
Budi dan teman temannya pun masuk untuk membereskan barang barang yang perlu di bawa. Sementara Shaina dan ummi tampak memasukkan pakaian ke dalam tas.
"Assalamualaikum." Tiba tiba Hendra datang dengan wajah yang penuh luka.
"Wa alaikum salam, Nak, kenapa kamu begini?" Ummi tampak khawatir dan bingung melihat Hendra babak belur.
"Aku di keroyok Mi, papa Santi memaksa aku untuk menikahi anaknya Mi, aku di beri waktu 3 hari untuk berpikir."
"Nak, ya Allah, kepalamu juga berdarah, ayo kita ke rumah sakit!....Shaina, kamu tinggal ya aku mau bawa Hendra dulu." ucap Ummi.
"Mas Hendra kenapa Mi?-
Bruk
Tiba tiba Hendra jatuh tidak sadarkan diri. Ummi pun panik begitu juga Shaina.
"Budi, tolong angkat dan masukan dalam mobil grabe itu Ayo!" Ummi pun lebih dulu maju menuju mobil yang di maksud.
"Shain, kamu sendirian ya di rumah kunci aja pintunya, nggak usah ada tamu, mas Budi, klo sudah selesai satu truk, besok aja di sambung ya?" perintah Ummi.
"Baik Bu."
Mobil Ummi pun melaju dengan cepat bersama Hendra menuju rumah sakit. Darah terus mengucur dari kepala Hendra. Ummi benar benar takut kalau terjadi sesuatu dengan Hendra.
"Oh iya, aku harus telpon mamah Hendra." gumam Ummi, dia pun mengambil Hp Hendra.
Dreeeeet berulang ulang
'Helo, Hendra, akhirnya kau menelpon juga,..."
'Bukan, ini ibunya Shaina, Hendra masuk Rumah sakit......Ini masih di perjalanan.'
'Apa?, ada apa dengan Hendra, kemaren baik baik saja, ini pasti gara gara Shaina.'
'lbu datang saja biar ibu tanya sendiri nanti , assalamualaikum.'
Mamah Hendra tampak marah dan kesal.
"Pah, ayo kita ke rumah sakit, Hendra sakit pah." Ucap mamah Hendra.
"Sakit apa, mungkin itu karma karena berani sama orang tua, kamu saja, aku lagi sibuk melengkapi Berkas PT. ku untuk laporan nih." Jawab papahnya.
"Baiklah, aku akan bawa sopir."
Mamah Hendra pun mengambil tas dan berangkat bersama Sopir.
Sementara di perjalanan menuju rumah sakit, Hendra masih pingsan dengan darah terus mengalir di bagian kepala belakangnya.
"Pak tolong cepat sedikit ya? kasian anak ini." Ummi pun menyumbat Kepala Hendra dengan telapak tangannya.
Sesampainya di depan UGD
Tap
Tap
Tap
Perawat pun membawa Hendra keruang UGD dan memeriksa luka di kepalanya.
"Tolong sus, kenapa darahnya keluar terus?"
__ADS_1
"Kita tunggu dokter dulu ya, nanti akan di Scan baru ketahuan." Perawat itu pun membersihkan luka dan menjahit kepala Hendra yang koyak.
"Mana Hendra, ada apa dengan anakku?"
"Bu, Di sini, Hendra di sini bu." Ummi pun memanggil mamah Hendra yang terdengar mencari nama Hendra.
Tap tap tap
"Hendra, haaaa kenapa banyak sekali darah, apa yang terjadi, berkelahi dengan siapa dia? ini pasti gara gara Shaina, apakah Shaina itu anakmu heh?"
"Maaf bu, ini tidak ada hubungannya dengan Shaina, dia datang ke rumah kami sudah seperti ini."
"Alaaaah, dia durhaka ke pada kami, dia pergi dari rumah karena ingin menikahi Sahina, ini akibatnya." Mamah Hendra tampak sangat marah dan benci terhadap Shaina.
"Tunggu sampai dia siuman, siapa yang telah membuatnya begini?"
"Anakku ini pintar silat, mana mungkin babak belur begini, berarti memang orang orang yang juga hebat sehingga bisa melukainya."Protes Mamah Hendra lagi.
"Kami akan membawa Tuan ini ke ruang pemeriksaan, silahkan kalian tunggu di luar ruangan."
Mereka pun membawa Hendra di iringi Ummi dan mamah Hendra ke tempat pemeriksaan.
Setelah menunggu 30 menit kurang lebih pemeriksaan selesai.
"Keluarga Hendra linggar pratama."
"Saya sus." Mamah Hendra pun maju.
"Ikut keruangan menemui dokter."
Ny.Linggar pun masuk mengikuti suster.
"Bu, maaf, sebelumnya ibu harus kuatkan mental dulu." Ucap dokter itu.
"Emang ada apa dok? kenapa dengan anak saya." Ny.Linggar sangat penasaran.
"Dia mendapatkan hantaman yang cukup keras di kepala bagian belakang, dengan sangat menyesal saya kabarkan kepada ibu bahwa...." dokter terdiam seakan lidahnya tak bisa lagi bergerak.Rasa tak tega mengatakan itu.
"Dok, ada apa? kenapa dengan anak saya? katakan saja, mudahan masih bisa di obati. berapa pun akan saya bayar dok."
"Anak ibu mengalami kelumpuhan syaraf, dan kemungkinan akan menimbulkan penyakit Alzeimer."
"Alzeimer? penyakit seperti apa itu dok?"
"Ingatan yang melemah, penuaan dini, kalau bisa bertahan dia akan bertahan selama 2 atau 3 tahun lagi, setelah itu dia akan mulai menua, ingatannya mulai melemah. dan akhirnya dia akan melupakan orang orang di sekitarnya, dan....."
"Ooh tuhaaan, dan apa dok, Apa tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya?"
"Selama ini, kami belum bisa menemukan obat yang mujarab untuk ini, dan dia akan meninggal"
"...." Ny, linggar atau Mamah Hendra pun lemes, rasanya dia tak bisa lagi berjalan. setelah selesai dokter menjelaskan dia pun keluar dwngan kaki gontai dan muka lesu.
Buk
Buk
Buk
"Ini semua gara gara kau, ini semua gara gara anakmu Shaina, hik hik hik."
Ummi yang duduk di kursi tunggu pun kaget dapat hantaman membabi buta. Untung suster yang lewat pun membantu melerai Ny.Linggar.
__ADS_1
"Ada apa Bu, kenapa?" Ummi pun bingung dan mulai mendekati Ny.Linggar. Setwlah Ny Linggar, tenang dan duduk di bangku panjang.
"Hendra, hik hik, hik," Ummi pun memberikan air mineral yang baru saja di belinya, Ny.Linggar pun meminumnya.
"Usia Hendra hanya sisa 4 atau 5 tahun lagi Hik hik hik." Ny. Linggar sangat terpukul, sedangkan Ummi yang belum paham pun hanya mendengadkan dengan perasaan tidak menentu.
"Haa? mengapa demikian, apa lukanya sangat serius?" Ummi pun bertanya serius.
"Bu, Hendra sudah siuman, silahkan masuk yang ingin bertemu." seorang suster nyembul dari balik pintu.
Ummi dan Ny.Linggar pun masuk.
"Mamah. kau di sini? Ummi, mana Shaina?" Tanya Hendra.
"Dia di rumah, kasian anaknya kalau di bawa." balas Ummi.
"Hen, hik hik hik." Hendra bingung melihat Mamahnya begitu rapuh.
"Mah, ada apa? aduh, kepalaku terasa pusing." Hendra pun memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Nak, siapa yang melakukan ini padamu hah? mengapa kau terluka, bukankah kau membekali dirimu dengan ilmu bela diri?" Tanya Mamahnya.
"Papah Santi rekan bisnis papah dan anak buahnya mah, aku di pukul dari belakang." Aku Hendra.
"Apa? mengapa mereka memukuli mu heh? ada apa?"
"papahnya memaksa aku untuk menikahi anakny dalam minggu minggu ini juga, aku di beri waktu 4 hari."
"Kepa rat, awas saja, aku akan membalas perbuatan mereka." Ny.Linggar pun tampak keluar dan mengeluarkan Hpnya dan menghubungi seseorang.
'Aku ingin kau menculik Santi, anak pak Herman.'
' Baik Nyonya,'
'Bawa dia ke rumah di pinggiran kota, aku akan ke sana setelah kalian berhasil menangkapnya.'
tut.
Tap
Tap
Tap
NY.Linggar pun kembali masuk ruangan.
"Nak, Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? katakan saja. Mamah akan memenuhinya."
"Apa maksud mamah? bagaimana kalau aku minta menikahi Shaina, apakah mamah juga akan menurutinya?"
"Tentu saja, mamah akan menurutinya, sekarang juga, kita siapkan pernikahan, Bu shaina, tolong telpon Shaina, segera kita akan melakukan perkawinan segera." Ucap Ny.Linggar tergesak gesak. dan menahan air matanya biar tidak menetes.
"Hah?" Ummi pun jadi bingung dan merasa aneh.
"Mari bu! aku ingin bicara berdua." Ny, Linggar menarik tangan Ummi keluar menjauh dari ruangan itu.
"Bu, hik hik hik, usia Hendra tak lama lagi, tolong terimalah dia sebagai menantu ibu, perlakukan dia selayaknya anak ibu sendiri." Ny.Linggar pun menangis memeluk tubuh kurus Ummi, Ummi pun balik membalas pelukan hangat. Ny.Linggar pun menceritakan penyakit Hendra. Alzheimar.
"Jadi dia mengidap penyakit penuaan dini?"
BERSAMBUNG....
__ADS_1