
Hari yang di nanti pun sudah tiba, pagi ini Shaina Ummi Ny.Linggar dan juga Hendra tampak sibuk mengemasi barang barang mereka. Mereka akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari untuk kesembuhan total bekas Caesar Shaina.
"Shain, apa kamu yakin? masih ada waktu kok, nggak papa juga jarus nunggu 5 tahun lagi, baru kita punya momongan." Ucap Hendra pada Shaina saat mereka merapikan baju dan memasukkan dalam tas.
"Nggak papa Bang, kita ikhtiar aja dulu, mudahan dalam setahun bisa sembuh total, kayaknya Mamah pengen cepat punya cucu,." Jawab Shaina.
Tok tok
"Apa kalian sudah siap?" Ternyata Ny.Linggar yang mengetuk pintu.
"Iya Mah, ayo Bang!"
Mereka pun menuju garasi mobil.
"Aku nggak papa Mah nyopir sendiri." Pinta Hendra.
"Nggak, kamu belum sembuh betul, lagian kenapa kamu mesti ikut sih, kami nggkl lama juga kok." Jawab Mamahnya.
"Mah, kami ini penganten baru, masa mau di pisahin, hihi." Hendra tanpa rasa malu menampakkan kemesraannya sambil merangkul Shaina, Shaina yang merasa malu hanya bisa mencubit pinggang Hendra.
"Au, sakit Ocan!" Pekik Hendea.
__ADS_1
"Ocan? siapa?" Mamah Hendra malah bingung, siapa yang di maksud Hendra
"Hihi, nggak mah, ayo masuk!"
Ummi yang tak banyak bicara sudah masuk di dalam mobill bersama Zahwa. Karena Zahwa ASI. jadi nggak bisa di tinggal, sebenarnya Ny.Linggar sudah menyarankan agar Zahwa ganti susu Formula saja susu yang paling mahal, namun Shaina manolak, baginya selama masih bisa ngASI, kenapa harus susu Formula?
Merwka pun akhirnya berangkat.
Hap
Hendra memegangi tangan Shaina.
"Sudah sangat lama aku ingin seperti ini." ucapnya, masih menatap jalanan, karena Hendra ingin menyetir saat ini, sementara pak sopir duduk di kursi no 2.
"Sekarang terserah Obang aja, mau ngapain, aku udah Halal kok." Shaina pun tersenyum melihat cincin pemberian Hendra dulu kini bisa dia pakai dengan indah.
"Emch emch emch." Hendra menciumi tangan yang bersematkan cincin itu berulang ulang.
"Aku tidak menyangka kita sudah sampai ke tahap ini." Ucapnya sambil terus mencium tangan istrinya itu mesra, sopir pribadi, ummi dan juga Ny.Linggar pun meneteskan air mata. Mengingat lerkataan dokter, bahwa Hendra tidak akan bertahan lama.
"Au..."
__ADS_1
Ciiiit
bruk.
"Maaaas" Shaina dan se isi mobil kaget metika tiba tiba panik, saat Hendra oleng ke samping dan menabrak pembatas jalan.
"Kepalaku tiba tiba sakit Shain, maaf." Mereka pun sudah berhenti mendadak di pinggir jalan.
"Biar aku yang nyetir, Tuan duduk saja di sini sama Nyonya." Ucap Sopir dia pun segera turun dari mobil. Begitu juga Shaina dn Hendra yang segera berpindah tempat.
Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan, sepanjang jalan Hendra bersandar di bahu Shaina karena merasa pusing, dia juga meminum obatnya untuk menghilangkan rasa nyeri.
"Ocan, mungkin aku juga perlu memeriksakan kepalaku di luar kota, mungkin saja di sana ada obat yang mujarab." Ucap Hendra.
Dan itu membuat Ny.Linggat kembali menangis, dia mulai terisak yang sangat di tahan, dia pun membenamkan mukanya di bantal.
"Iya Obang, nanti sekalian Obang juga berobat, sekarang tidur saja, nanti kalau sampai biar Shaina bangunin." Ucapnya.
Hendra pun mulai memejamkan matanya dan berlayar mengarungi bahtera alam mimpi hanya dia yang tau.
BERSAMBUNG....
__ADS_1