Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Salting(salah tingkah)


__ADS_3

"Silahkan duduk." Shaina pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor, dia membawa Fathir dan Salma masuk keruang tamu kecilnya di depan kamar, dan menutup tirai sebagai penyekat atara Mini market dan ruangan pojokan itu.


"Terimakasih." Ucap Fathir. Shaina pun masuk kedalam untuk memanggil Hendra.


"Siapa Mas? kok tiba tiba enggan berpegangan tangan dengan Salma?." Ucap Salma sedikit curiga.


"Nanti akan ku ceritakan." Balas Fathir santai. Salma hanya bisa diam.


"Fathir!" Hendra yang nongol di depan pintu ruangannya langsung menyapa.


"Hendra. Bagaimana kabarmu?" Basa basi Fathir.


"Alhamdulilah sehat. Ini istrimu?" Tanya Hendra spontan, saat melihat Salma duduk di samping Fathir.


"Iya, kalian sekarang tinggal di sini ya?" tanya Fathir pada Hendra


"Iya, sudah 9 bulan kami di sini," balas Hendra.


"Ini, diminum seadanya." Shaina pun membawakan air minum. Dia tidak mengungkit masalah Zahwa, karena dia takut Fathir sedang menyembunyikannya dari istri sahnya, namun.


"Zahwa mana?" Tanya Fathir tiba tiba.


"Oooh, kau mau bertemu?" Tanya Hendra.


"Ya iyalah, sekalian ketemu begini." Jawabnya dengan sedikit grogi.


Tap


Tap


Tap


Shaina ke dalam dan tak berapa lama membawa Zahwa bersamanya, Zahwa yang sudah terlihat wangi dan bersih karena sudah makan dan mandi begitu menggemaskan.


Hap.


"Anakku. emch harumnya. udah mandi sayang." Tiba tiba muka Zahwa berubah masam dan hampir menangis.


"Lho, kok gitu sayang," ucap Salma.


Salma pun mengambil Zahwa dari tangan Fathir, aneh, Zahwa tidak jadi nangis dan malah tersenyum.

__ADS_1


"Waaaah, dia pasti senang dengan mamah barunya." Ucap Hendra spontan. Fathir pun melotot.


"Huak...huak." Tiba tiba Salma mual dan mau muntah.


"Ayo ke dalam!" Shaina pun mengambil Zahwa dan memberikannya pada Hendra. lalu membawa Salma ke dalam.


"Kamu udah tespak?" Tanya Shaina.


"Belum." Salma pun masuk kamar mandi. dan menumpahkan semuanya di dalam.


"Ini, aku punya satu, mungkin masih bagus sisa aku dulu masih ku simpan kok dalam tasku." Salma pun menerimanya. dan menutup pintu setalah Shaina menyerahkan tes kehamilan dan wadah kecil.


Ceklek


Salma keluar dari kamar mandi.


"Alhamdulillah positif." Ucapnya.


Shaina pun tampak bahagia.


Mereka keluar dan Salma tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Ini." Salma menyerahkan tes tadi yang sudah di buat dalam plastiknya kembali.


"Apa ini? apa maksudnya?" Fathir pura pura tidak mengerti.


"Aku Hamil Mas." Ucap Salma.


"Benarkah? waaah selamat ya...." ucap Hendra.


Sementara Fathir hanya bengong dan bingung harus ngapain, akhirnya dia cuma berucap tanpa reaksi.


"Alhamdulillah."


"Lho, kok Alhamdulillah doaaaang, peluk dooong." Ucap Shaina menyemangati Salma.


Hap


Barulah Fathir memeluk Salma, namun dalam hatinya merasa tidak enak, karena hatinya masih di isi oleh Shaina, cinta pertamanya.


Setelah cukup lama bercengkrama.

__ADS_1


"Ayo kita makan siang di luar!" Ajak Shaina kepada semua, karena di rumah tidak ada lauk yang layak buat jamuan tamu.


"Tidak usah, kami pulang saja." Jawab Fathir.


"Iya, mari kita rayakan hari istimewa ini." Ucap Hendra. Shaina yang tidak menaruh hati sama Fathir biasa saja, namun lain dengan Fathir, kini hatinya berdetak dengan keras, rohnya sudah menghalu dan dialah yang berada di sisi Shaina.


"Ayo, biar aku yang traktir." Ucap Shaina.


Akhirnya mereka pun berangkat tak ketinggalan Ummi pun ikut. dengan mengendarai mobil masing masing.


di dalam mobil Fathir.


"Kamu kenapa sih harus tes kehamilan di dana, aneh aneh aja deh." Ucap Fathir yang kini mulai oleng.


"Mas kenapa sih? tadi Shaina yang memaksa. lagian nggak papa juga kok." Salma merasa kalau kini suaminya mendadak berubah.


"Tapi malu maluin aja." Jawab Fathir.


"Dia mantan Mas yang dulu Mas ceritain kan? cantik, pantas saja sampai saat ini Mas nggak bisa melupakan dia." Nada Salma pun kini terdengar marah dan kesal.


"Sudahlah, aku juga tak ingin membahasnya lagi, dia cuma masa lalu." Jawab Fathir.


"Tapi aku melihat Mas masih mencintainya kan?" Salma kini menanyakan hal yang tidak bisa di jawab Fathir.


"Salma! sudah! jangan bahas ini, setelah kita makan siang, kita segera pulang, dan tidak akan membahas ini lagi." Pinta Fathir.


"Mengapa Mas nggak bisa melupakan wanita itu, bukankah Mas bertemu dia tanpa kesengajaan, tanpa cinta dan tanpa pacaran? mengapa Mas sangat susah melupakan wanita itu?" Tanya Salma membabi buta.


"Salma! diam! karena dia adalah ibu dari anakku, dan setelah aku tau dia hamil aku tergila gila padanya, kau mengerti? puas?" Bentak Fathir tiba tiba. Salma pun diam dan merasa takut.


Akhirnya mereka sampai di sebuah restauran berbintang yang harga perporsinya rata rata di atas 200rbu ke atas.


Mereka pun turun dan memesan hidangan.


Deg


Mata Shaina tertuju ke seorang pengawas Hotel yang sangat tidak asing di mata Shaina.


"Faruz?" Gumam Ummi yang tak kalah terkejutnya melihat pemandangan itu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2