Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Tabrakan


__ADS_3

"Shaina, Hendra, kok nggak bilang bilang kalau mampir kemari?" Ucap Nyi.Linggar yang asyik menyiram tanaman di halaman.


"Tadi ke mini market mah, beli buah dll, Papah ada?"


"Kok nyari in Papah, biasa juga sama mamah?" Ucap Ny.Linggar.


"Nggak papa kok mah, udah sebulan ini nggak ketemu papah, sibuk keluar kota terus."


Sementara Hendra udah nyelonong duluan ke dalam.


"Ayo masuk dulu!" Mereka pun mauk dan duduk di Sofa ruang tamu.


"Mah, aku ingin pindah ke mari sama Bang Hendra juga Zahwa, boleh nggak?" Izin Shaina pada mertuanya.


"Boleh, boleh banget, emang ada apa?"


"Hendra semakin hari semakin parah mah, aku ingin Mamah bisa menjaganya saat aku tidak di rumah." Pinta Shaina.


"Ya Allah..." Air mata Nyi.Linggar pun menetes.


"Aku juga tidak tau harus gimana."


"Hey, kalian bicara apa? serius sekali?"


"Oh, Hen, mamah kesepian, kalian pindah ke sini aja ya!?" Kali ini mamahnya pura pura meminta, agar Hendra mau.


"Aku terserah Shaina aja Mah," Hendra pun duduk di samping Shaina dan menggandeng tubuh mungil istrinya.


"Besok kita akan pindahan, sementara Ummi, biar beliau tetap di sana, sekalian ngontrol Toko, nanti biar di carikan pembantu yang menginap." Ucap Shiana.

__ADS_1


"Bawa aja, nggak papa kok, biar aku ada temennya." Ucap Ny.Linggar.


"Ummi pasti tidak mau."


"Sayang, tadi kita mau ngapain ya, kok ke sini?" Tanya Hendra heran.


"Kita habis belanja buah dan makanan dan keperluan Obang tadi."


"Ooh, ayo!" ajak Hendea.


"Ke mana?" Shaina heran, baru nyampai udah di ajak pergi


"Nemuin Zahwa, nanti dia nyari in."


"Iya, Mah kami pamit ya? assalamualaikum."


"Wa alaikum salam."


Mereka meluncur menuju pulang, sepanjang jalan Hendra hanya bersiul.


Pagi yang cerah.


"Mah, Bang Hendra mana?" Mereka sudah pindah rumah ke kediaman Linggar Pratama.


"Nggak tau, tadi ada di ruang tengah sedang baca koran."


"Lho ke mana dia?" Shaina pun mencari ke kamar atas kebelakang dapur semua penjuru rumah sudah di cari namun tidak ada.


"Mah, Bang Hendra hilang, tolong Mah!"

__ADS_1


"Ha?" Se isi rumah pun di sibukkan dengan pencarian Hendra yang tiba tiba hilang.


"Apakah dia sudah separah ini? hik hik hik Bang, dimana kau hik hik hik?" Shaina menangis sambil berlari mengambil jilbabnya dan keluar menuju pos satpam.


"Paman, apakah paman melihat Hendra?" Shaina menanyai paman penjaga gerbang depan.


"Iya Non, tadi dia berjalan ke arah sana." Jawab Paman.


"Paman, minjam motoe paman ya?" Shainq oun mengambil motir matic paman satpam dan mulai menyisir jalanan arah yang di tunjukkan security tadi.


Obang...kamu di mana...ya Allah, tolong lindungi dia.


Shaina pun mulai meneteskan air mata di sepanjang jalanan. hari semakin gelap.


"Lho, itu ada orang ramai ramai ada apa?"


Shaina gugup saat di ujung jalan banyak orang berkerumun.


"Maaf, di sana ada apa ya pak?" Shiana tak sabar dan bertanya pada bapak bapak yang sedang lewat.


"Itu ada kecelakaan tabrak lari mbak, seorang pejalan kaki kayaknya kurang ingatan yang tertabtak." Jawab bapak tersebut.


"Astagfirullah."


Shaina pun kembali menjalankan kendaraannya.


ya Allah lindungi Obangku ya Allah. belum saatnya ya Allah.


Shaina terus berdoa dalam hati. hanya meminta kepada sang pemilik hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2