Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Curhatan Yola(anak tiri)


__ADS_3

Ceklek


Perawat itu pun membuka pintu yang di tempati Zahwa dan Luna.


"Hah? kemana mereka? mengapa tidak ada?" Perawat mencari ke dalam Wc, namun tidak ada.


Dereeet


Dia menelpon.


'Helo pak, tadi ada pasien yang saya lihat di televisi, dengan wajah yang sama, sekarang mereka sudah tidak ada.'


Bla bla bla


Tuut


...


...


...


"Untung saja, selamat selamat, mana Hp lupa bawa pula, ah sial."


Gerutu Luna yang tampak menggendong Zahwa.


"Ne, kita mau ke mana lagi, Zahwa takut sakit nek, badan Zahwa gemeteran nek."


Zahwa yang sudah bangun dsri oingsannya pun merengek. Badannya yang oanas membuat tubuhnya merasa tidak enak dan lelah.


"Kita akan mencari klinik lain Zahwa, yang lebih baik."


Ucap Luna.


Mereka menaiki taksi dan kembali ke kontrakkan, sesampainya dekat kontrakkan, dia melihat beberapa orang bertubuh besar.


"Gawat, mereka pasti suruhan Fathir, Pak tolong terus jalan lak, agak lebih cepat."


Pinta Luna.

__ADS_1


"Lho bu, kan ibu tadi minta turunin di sini?" Tanya Sopir heran.


"Nggak jadi pak, aku mau ke rumah kerabat saja," Ucap Luna lagi.


Taksi pun melaju kembali meninggalkan kontrakkan Luna.


"Nenek, Zahwa sakit nek, Zahwa pusing."


Zahwa terus merengek di pangkuan Luna.


"Bentar Zahwa, ini kita ke tempat Bibi dulu ya, kita cari obat di sana saja." Ucap Luna.


"Sakit apa bu cucunya, kok nggak langsung di obatin aja?" Tanya sopir.


"Demam aja pak, dia sering kok sakit begini, orang tuanya kerja di luar kota." Bohongnya lagi.


...


...


...


"Beng...tolong temukan Zahwa, aku tidak bisa kehilangan dia Beng, sudah seminggu lebih Beng, hik hik hik."


Shaina tampak memeluk Fathir erat, dia pun menangis tak hentinya bayi yang kehilangan induknya.


"Iya sayang, sku masih mencarinya, kamu sabar duku ya." Air mata Fathir pun ikut menetes.


"Mama...memang kak Zahwa ke mana ma?"


Rangga yang baru bangun dari tidur siangnya pun bingung saat melihat mamanya menangis dan menyebut nama Zahwa.


"Rangga....hik hik hik."


Kali ini Shaina memeluk Rangga, dia pun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi di hadapan Rangga.


"Mama..kak Zahwa mana ma?"


Rangga terus bertanya. Namun Shaina tidak bisa menjawab dan terus menangis.

__ADS_1


"Papa, kak Zahwa mana?"


Tiba tiba Yola juga datang dan duduk di sisi Fathir hampir duduk di asuhan Fathir sambil bersandar manja. Maklum berapa hari ini Yola tidak bertemu papanya, dan Shaina juga sibuk sendiri dengan air mata yang sering mengalir sendiri. Sementara Rangga dia mendapatkan kasih sayangnya dari kakek Linggar yang slalu memanjakannya, dan tentu saja pa Linggar tidak perduli dengan Yola yang bukan siapa siapanya.


"Begini sayang, kak Zahwa sedang di bawa nene Luna, dan sampai saat ini belum di kembalikan, papa sedang mencari nene Luna, Yola jangan pernah lagi main di halaman, apalagi membawa Rangga ya?"


Titah Fathir.


"Nene Lina siapa?-


Yola kan tidak tau dan belum pernah bertemu.


"Itu istri kakek dulu, tapi udah pisah, kamu udah makan?"


Tanya Fathir.


"Belum pa, kita makan pa, tapi di suapin ya?" Pintanya.


"Kok di suapin sih? kan Yola udah besar, dan juga udah punya adik Rangga."


Ucapnya lagi.


"Tapi Yola pengen di suapin papa, seperti Rangga di suapin mama." Ucapnya.


Apa Selama aku pergi Shaina tidak memperdulikan Yola ya?


Tanya hatinya.


"Memang Rangga slalu di suapin mama ya?" Tanya Fathir lagi.


"Iya pa, bahkan pernah tu waktu Yola mau makan mama lupa ambilin nasi dan hanya menangis, padahal Yola kelaparan."


Ucapnya lagi.


Fathir hanya diam.


"Kata kakek, Yola ini anak tiri, apa benar pa?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2