Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Pergi dari Rumah


__ADS_3

Fathir panik dan langsung mengangkat Zahwa.


"Shaina apa yang terjadi, apa kau menjatuhkan putri kecilku?" Fathir mencek pipi tangan juga kaki Zahwa.


"Aduuuuh, apa kau tidak melihat? yang sakit itu aku, bukan dia. aku terjatuh, saat terjatuh aku sedang menggendongnya, dan saat aku terduduk baru aku meletakkannya di samping, huh, keterlaluan." Shaina tampak kesal karena di anggap ceroboh oleh Fathir.


"Sudah sudah, Shaina, apa yang sakit?." ummi pun membantu Shaina berdiri,"


"Mi, hik hik hik." Shaina malah menangis sangat keras sangat keras, membuat Fatir tambah kebingungan.


"Shain, ayo kita ke rumah sakit. kita periksa."


"Tidak, aku tidak sakit, yang sakit itu hatiku, hik hik hik."


"Hah?" ummi dan Fathir pun saling pandang.


"Hah? emang ada apa dengan hatimu?" tanya Fathir.


"Mi...maafkan aku, sebenarnya aku tidak siap benar benar tidak siap melahirkan Mi, hik hik hik." Kelihatannya Shaina Stres menghadapi kenyataan ini, melahirkan tanpa suami.


"Shain, maafkan aku, aku tidak sengaja."


"Kau,"


Buk buk buk


Shaina memukuli pundak Fatahir.entah mengapa emosinya kali ini tidak terkendali.


"Shaina maafkan aku."

__ADS_1


"Shain, sudah sudah, sabar."


"Ayo kita menikah? kita selesaikan semuanya, aku akan menjagamu, anak kita." ucap Fathir lagi.


"Tidak! aku tidak akan menikah dengan orang sepertimu, sini anakku!"


Shaina pun mengambil Zahwa dari pelukan Fathir.


"Shain, hati hati,." Fathir kaget ketika Zahwa di rebut tiba tiba.


"Keluar kau dari sini, keluar!" Shaina berteriak, sementara bayi Shaina pun kembali menangis, mungkin merasakan kalau orang tuanya sedang bertengkar hebat.


"Shaina, istigfar nak." Apakah Shaina baby blues?(Stres pasca melahirkan)


"Mi, ayo kita pindah dari sini, aku tidak bisa tenang begini Mi, hik hik."


Shaina, maafkan aku.


"Tuan, ini semua belanjaan yang tuan pesan."


"Masuklah." Fathir pun berdiri dan mengambil semua belanjaan.


"Ini stroke dan ATM tuan." Lelaki itu menyerahkan stroke belanjaan dan kartu ATM Fathir.


"Nak Fathir, baiknya Kamu pulang saja, Shaina tampaknya sedikit truma pasca melahirkan, dia sangat tertekan, Tuan sebaiknya menghindari Shaina dulu, kalau Tuan mau menemui Zahwa, hubungi saja no ku, nanti biar aku yang keluar menemui tuan."


"Mi, tolong jangan pisahkan aku dengan Zahwa,"


"Iya, aku mengerti, tapi kamu juga harus mengerti keadaan Shaina. mungkin nanti setelah dia sudah baikan, kamu bisa ke sini lagi. Tolong mengertilah keadaan kami."

__ADS_1


"Baik lah Mi, tapi Ummi janji ya, mau nemui aku di pinggir jalan depan untuk aku bertemu Zahwa."


"Tentu saja. Pulanglah!"


Fathir pun pamit dan dengan terpaksa meninggalkan rumah mungil beserta putri kecilnya, sebelum pulang dia beberapa kali menciumi putri mungilnya yang tampak sudah tertidur di pangkuan neneknya.


*


*


*


"Hendra, kau mau ke mana? mengapa terburu buru?" Mamah Hendra tampak sangat kesal dengan tingkah Hendra yang masuk dan keluar tanpa pamit.


"Ummi tau kan, kalau aku akan menikah dengan Shaina, dia sudah melahirkan, kalau Mamah tidak merestui kami, tentu saja aku akan pindah dari rumah ini."


"Hendra, jangan kurang ajar kau, kau itu siapa? kau akan terkatung katung di perjalanan kalau kau membangkang, tanpa perusahaan dari ayahmu, kau bukan siapa siapa."


"Maafkan aku Mah, aku tidak bisa memenuhi kemauanmu."


"Bagaimana dengan Santi? anak pak Herman,?"


"Menikah saja dengan Mamah, aku tidak tertarik."


"Apa? kurang ajar,"


Hendra pun meninggalkan rumah besarnya besarta koper besar di tangannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2