Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Nafas Terakhir


__ADS_3

Ny.Linggar terus berteriak teriak memohon maaf.


Hap


"Shaina...maafkan aku, aku tidak tau kalau Laila telah membohongiku, aku mohon, jangan tangkap aku Shain!"


Ny.Linggar sujut di kaki Shaina dan terus memohon


Plak


"Pergi...pergi!"


Tiba tiba Hendra m@nampar wanita itu.


"Bang! jangan, tidak boleh." Ucap Shaina.


"Tidak boleh.?" Tanya Hendra balik dengan wajah lugunya.


"Iya..Ayo Bang, biar Obang ke kamar saja."


Luna di tarik oleh Polwan dan di bawa ke kantor polisi, sementara Shaina menuju kamarnya.


Ceklek


Shaina membaringkan Hendra, dan Shaina pun ikut berbaring.


"Bang...Apa kau tau? ku sungguh tidak menyangka semua ini, mengapa Mamah begitu jahat pada kita, apa salah kita?"


"Salah."


Hendra mengulangi kata akhir Shaina.


Tok tok tok


"Sebentar!..... Bang, tunggu di sini ya!"


Shaina pun membuka pintu.


"Papah!"


Ternyata pa Linggar.


"Aku ingin bicara denganmu, ayo!"


Shaina pun mengikuti pa Linggar menuju ruang tamu.


"Aku ingin menceritakan kisah Hendra."


Mereka duduk besebrangan.

__ADS_1


"Luna adalah mama tiri Hendra."


Pembuka pembicaraan pa Linggar yang membuat Shaina terkejut.


"Jadi? dia bukan mamah kandungnya? tapi....mengapa sebelum kami menikah dia sangat menentang kami? bahkan dia sangat menyayangi Hendra pah?"


Ucap Shaina tak percaya.


"Aku baru menyadarinya, dia hanya mencari pewaris ku, aku juga mohon maaf telah salah menilaimu selama ini, dan saat aku mulai menyadari kebaikanmu pada Hendra, di situlah aku ingin menyelidiki kebenaran ini, dengan berpura pura sakit."


"Papah...jadi itu hanya sandiwara?"


Shaina juga kaget dengan semua yang telah di lakukan Mertuanya itu.


"Ya...jagalah pewaris ku itu! mau dia perempuan atau dia laki laki, dia akan tetap menjadi pewaris ku kan?"


"Iya pah, papah juga jaga kesehatan."


Pa Linggar tersenyum dengan perhatian Shaina.


"Mulai besok kau ngantor lagi ya! aku ingin kau belajar lebih giat lagi Bisnis keluarga kita, aku juga tidak tau, kapan usiaku ini habis, sebelum pewaris ku besar, ku ingin kaulah yang menghandle semuanya!"


Tambahnya lagi.


"Baik pah," Kali ini Shaina merasa lega, dia berharap ini adalah akhir dari semua penantian dan ujian panjangnya.


"Shainaaa..."


"Pah, aku ke dalam."


Shaina tergesak gesak mendatangi suara Hendra, begitu juga papahnya menyusul di belakang.


Ceklek


"Ada apa Bang?"


"Siapa kau? mana Shaina? aduuuh sakiiit." Hendra memegangi kepalanya keras.


"Bang...aku Shaina Bang! sini aku pijitin."


Shaina ingin memijit kepala Hendra namun.


Plak


"Bukan! Shainaaaa dimana dia? Shaina..."


Hendra malah menepis tangan Shaina kasar.


"Biar Papah coba."

__ADS_1


Ucap Papahnya.


"Nak, ini papah Nak, apa kau mau ke rumah sakit!"


Ajak papahnya.


"Pappa..."


Hap


Hendra memeluk papahnya erat.


"Ngantuk paaah."


Ucap Hendra manja


"Ayo papah boboin."


Hendra pun kembali di baringkan di ranjangnya. sambil di pijit pijit lembut hingga akhirnya dia tertidur.


"Aku besok akan ke luar kota, mungkin seminggu atau lebih, tolong kau urus semua keperluan perusahaan termasuk tanda tangan gajih karyawan ya?" karena sebentar lagi karyawan gajihan.


"Baik Pah"


Mertuanya pun keluar.


Apa aku boleh membuka deary Obang ya? apa yang dia tulis?


Shaina pun membuka laci paling bawah, dia pernah melihat Hendra memasukkannya di situ.


"Apa boleh ku buka? Bang, maaf, aku ingin tau, apa yang kau tulis."


Seeet


Shaina membukanya halaman pertama, saat itu sebelum dia menikah dengan Laila, dan di hari dia tau penyakitnya.


Shaina...aku mencintaimu, walau pun nanti kau terlihat keriput aku akan slalu mencintaimu.


"Jelek amat perandaian nya Bang."


Gumam Shaina.


Di hari berikut


Shaina jiwaku...maafkan aku, kalau kelak aku tidak bisa mendampingimu sampai akhir, tetap ingatlah padaku meski kau telah memiliki orang lain.


Shaina mulai meneteskan air matanya, dia terisak. Sementara Hendra yang tertidur, mulai bernafas dalam dalam namun semakin lama semakin pendek dan pendek hingga nafas itu habis.


Malam semakin larut. Shaina pun sangat mengantuk dan tertidur dengan meletakkan kepalanya di atas meja.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2