Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Caesar


__ADS_3

Shaina pun di bawa ke ruang operasi untuk Caesar.


Sedangkan Damon Hendra dan juga Ummi menunggu di kamar Vip yang sudah di pesan Damon untuk tempat Pasca operasi Shaina.


"Ummi, maafkan aku, aku sudah mencari Shaina ke mana-mana namun aku tidak bisa menemukan kalian."


"Sudahlah, ini sudah takdir Shaina, kami sudak ikhlas dengan semua ini" Ucap Ummi.


"Kenalkan, aku calon suami Shaina, setelah dia melahirkan kami akan menikah." Ucap Hendra sambil menjulurkan tangannya.


"Damon." Ucap Damon singkat.


"Bu, aku bahkan beberapa kali ke rumah kalian yang lama, namun aku tidak menemukan kalian." Ucapnya lagi.


"Tapi, jarak antara kejadian itu, dengan kami pindah berjarak cukup lama, kamu kemana seja?" Ucap Ummi, mata Ummi pun berkaca-kaca kalau ingat kejadian waktu itu.


"Maafkan aku Bu, aku ada urusan yang tak bisa aku tinggalkan di luar kota." Sahutnya.


"Aku berjanji akan bertanggung jawab Bu, aku juga rutin mengirim uang ke rekening itu, namun setiap kali aku cek, bahkan tak sepeserpun uang itu berkurang, mengapa Bu?"


"Dia sengaja tak mau mengambilnya, karena itu bukan hak kami, tapi dia berjanji akan memakainya ketika anaknya besar nanti."


"Bu, aku ingin mulai dari awal." Damon mengjiba.


"Enak saja, dia itu sudah menjadi milikku, kami akan menikah sesegera mungkin." Damon kemudian menunduk. Terdiam.


namun tiba-tiba.


"Tidak! Dia anakku, Shaina harus menikah denganku." Ucap Damon.


"Hey, selama ini loe kemana aja, di mana kau saat Shaina terpuruk heh, bahkan dia banting tulang untuk menghidupi dirinya juga membiayai kuliahnya sendiri, ayahnya meninggal gara-gara loe." Hendra tampak emosi dan menunjuk-nunjuk dada Damon.


"Sudah-sudah, tunggu Shaina saja, biar dia yang akan memutuskan,"


Ummi pun melerai Damon dan Hendra yang sedang bertengkar. Akhirnya mereka mau diam dan duduk berjauhan.


Ya Tuhan, tolong bantu aku untuk menxapatkan Shaina dan putriku kembali.


Lirih hati Damon.


Tap


Tap


Tap


Setelah sejam lebih, seorang perawat membawa bayi mungil menuju ruangan Vip yang sudah di pesan Damon.


"Aku menghargaimu sebagai ayahnya, silahkan di Azani." ucap Ummi.


"Hah?" Damon pun bingung, secara dia kan Non muslim. What???nggak bisa nikah dooong sama Shaina.


"Di azanin di telinga kanan di iqomahin di telinga kiri Tuan." Ucap Ummi.

__ADS_1


".......????" Damon garuk-garuk kepala.


"Apa kau bisa azan dan iqomah?" Tanya Hendra.


"......" Damon Menggeleng.


"Kau tidak bisa?" Hendra dan Ummi bingung. Orang seperti apa dia ini, wajah saja tampan, hati Hendra bergumam.


"...." Damon mengangguk.


"Nak Hendra, biar kamu saja." Ucap Ummi sambil ingin menyerahkan Putri mungil itu.


"Jangan...tolong ajari aku? aku ayahnya, aku ingin membisikkan ucapan itu pertama kali." Damon pun mendekati Ummi.


"Aneh, mengapa kau tidak bisa azan? jangan-jangan kau pun tidak bisa sholat heh?"


Damon mengangguk.


"Hah???" Ummi dan Hendra pun kaget berjama'ah."


"Itu karena aku....(terdiam)"


"Aku non muslim."


"Apa?" Ummi yang terlihat kaget dan syok pun mundur dan terduduk di lantai.


"Sini, biar aku saja." Ucap Hendra lagi.


"Tapi kita beda," ucap Hendra.


"Aku ...aku sudah belajar islam beberapa minggu ini, dengan seorang ustadz, aku .... akan masuk islam." Damon menatal putri mungilnya itu penuh makna.


"Masuk islam itu tidak boleh karena sesuatu Tuan, Agama itu tidak boleh di permainkan seperti bola. kau lempar ke sana dan lempar kemari, nggak boleh." ucap Ummi.


"Aku sudah lama memikirkan ini Bu, ku mohon, ayo... bantu aku untuk memulainya, hari ini." Damon pun menatap Ummi dan sangat berharap pada ibu Shaina itu intuk membantunya.


"Aku tidak boleh menolak orang yang mau masuk islam, tapi juga kau harus benar-benar yakin." tegas ummi.


"Aku yakin Bu, bagaimana caranya." Damon terus mendesak.


"Karena ini dadakan, maka Hendra, ayo pandu dia mengucap syahadat!" Ummi menyuruh Hendra yang melakukannya.


sebenarnya Hendra merasa idak suka karena merasa saingan untuk mendapatkan Shaina, namun di sisi lain dia senang karena dia akan menjadi muallaf.


"Asyhadu....(Damon mengikuti tiap kata)ala(.....)ilaha(...)illlallah(...)wa asyhadu(....)anna(...)muhammad (....) rasulullah."


Selesai.


Perawat, ummi dan Hendra pun tak terasa meneteskan air mata.


"Sekarang Hendra bisikin dia cara mengazankan bayinya.


sekali lagi Hendra harus menelan kepahitan di tenggorokannya, karena Hendra bukanlah orang suci dan baik hati. dia hanya orang awam.

__ADS_1


" Ayo ikuti aku! Sus tolong dekatkan bayinya." Saat umi terduduk suster pun kembali mengambil bayi Shaina.


Setelah bayi dekat dengan Damon, Hendra pun membisikan azan dan kemudian iqamah.


Selesai...


Damon pun tampak menangis dan mencium berulang-ulang bayi mungil itu.


"Tuan, selanjutnya, Tuan bisa menghubungi Ustadz yang tuan bilang tadi, karena anda harus di khitan dan juga di mandi in dan bersyahadat ulang." Tambah Ummi.


"Khitan? apa orang tua juga di khitan? aku sih sering liat di Upin kalau anak-anak harus di khitan, tapi tidak ada orang dewasa yang di khitan." ucap Damon protes.


"Setiap yang masuk islam kalau belum khitan ya... harus dikhitan." ucap Ummi.


"Ooooh." Damon garuk-garuk kepala, mungkin di pikirannya malu kalee ya, udah dewasa uyungnya pun udah ber...am..but😃😃😃.


"Emang harus itu, kalau kamu ragu, boleh kembali kok," ucap Hendra sambil mengejek Damon yang terlihat kusut.


"Nggak, aku yakin, aku akan khitan. nanti setelah ini aku akan menemui ustadzku itu." ucapnya.


"Mi, mungkin beberapa hari ke depan, Shaina akan di rawat disini,"


"Iya, Nak, mudahan Shaina cepat pulih." jawab Ummi.


"Apakah Ummi perlu sesuatu? ummi tinggal bilang saja." ucap Hendra lagi.


"Mungkin nanti kita harus pulang untuk mengambil keperluan di sini." Tambah ummi.


"Baiklah Mi, sekarang Ummi bisa istirahat dulu."


Damon tak hentinya menatap putri mungil yang sudah di letakkan di atas Box bayi, terlihat wajahnya mirip Shaina dengan hidung tak terlalu mancung.


"Sayang, kamu sangat cantik, kelak papah akan menjagamu dengan baik, papah akan slalu di sampingmu nak." Ucapnya.


Dia pun ingat awal mula benih itu tumbuh, dia dengan sengaja merenggut semuanya dari Shaina dalam keadaan sadar. Dia sangat menyesal mengapa tak bisa menemukan Shaina lebih awal.


"Tuan, kalau tuan ada kesibukan silahkan tuan, insyaa Allah kami bisa mengurus semuanya." ucap Hendra.


Hendra terlihat kurang suka dengan Damon yang selalu nempel dekat Putri Shaina.


"Aku ayahnya, aku akan slalu menjaganya, sesibuk apa pun aku, tentu aku akan lebih mementingkan dia di banding pekerjaanku." jawab Damon.


"Heh, munafik."


Deg


Damon menatap muka Hendra penuh amarah. Dadanya bergejolak, dia pun menggenggam kepalan tangan yang keras seperti batu.


Buk


dan menghantamkannya pada Hendra.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2