
Dag dig dug dooorrrrr
"Meninggal?"
Shaina sangat Syok memdengar kabar itu.
Mengapa dia tidak memberi tahuku waktu kami ketemu kemaren?
Lirih hatinya.
"Ayo kita langsung ke ruangan!" Ajak Zeze kepada Shaina yang masih terpaku mendengar kabar Salma telah meninggal.
"Oh iya, ayo!" Mereka pun naik ke lantai 5 dan melakukan meeting bersama rekan bisnis lainnya.
...
...
...
"Shaina...gawat, sini!" Ny.Linggar menarik tangan Shaina ke dapur.
"Ada apa Mah? apa tentang Zahwa atau.."
"Sssttt. Hendra, jangan keras keras." jawab Ny.Linggar.
"Obang, ada apa dengannya?" Shaina jadi cemas mendengarnya.
"Hendra makin parah Shain, hari ini dia mandi pagi 5 kali, aku slalu memperhatikannya, dan dia mandi ke kamar mandi yang ada di dapur, dia juga menanyai Laila, teman SD nya duku, dia sangat akrab, bahkan duku dia sempat bilang bahwa Laila adalah pacarnya, dan sekarang dia menanyainya lagi nak, bagaimana ini?" Ucap Nyi.Linggar sambil meneteskan air mata.
"Laila? apakah mamah tau di mana dia sekarang, aku akan menjemputnya."
"Aku tidak tau, terakhir kami pernah bertemu saat dia menikah, kami datang ke acara pernikahan Laila 4 th silam."
"Apa Mamah masih ingat tempat atau kotanya?"
"Katanya, dia menikah di rumah suaminya, jadi yang kami datangi waktu itu adalah rumah suaminya." Ucap Ny.Linggar.
"Ayo kita ke sana Mah!" Desak Shaina.
"Bagaimana dengan Hendra," Mamah jadi bingung dengan kondisi ini.
"Kita bawa Mah, kita bilang saja kalau kita akan mengunjungi keluarga jauh." Ucap Shaina.
"Baiklah, kau temui saja Hendra, apa dia mengenalimu?"
"Iya Mah."
Tap tap tap
Ceklek.
"Sayang... udah pulang?" Hendra yang duduk sambil membaca buku di lantai menatap Shaina seperti biasa.
Hap
"Emch....emch emch." Shaina mengecup pipi suaminya dan memeluk tubuh Hendra erat.
"Lho? ada apa?" Hendra malah bingung.
"Kangen Obang, seharian ini nggak karuan, Obang mau makan?" Shaina mengambil baju ganti dan bersiap untuk mandi.
"Iya, laper nih, pengen di suapin."
"Aku mandi dulu ya Bang." Shaina pun masuk ke kamar mandi dan segera mengguyurkan air angat ke tubuhnya.
Ceklek
Shaina sengaja hanya mengenakan handuk di atas dada dan di atas lutut, sangat seksi.
"Sayang, kok nggak bawa baju ganti?",Tanya Hendra, karena selama ini Shaina selalu memakai baju kalau keluar Kamar mandi.
" Oh, lupa, tadi mau cepet cepet." jawab Shaina.
"Nggak papa kok, aku suka, hihi." Ucap Hendra.
Mereka pun ke dapur dan Shaina mengambilkan makanan kesukaan Hendra tanpa bertanya, sudah setahun lebih mereka bersama, tentu Shaina sudah hafal semua tentang Hendra.
__ADS_1
"Bi, tolong panggilkan Mamah, kami akan makan bersama, oh iya, papah apa sudah datang?" Papah Hendra sangat sibuk dengan bisnisnya yang ada di mana mana.
"Tuan besar belum datang, baik, akan saya panggilkan Nyonya besar.
...
...
"Mah ayo makan!" Hendra sudah lebih duluan makan, dia sangat konsentrasi dengan makanan kesukaannya.
"Mah, besok aku ke rumah Laila ya!" Tiba tiba Hendra angkat bicara yang sangat mengejutkan Shaina. Sementara Hendra terus makan menatap piringnya.
"Shaina, besok bantu ibu ke rumah keluarga jauh ya!" Mamah Hendra pura pura tidak mendengar dengan perkataan Hendra.
"Mamah...kok diaaaaaam...oh.." nada replay
Hendra menatap Mamahnya dan ingin mengatakan sesuatu, namun terhenti ketika menatap wajah teduh Shaina yang tersenyum ke arahnya.
"Ada apa Bang?" Shaina bertanya.
"Oh, tidak, " Hendra meneruskan,makannya sampai selesai.
"Di mana mah?" Tanya balik Shaina.
"Aku lupa namanya, tapi aku rada ingat jalannya."
"Baik Mah."
"Mau ke mana?" Tanya Hendra.
"Mau jenguk keluarga jauh mamah."
Mereka sudah selesai makan malam. Shaina dan Hendra pun kembali ke kamarnya.
"Zahwa kok tidur terus ya?" Ucap Hendra.
"Ya bagus Bang, kita bisa berduaan." Ucap Shaina. Shaina pun merebahkan diri di pangkuan Hendra yang nyandar di sisi ranjang.
"Besok aku ada urusan, jadi nggak bisa ikut." Ucap Hendra.
"Urusan? urusan apa Bang?" Shaina jadi penasaran, selama ini dia hanya di rumah olahraga sekeliling rumah, itu pun sudah membuatnya cape.
"Ooh sama paman, baiklah, nggak papa kok?"
Tak berapa lama maghrib isya telah mereka kerjakan, saatnya untuk tidur.
Shain, aku sering merasa aneh dengan diriku, maaf, besok aku harus periksa ke dokter, sebenarnya aku ini kenapa?
Lirih hati Hendra.
"Bang...kalau misalnya ni ya, aku duluan meninggal dari pada Obang, obang nikah lagi nggak?" Pertanyaan yang mewakili hatinya itu keluar begitu saja.
"Ya nikah lagi laaah, hahaha. nggak sayang, kamu adalah cinta pertamaku dan terakhirku." ucapnya.
"Masa sih Bang?"
"Ya iyalah, apa kamu nggak percaya selama ini aku ngejar ngejar kamu jatuh bangun gitu. trus kalau kamu bagaimana?"
"Tergantung, kalau ada yang lebih tampan dari obang, ya aku mau saja, hihihi." Canda Shaina.
"Iiih curang kamu ya, sini."
Hap
Hendra menggelitik tubuh Shaina lembut, tetap saja Shaina merasa geli dan tertawa lepas tanpa beban.
"Bang, tidur yuk! ngantuk nih, besok harus nganterin mamah ke kota sebelah untuk nemuin kerabatnya."
"Iya, ayo!
Akhirnya mereka pun tertidur.
...
...
...
__ADS_1
"Maaah, tasku mana? aku udah telat nih." pagi jam 8 Hendra sudah berteriak, dia tampak rapi dan harum.
"Lho? mau kemana?" Shaina jadi bingung sendiri melihat suaminya memasang sepatu sedang duduk di sofa.
"Ha?" Hendra menatap Shaina dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Oh, iya, Shaina, aku mau berangkat sama paman di depan, dia udah nungguin."
"Oooh, udah makan?" Tanya Shaina.
"Udah baru aja."
padahal Hendra lupa kalau ada Shaina di rumah itu. Seandainya Shaina tidak keluar menemuinya.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
Hendra berangkat dengan paman Satpam menggunakan grabe.
Setelah 1 jam perjalanan mereka sampai rumah sakit terdekat.
setelah mendaftar, mereka menuju ruangan khusus pemeriksaan.
Satpam yang tau dia harus tetap nempel sama Hendra tidak bertanya apa apa pada Hendra.
"Kamu tunggu di luar,sini!" Ucap Hendra.
"Baik Bos."
Ceklek
"Duduk."
"Terimakasih dok."
"Kenapa?" dr. itu sangat ramah dan,baik.
"Saya sering sakit kepala jadi ingin memeriksanya.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya dr. paham dan melakukan pemeriksaan.
"Ayo, kita ke ruangan pemeriksaan!"
Mereka pun.
ZZZ
ZZZ
ZZZ
Hasil keluar setelah 30 menit.
"Tuan, maaf, apakah keluarga anda tidak,ada yang tau anda sedang sakit apa?" Tanya dokter penasaran.
"Tidak dok, dulu pernah dipukul, trus berobat untuk menghilangkan rasa sakitnya."
"Hanya itu?" tanya dokter lagi.
"Iya dok! ada apa dok? apakah penyakit serius?"
"Hufsss Hemmmmh." dokter menghela nafas berat.
"Apa boleh aku bicara dengan keluarga Tuan?"
"Dok, katakan saja, tidak papa, aku siap, aku sering sekali sakit kepala, juga sering seperti berhalusinasi, kadang terasa seperti berada di masa lampau."
"Apakah kau siap? kau dengan siapa kemari?"
"Siap dok, sangat siap,"
ZZZZ
ZZZZ
ZZZZ
__ADS_1
BERAAMBUNG....