangan Zeze.
Ceklek
"Masuk!"
Ucap Zeze sambil membukakan pintu, Mereka pun masuk dan duduk di sofa panjang di rhangan Zeze.
"Ternyata takdir kita sama Shain."
Zeze membuka pembicaraan.
"Maksudnya?"
Shaina tidak mengerti maksud pembicaraan Zeze.
"Kita kaya mendadak setelah orang yang kita cintai meninggal."
Zeze menyambung pembicaraannya.
"Ooh itu. Hufffs."
__ADS_1
Shaina menarik nafas dalam dan menghempaskan nya kasar.
"Tamdir itu kadang terasa aneh, bahkan aku sempat depresi menghadapi semua ini."
Ucap Shaina.
"Kamu depresi? nggak percaya aku, oh iya, aku lebih parah lagi, aku sampai gila saat di tinggal Mas Hero dulu, padahal aku sedang hamil." ucap Zeze.
"Iya, walau aku defresinya cuma merasa mau marah muluuu, nggak separah orang orang." Jawab Shaina lagi.
"Oh iya, apa ada rencana balikan sama Fathir?" Tanya Zeze sambil menatap mata Shaina.
"Aku perlu proses, walau sebenarnya ada bagian hati ini yang sudah terisi olehnya, bagiku, dia adalah lelaki pertama yang menyentuh hatiku, walau aku lernah tunangan, tapi itu di jodohkan."
Shaina tampak meneteskan butiran halus kembali.
"Aku harus menjaga hati ini agar bisa membahagiakan orang yang di takdirkan untuk menerima takdir di usia muda. Oh iya, Mbak sudah ah, aku malah curhat, ini berkas yang di titipkan papah, tolong di lihat."
Shaina menyerahkan map yang,sudah berisi beberpa berkas penting.
"Ah gampang. Aku ingin tau lebih banyak tentangmu, apa perlu aku melamarmu untuk Fathir? hihi."
Zeze benar benar ingin Shaina dan Fathir bisa balikan lahi.
"Mbak, tidak boleh seorang eanita yang belum genal iddah itu menerima lamaran orang, apalagi aku yang benar benar sedang hamil Mbak."
Jawab Shaina. Dia juga mengelus elus perutnya karena merasa sedikit nyeri.
__ADS_1
"Tapi kau jangan ke lain hati lahi ya, hahahaha." Ucap Zeze.
"Ah mbak bisa aja...siapa tau Tuan Fathir sudah memiliki tambatan hati yang lain, oh iya, gimana kabar Yola anak Mbak Salma?"
"Baru bisa jalan, fathir sangat memanjakan anaknya itu, walau sebenarnya dia tidak benar benar mencintai Salma."
"Ooh, inj sudah selesaikan, cuma di antar doang nih, nggak di cek dulu? aku harus pulang cepat, karena kasian Zahwa mau ngASI." Shaina buru buru pamit, karena Zahwa tidak ikut.
"Besok besok bawa Zahwa ke mari, biar kita bisa bincang lebih lama, siapa tau nanti berjodoh dengan Daxon, hihi. oh iya, aku juga berencana mengganti nama nya menjadi lebih islami, nanti aku perlu konsultasi dulu sama ustadz."
Daxon nama pemberian pak manae sebelum dia mualaf. sekarang oak Manae pun sudah muallaf dan sudah sangat tua.
"Ooh, iya...baiknya di ganti saja, kalau begitu, aku pamit dulu mbak." Ucap Shaina.
"Oke, nanti aku kabari lagi kalau berkasnya ada kesalahan,"
Shaina pun menggunakan eskalator, karena dia ingin melihat pemandangan gedung Zeze.
Deg dag door
Tatapan mata Shaina bertemu dengan tatapan mata Fathir, Fathir yang sedang naik eskalator dan Shaina yang sedang turun.
Beberapa saat mereka hanya saling memandang, hingga akhirnya Fathir tersenyum manis, sangat manis ke arah Shaina. Barulah Shaina sadar dari ketersimaannya.
"Ya Allah, ampunkan hamba." Gumam Shaina.
BERSAMBUNG....
__ADS_1