Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Kecurigaan


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Pak Linggar terlihat menuruni anak tangga dengan tergesak gesak.


"Bibi, aku ingin kau melakukan sesuatu!"


perintah Pak Linggar.


"Iya Tuan. ada apa Tuan?"


"Aku ingin kau... kau mengawasi gerak gerik Laila juga Luna(Nama Istrinya)."


"Emang kenapa Tuan?" Bibi tampak heran dengan perintah Tuannya.


"Kau perhatikan saja, bagaimana dia bersikap dengan Shaina. atau dengan Hendra, laporkan padaku."


Perintah Pak Linggar lagi.


"Baik tuan."


Walau pun masih bingung, namun Bibi tidk berani lagi bertanya.


Pak Linggar pergi meninggalkan dapur dengan hati Was was.


Sebenarnya, apa yang terjadi ya?


bathin Bibi.


Pak Linggar sudah sampai di kamarnya.


Ternyata Shaina sangat baik hati, walau dengan kondisi hamil dia sangat telaten mengurus Hendra. aku harus melakukan sesuatu.


Bathin pak Linggar lagi.


...


...


...


Bruk


"Mamah...tolong!"


Teriak pak Linggar dalam kamar mandi.


"Ada apa Pah?.....ha? ada apa? kenapa kau duduk di lantai?"


Mamah Hendra panik dan segera menangkap pak Linggar.


"Aku terjatuh dan tidak bisa bangun Mah."


Papah Hanan terlihat sangat cemas dengan dirinya sendiri.


"Uuuh, berat sekali pah, tunggu!...Bibi... tolong Bi..." Mamahnya hendra berteriak nyating memanggil Bibi.


"Iya Nya."


Bibi tergopoh gopoh mendatangi kamar majikannya.


Bibi dan Ny.Linggar pun menganggandeng suaminya menuju ranjang.


"Mah, kayaknya aku nggak bisa bangun tolong hubungi dokter keluarga kita."


perintahnya.


"Iya pah."


Ny.Linggar pun mengambil HP dan menelpon dr.keluarga.


Sementara pagi ini di kamar Shaina.

__ADS_1


"Aku harus tes dulu."


Dia bergegas menuju kamar mandi membawa wadah dan alat tes kehamilannya.


set sit sut


Shaina menunggu hasil dengan gelisah. dan...


"Dua garis..."


Shaina segera keluar membawa hasilnya.


"Bang...lihat! aku hamil Bang, alhamdulillah."


Shaina memeluk Hendra yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memegangi HP.


"Hamil? oooh."


Hendra hanya bereaksi seperti itu. Penyakit Hendra benar benar semakin memburuk, Shaina dengan sabar melayaninya sepenuh hati.


Semakin hari semakin besar pula kandungan Shaina. dan begitu juga perut Laila yang di isi kain😄


"Huak...Bi tolong ambilkan minyak kayu putih di atas kulkas."


Shaina slalu meninggalkannya di sana, karena dia tau, sering muntah kalau mencium makanan.


"Ini Non."


"Ellleh...paling juga boongan." Tiba tiba Laila datang dan duduk di kursi dekat meja makan.


Sekarang Ny.linggar dan Laila sering menindas Shaina. Shaina hanya diam tak mau menanggapi.


"Mau makan apa?"


Ny.Linggar bersama suaminya yang duduk di kursi roda juga datang ke dapur.


"Ma..ma..makan."


Ucap pak Linggar yang sekarang stroke mendadak akibat jatuh dulu.


Ny.Linggar pun menknggalkan pak Linggar di dapur.


"Oke mamah sayang, dah Sahiiiin." Ucap Laila.


"Papah mau makan apa? biar Shaina ambilkan."


Shaina pun mengambil lauk yang biasa di makan mertuanya, dan menyuapinya pelan pelan. Selezai memuapi mertuanya, dia juga mengambilkan nasi buat Hendra.


"Shaina...apa kau tidak bosan mengurus Hendra?"


"Pah, dia suamiku, aku akan berbakti dampai takdir yang memisahkan kami."


Jawabnya.


"Shain, maafkan aku, dulu sempat menentangmu untuk menikah dengan Hendra."


Sudahlah Pah, itu masa lalu, oh ya, aku ke kamar dulu."


Shaina pun ke kamar untuk memberi makan Hendra.


...


...


...


Di pusat perbelanjaan, nampak Ny.Linggar dan Laila sedang,sibuk memilih milih baju dan tas bermerek.


"Aku bingung mah semua bagus, apa boleh aku beli ke 3 nya?"


Tanya Laila pada mertuanya.


"Beli saja, uang kita untuk beli butiq ini oun masih cukup kok."


Di kejauhan.

__ADS_1


"Bukankah itu mertua Shaina, aku pernah bertemu di kantornya benerapa kali."


Fathir yang kebetulan sedang jalan jalan bersama anak nya Yola dan juga Salaman dan baby sitter tak sengaja melihat mamah Hendra, dia pun mendekatinya. Mungkin berharap Shaina ada di sana.


"Nyonya...bukankah kau ibunya Hendra?"


Sapa Fathir.


Laila dan Ny.Linggar pun terpesona dengan ketampanan Fathir.


"Kau...? rekan bisnisnya Hendra kan?"


Ternyata Ny.Linggar masih mengenalinya.


"Iya. bagaimana kabar Hendra sekarang?" Tanya Fathir basa basi.


"Dia sudah melupakan semuanya, bahkan sama kami semua saja sudah lupa."


Ucap Ny.Linggar tanpa menyembunyikan aib keluarganya.


"Bagaimana dengan Shaina?"


Tanyanya lagi.


"Oh iya, ini istri Hendra sedang mengandung pewaris tunggal keluarga kami."


tambahnya lagi.


"Maksudnya apa ya?"


Fathir jadi bingung sendiri, tidak bisa mencerna, setahunya Hendra anak sat satunya dan menikah dengan Shaina.


"Iya... ini istri ke dua Hendra, sebelum Hendra lups ingatan."


Deg


"Maksudnya?" Hendra masih ingin memlerjelas.


"Iya..istri Hendra."


Kepa...rat Hendra, berani dia menduakan Shainaku.


Bathinnya.


"Oooh, Kalau Shaina di mana sekarang?"


Mungkin di kira Fathir mereka cerai, biar bisa di pinang kembali😁


"Ada tuh, lagi ngurusin Hendra. Udah ya, kami mau lanjut.."


Fathir pin di tinggal begitu saja.


Apa? Shaina ngurusin Hendra? Aku harus tau, aku harus ke rumahnya sekarang.


"Salman, bawa Yola dan bibi pulang, aku ada urusan!"


"Baik Bos."


Mereka pun pergi masing masing. Fathir berencana mengunjungi Shaina di rumah mertuanya....


...


...


...


Ting tong


"Siapa?"


Shaina yang baru selesai makan siang pun menuju pintu untuk membukanya.


Ceklek


Dag dig dug dooor

__ADS_1


BERSAMBUNG...(792)


__ADS_2