Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Kembali Pulang


__ADS_3

Zahwa terus di bawa oleh paman sopir entah menuju arah mana. Yang jelas tentu saja dia tidak akan menyerahkan begitu saja anak orang kaya tersebut.


"Paman, mengapa nggak nyampai nyampai?" Tanya Zahwa.


"Masih jauh Non, ini masih di luar kota, kan perusahaan Linggar grop itu ada di pusat kota." Jawab paman Sopir.


"Ooh begitu ya?" Jawab Zahwa.


Dreeet


Suara Hp paman sopir berdering.


'Helo? ada apa susi?"


Ternyata istri paman Sopir yang nelpon.


'Adit sakit yah, pulanglah! aku nggak ada uang untuk membawanya berobat, mencari hutangan juga nggak ada yang mau nolongin, hutang kita masih banyak yah."


Suara pilu wanita di sebrang telepon.


'Aku nggak bisa pulang sekarang, ini juga baru dapet uang sedikit, kamu bawa aja ke bidan, nanti aku bayarin, ada bisnis besar nih."


Ucap paman Sopir.


'Apa kah benar kau bisa membayarnya nanti, baiklah, aku segera ke bidan, ini Adit demamnya tinggi sekali.'


Tuuut.


"Apa yabg harus aku lakukan dengan gadis ini, bagaimana aku tau dan menghubungi keluarganya untuk minta tebusan."


Gumamnya.


"Paman ngomong apa, tebusan apa?"


Tanya Zahwa yabg mendengar gumaman Sopir.


"Oh tidak, oh iya, emang kamu sama siapa di desa kecil ini?"


Tanya sopir.


"Aku sudah 2 minggu nggak pulang, kata nenek, mamaku sakit, dan aku nggak boleh pulang ke rumah, padahal aku sangat rindu sama mama."


Cerita Zahwa.


"Nama kamu siapa?"


Tanya Sang Sopir.


"Zahwa pak, nama ibuku Shaina dan papaku Fathir Ceo perusahaan ShinWa."


Dooor.


Tentu saja Sopir terkejut mendengar nama Fathir. Lelaki Kepercayaan pak Manae grop itu sangat terkenal di Medsos. Selain tampan dan juga dingin, dia juga di isukan adalah pembunuh bayaran pak Manae, walau tak ada yang bisa membuktikannya, bulu roma Sopir pun bergidik mendengarnya.


"Jadi kau anak Tuan Fathir? apa paman boleh minta tolong?"


Tanya Sopir.


"Boleh paman, ada apa?"


Tanya Zahwa balik.


"Anak paman sedang sakit, apakah Nona muda bisa membayarkan biaya berobat anak paman? paman sedang tidak punya uang, bahkan paman sudah banyak hutang sama tetangga paman."


Sopir terdengar memohon dsn sangat berharap, Zahwa bisa membantunya tanpa harus berurusan dengan keluarga Fathir.


"Oh tentu paman, aku akan mengatakannya pada mama, mama pasti mau membantu, antarkan saja aku ketemu mama paman."


Jawabnya ceria.


"Baik Nona."


Sopir pun menuju kota untuk mendatangi perusahaan Linggar Grop yang Zahwa jelaskan. Setelah sejam lebih mereka sampai di perusahaan itu.


"Non Zahwa? kau?"


Security yang melihat Zahwa pun segera menyongsong kedatangan gadis kecil yang sudah hilang itu.


"Paman, mama ada?"


Tanya Zahwa.


"Nona, Bu Bos tidak pernah ke kantor lagi mulai saat Nona menghilang."

__ADS_1


Ucap Security itu.


"Baik paman, antarkan aku pulang ya, aku lupa jalan." Pinta Zahwa.


"Baik Non, sebentar, aku ambil motor dan memberi tahu atasan."


Beberaap saat security datang dwngan membawa motornya.


"Aku naik taksi saja, biar paman jalan di depan."


Mereka pun meluncur menuju kediaman Zahwa. Zahwa sangat senang. Sepanjang jalan dia senyum senyum sendiri.


"Ada apa Non? apa Non sangat senang?"


Tanya Sopir taksi.


"Iya paman." Jaaabnya.


...


...


...


Ceklek


Luna baru datang dari luar dan membawa banyak cemilan.


"Ha?" Matanya terbelalak saat menyadari Zahwa tidak ada di ranjangnya.


dia masuk dan membuka Kamar mandi.


"Tidak ada."


Ucapnya.


"Kemana anak itu? tidak mungkin dia lari, mau ke mana dia, dia tidak kenal tempat ini."


Luna panik, dia pun berlari menuju kantor Ghia.


Bruk


Membuka kasar.


"Apa maksud Uwa? bukankah tadi sama Uwa, aku nggak ada ke kamar sejak terakhir tadi Wa!" Jawabnya.


"Dia tidak ada di kamarnya Ghia, tolong cepat lihat CCTVnya!"


Ghia oun menuju ruangan satlam yang sda di pojokan.


"Paman, apakah kau melihat gadis kecil keluar dari kamar 3A?" Tanya Ghia.


kalau dari kamar itu kurang memperhatikan Bu, tapi ada banyak orang yang lalu lalang di teras, termasuk anak kecil." Jawabnya.


"Ayo paman, putar ulang 1 jam terakhir di depan kamar 3A!" Titah Ghia.


Paman itu pun memutar ulang.


"Itu dia, benar, anak itu keluar dari lingkungan klinik, coba ke halaman!" Ucap Luna panik.


dan di halaman pun Luna melihat Zahwa naik Taksi.


"Aaaaah, sial, bagaimana anak itu berani kabur." Gerutu Luna.


"Uwa, mudahan saja anak itu tidak apa apa, Uwa juga sih nggak mau mendengarkan Ghia, bagaimana kalau anak itu di culik penjahat beneran." Ucapnya lagi.


"Ghia, kamu jangan nakut nakuti gitu dong, bantu kek kejar tu anak!" Ucap Luna.


"Mau di kejar ke mana Wak? udah 1 jam lho! kita tunggu aja, nanti juga akan mjncul di TV kalau anak pengusaha kaya itu sudah ketemu." Balasnya, Ghia pun kembali ke ruangannya.


"Ghia, tolong Uwa dong!"


Ucap Luna lagi sambil terus mengiringi langkah Ghia.


"Nggak bisa Uwa. tunggu saja kabar dari mereka." Ucapnya.


...


...


...


"Assalamualaikum mamaaaaa." Zahwa berlari masuk dan terus berlari menuju kamar mamanya.

__ADS_1


Ceklek


"Mama..." Zahwa membuka pintu.


"Zahwa... Zahwaaaaa." Shaina pun berdiri dan berlari mendekati Zahwa yang berdiri di depan pintu.


"Mamaaaa hik hik hik."


Zahwa oun menangis sekuat kuatnya.


"Zahwaaaaa, kamu ke mana saja nak? kenapa nggak pulang pulang hik hik hik."


Shaina menumpahkan air matanya, dadanya yang selama ini terasa sesak kini seakan plong, begitu juga Zahwa.a


"Aku di bawa nene Luna ma, katanya mama sedang sakit keras, dan nggak boleh di jenguk, makanya dia bawa Zahwa."


Cerita Zahwa dengan nafas yang tersengal sengal.


"Sayang, emch emch emch, jangan pernah percaya pada siapa pun kecuali mama dan papa oke?" Pinta Shaina.


"Iya ma, oh iya, aku bawa seseorang yang butuh pertolongan mama." Ucap Zahwa sambil menarik tangan mamanya keluar.


Shaina pun mengikuti Zahwa. Zahwa juga bercerita paman satpan yang mengantarnya ppulang.


"Paman Satpam, terimakasih banyak, paman boleh kembali ke kantor." Ucap Shaina.


"Ma, ini paman taksi yang membawaku ke mari."


Ucap Zahwa mengenalkan paman taksi.


"Paman, terimakasih banyak, sungguh aku sangat berterimakasih pada paman, walau aku beri se isi perusahaanku mungkin itu takkan bisa mengungkapkan rasa terimakasih dan syukurku paman. Kalau ada yang paman inginkan dan aku mampu untuk memberinya, aku akan melakukannya paman, katakan saja."


Ucap Shaina.


"Kalau boleh, mohon maaf sebelumnya, saat ini anak kami sedang sakit dan perlu biaya pengobatan Nyonya, dan kami tidak bisa membayar. Apakah Nyonya bisa membantu kami untuk pembayaran biaya sakit anak kami."


Dengan malu malu Sopir itu mengatakan keadaannya saat ini.


"Baik paman, berapa paman perlu, katakan saja jangan sungkan."


Shaina pun berjalan ke kamar untuk mengambil Hpnya.


Tap


Tap


Shaina datang membwa HPnya dari kamar.


"Mungkin hanya 3 juga Nyonya, mohon maaf, saya terdesak." Ucap paman sopir.


"Berapa no Rekening paman? aku tidak punya uang Cash."


Drettt


Hp Shaina bergetar.


'Helo Beng, bagaimana ke adaan Rangga?"


'Dia belum siuman. Sekarang menunggu hasil pemeriksaan.'


'Baiklah'


Setelah salam Fathir pun menutup telepon.


"Mana no rekening bapa?"


Sopir pun mengambil Hp dan memperlihatkan no rekeningnya.


Shaina pun mulai memencet angka angka yang ada di Hp paman.


Klok


Berhasil


"Sudah paman ya, ini berhasil sebesar 50 juta rupiah, kalau paman perlu lagi, tinggal bilang saja.".Ucap Shaina.


" 50 juta? apa aku tidak bermimpi?"


Paman itu terlihat kaget.


"Tidak paman,"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2