
Shaina menutup mulutnya yang terlanjur terbuka.
"Apa maksudmu Mi? 2 atau 3 tahun lagi? Hendra akan meninggal? siapa yang berani mengatakan takdir Tuhan demikian Mi? Hendra baik baik saja, mengapa ada orang yang tega mengatakan seperti itu?" Shaina tampak tidak terima.
"Nak, dengarkan dulu, Hendra terluka bagian kepala belakang, dan itu merusak beberapa fungsi syarafnya, melumpuhkan beberapa ingatannya. dia mengidap penyakit langka, apa ya namanya, pokonya tua sebelum tua gitu deh." Ucap Ummi.
"Alzheimer?"
"Ya betul Azemar."
"Alzheimer!? Hendra terkena penyakit itu? bagaimana mungkin? oooh."
Shaina pun terduduk, persendiannya terasa lumpuh, terkenang kembali bagaimana Hendra berjuang selama ini membantunya bangun dari keterpurukan, canda Hendra yang slalu membuat pipinya merona, usaha Hendra yang bersikeras untuk menikahi dan menjadi ayah bagi Zahwa, semua itu seakan tak bisa Shaina terima.
Hap
"Mi ayo!" tiba tiba Shaina berdiri dan meraih tangan Ummi, dia pun berdiri dan ke kamar menggendong Zahwa.
"Mau ke mana Nak? pelan pelan, kamu baru saja operasi, jahitan mu pun belum sembuh benar."
Shaina baru saja melahirkan 7 hari lalu, dan masih Nifas.
"Kita ke rumah Hendra sekarang."
"Ha?" Ummi yang baru datang pun jadi bingung sendiri atas tingkah Shaina.
"Iya Mi! ayo!"
"Iya, iya."
Mereka pun pergi memesan taksi dan melaju menuju kediaman Hendra.
"Emang ada apa nak? kalian akan menikah besok, kenapa harus bertemu sekarang? oh iya, Hendra tidak perlu tau tentang penyakitnya ini, mungkin dia akan merasa sering sakit kepala."
"Jadi kita juga akan merahasiakan penyakitnya?"
"Iya Nak, kita jangan menambah bebannya, kasian, kata dokter ingatannya akan berkurang hari demi hari, dan saat itu kita harus siapkan mental. Dia anak tunggal nak, bagaimana caranya selama kalian bersama, Ny.Linggar ingin kalian punya anak yang banyak."
"Oh....hik hik hik." Shaina menangis. hatinya sangat sakit, begitu banyak perjalanan yang telah mereka lalui bersama.
"Anak? bagaimana bisa Mi, aku baru saja operasi?"
"Ny.Linggar akan mencarikan obat dan dokter yang hebat untuk kesembuhan tercepat luka operasimu." Tambah Ummi lagi.
Sepanjang perjalanan Ummi dan Shaina terus saja mengingat betapa baiknya Hendra selama ini. Bahkan air mata Shaina tak henti hentinya menetes.
Mereka pun sampai di depan gerbang Rumah keluarga Linggar Pratama yang megah.
security pun membukakan pintu, karena sudah mengenal Shaina.
"Shaina...." Ny.Linggar yang melihat kedatangan Shaina pun segera berlari kecil menyongsong kedatangannya.
"Shaina hik hik hik...." Ny.Linggar menangis tersedu sedu. dia peluk tubuh kurus Shaina yang sedang menggending Zahwa Shaina kun tak kalah serunya, dia juga menangis terisak.
"Ayo masuk, kita tidak perlu mengatakan apa pun ke pada Hendra tentang penyakitnya ini."
"Kalau itu permintaan Tante, baiklah." Jawab Shaina."
__ADS_1
Tap
Tap
Tao
Merwka pun sudah masuk ke ruang tamu yang megah, dengan sofa yang cantik dan besar bak ke dudukan raja dan ratu.
"Shaina, sini biar Ummi gendong." Shaina pun menyerahkan bayinya pada ummi.
"Ayo, mamah antar ke kamar Hendra." Ajak Ny.Linggar. Shaina pun berjalan mengikuti Mamah Hendra menuju kamar ke dua.
tok tok tok
"Hen..."
Ceklek
Mamahnya membukakan pintu, Hendra yang baru saja terlelap pun tak menyadari kedatangan Mereka berdua.
"Tante biar saja tidak usah di bangunin." Ucap Shaina.
"Baiklah, mamah mau keluar dulu, kau tunggu saja, mungkin nanti dia akan bangun."
"Tante pintunya tidak usah di tutup ya, biar di buka semua." Ny Linggar pun membiarkan pintu Hendra terbuka lebar. Baru kali ini Shaina menatap wajah Hendra yang terlelap, perasaan yang tak karuan campur aduk. terbayang beberapa kenangan indah bersama . Hendra perlahan membuka matanya, karena merasa ada yang memperhatikan.
"Shaina? kau? apa aku bermimpi."
Hap
Tiba tiba Shaina memegang tangan Hendra dan menggenggamnya erat. Hendra kaget, karena sebelumnya jangankan bersentuhan kulit, duduk berdampingan saja dia tidak mau.
"...???" Hendra benar benar seakan mimpi.
"Ya Tuhaaaan, kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku lagi ya Tuhaan," Ucapnya.
Shaina pun tersenyum namun meneteskan air mata.
"Kenapa menangis?" Tanya Hendra yang heran melihat Shaina menangis.
"Aku senang, akhirnya Mamamu bisa merestui kita." Bohong Shaina.
"Ooh, kirain ada apa. besok kita pasti menikah. Kau sudah siapkan?" Hendra pun membalas genggaman tangan Shaina. ada sengatan Listrik yang menjalar di tubuhnya tiba tiba. Hendra mendekatkan wajahnya mendekati Shaina.
"Tunggu!" Ucap Shaina tiba tiba.
"Tunggu? kenapa?"
"Tunggu besok, kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan." Jawab Shaina. Shaina pun melepaskan genggamannya.
"Benarkah? apakah kau akan memberikannya secepat itu?" Yeee ke mana ya arah tujuan Hendra😄.
"Haha, apaan sih Mas. Tunggu saja besok." jawab Shaina sambil tersipu malu.
"Zahwa mana?" Tanya Hendra.
"Di depan sama Ummi, udah ya, mau keluar dulu," Shaina pun berdiri dan berbalik.
__ADS_1
Hap
Hendra memeluk Shaina dari belakang.
"Janji besok ya? kita akan menikah." Ucap Hendra.
"Iya janji, tolong lepaskan." Hendra pun melepaskan. Air mata Shaina pun kembali mengalir, dia berjalan tanpa menoleh, dan menyapu air matanya dengan ujung jilbab segi tiganya. Sementara Hendra menatap Shaina sampai hilang di balik pintu sambil tersenyum sangat sangat sangat bahagia, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya, dia pun tergesak gesak menyusul Shaina.
"Ummi, maaf, aku ketiduran." Hendra pun sudah duduk di sofa samping Shaina dan Zahwa.
"Nggak papa, kamu banyak istirahat saja. Sembuhkan luka jahitmu itu, jangan mikir macam macam ya." Nasehat Ummi.
"Oh iya, Shain, kamu pengen mahar seperti apa? karena ini dadakan jadi mungkin aku akan belikan seadanya, nanti biar Mamah yang beli in." Ucap Hendra.
"Nggak usah Mas, kemaren kan sudah ada Supermarket, itu udah cukup kok."
"Ya udah, terserah kamu deh kalau begitu."
Mereka berbincang banyak tanpa terasa sudah cukup lama mereka bercengkrama. Shaina dan Ummi pun pamit pulang, di antar oleh sopir.
*
*
*
Pagi yang cerah, Ummi dan Sahina tampak sibuk mandi dan sarapan sepagi mungkin.
Tok tok tok
"Assa...la...mu...alaikum." suara replay
"Wa alaikum salam, siapa ya sepagi ini?." gumam Ummi, Ummi pun berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
"Ummi...Bruk."
Ternyata Fathir yang tiba tiba datang dan jatuh di kaki Ummi.
"Fathir, ada apa nak? kok kamu begini? Shaina, kemari nak!" Ummi pun bingung mau ngapain.
"Ada apa Mi? sebentar." Shaina pun mendekati Ummi dan menatap tajam pada pria yang tersungkur di muka pintu.
"Siapa Mi?" Shaina masih belum mengenalinya.
"Fathir." ucap Ummi.
"Hah? Kenapa dia jatuh?" Tanya Shaina.
"Nggak tau, ketika ku buka pintu, dia langsung jatuh gitu, sebentar, biar aku telpon Budi."
Shaina pun berusaha menarik tubuh Fathir, namun apa daya tubuh Fathir yang begitu besar dan kekar di bandingkan tubuh Shaina yang ramping dan kurus itu.
"Shainaaaa....Shainaaaa" Fathir memanggil namanya berulang..
BERSAMBUNG....
Hendra Linggar Pratama
__ADS_1