
Ny.Linggar Permana pun menangis sesunggukan begitu juga Ummi, yang merasa dekat dengan Hendra selama ini.
"Tolong kita rahasiakan penyakit ini dari Hendra, ku mohon." Ucap Ny.Linggar.
"Baiklah, kita memang harus merahasiakannya, ayo kita masuk! kita akan mempersiapkan semuanya."
"Ayo!" Merwka berdua pun mengjaous air mata dan berjalan menuju ruangan Hendra di rawat.
"Mah, ada apa? kok mendadak Mamah merestui kami?"
"Hen, mamah tidak mungkin kan memaksamu menikahi Santi lagi? sedang kau babak belur di pukuli begini, ibu mana yang mau menikahkan anaknya dengan orang keji seperti itu heh?" Ny.Linggar tampak serius dan bisa menutupi alasan yang sebenarnya.
"Hahaha, jadi mamah merestui setelah aku begini, bagaimana kalau aku mati?"
Deg
Kata kata iti menusuk tembus ke jantung terdalam Nu.Linggar, akhirnya dia tak bisa menutuoi keswdihannya."
Bruk
"Hen, Nak, jangan bicara seperti itu nak hik hik hik." Ny.Linggar memeluk tubuh anak semata wayangnya itu erat.
"Ups Mamah, aku sesak, nggak bisa nafas nih, uhuk uhuk." Hendra coba mendorong tubuh mamahnya, namun sangat kuat hingga dia terbatuk batuk.
"Oh maaf, sayang..." Ny.Linggar pun melepas pelukannya ketika mendengar anaknya batuk.
"Suster, apakah kami boleh pulang?"
"Iya Bu, karena Tuan ini sudah siuman maka kalian boleh pulang, hanya perlu cek rutin saja, kalau ada keluhan, segeralah periksa."
"Baiklah, aku akan menyelesaikan pembayaran." Ny.Linggar pun pergi ke kasir dan menyelesaikan administrasi rumah sakit.
"Nak, kalian akan menikah besok. Jadi kau perlu latihan untuk ijab qabul." Ucap Ummi.
"Besok? secepat itu, apa Shaina sudah tau?" Hendra sangat antusias.
"Masalah itu kan sudah kalian bicarakan, Shaina akan menikah kalau orang tuamu merestui, sebelum ibumu berubah pikiran, lebih baik di segerakan kan?" Alasan Ummi masuk akal juga sih.
"Iya juga ya,"
"kita akan pindah ke rumah baru setelah kalian menikah." Ucap Ummi kembali.
"Rumah baru? aku bahkan belum membuat rumah baru Mi? kalau begitu nanti kita cari yang siap huni saja," Ucapnya lagi.
"Tidak usah khawatir, Shaina sudah beli rumah baru kok."
__ADS_1
"Benarkah? lalu bagaimana dengan supermarket itu?" Hendra menanyakan Supermarket yang di berikannya kemaren.
"Shaina akan mulai bekerja, kalau dia sudah baikan."
"Baiklah. Jadi hari ini kita pulang?"
"Iya, ayo persiapkan dirimu untuk belajar caranya ijab Qabul, lewat google dulu deh kamu cari contoh contoh gitu." ucap Ummi.
"Baiklah Mi, aku merasa ini hanyalah mimpi Mi, setelah aku berjuang begitu lama, akhirnya aku bisa menikahi Shaina."
Ummi hanya menatap sedih muka Hendra yang begitu bahagia, Ummi berharap anak ini akan panjang umur ketika bahagia memenuhi relung hatinya terdalam. Hendra terus tersenyum senyum, mungkin di benaknya bayang bayang perkawinannya sudah tampak di depan mata.
Tok tok
"Hen, semuanya sudah beres, hari ini kita pulang ke rumah Mamah dulu ya, besok baru kita melamar sekalian nikahan ya?"
"Kok keburu buru gitu sih Mah? masa ngelamar langsung nikahan?"
"Jangan ngerepotin Shaina dan mamanya, dia kan baru lahiran, nanti malah kecapean memikirkan berulang ulang, udah nggak papa, resepsi nanti kapan2 kalau Shaina udah sehat ya?"
Ucap Ny.Linggar lagi. kali ini pun masih cukup masuk akal buat Hendra.
Mereka pun akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan di jemput sopir pribadi keluarga Linggar. Sepanjang jalan Ny.Lingar terus Wa an,sama papahnya dan menjelaskan,bahwa penyakit anaknya sangat serius. Dia pun tak kuasa menahan tetesan air mata dan berulang ulang menyapunya dengan tissue. Sementara ummi hanya mampu mengelus elus pundak wanita itu pelan, untuk menguatkan.
*
*
*
Dia merangkul pundak Hendra dan membawanya masuk.
"Ada apa pah, kok mesra amat, tak biasanya begini, biasa aja kali pah." Hendra merasa aneh dengan tingkah sang ayah.
"Papah dan mamah mau minta maaf, karena telah salah memilih jodoh untukmu, mari kita perbaiki hubungan ini, kau bikinkan cucu yang banyak buat papah ya?" entah mengapa setetes embun telah berhasil keluar dari sudut mata Papahnya.
"Haha, nikah juga belum Pah, kenapa nggak dari kemaren kemaren di izinin," Jawab Hendra.
"Kamu pengen beri mahar apa heh?biar papah dan mamah yang urus, kamu istirahat saja nggak usah kerja dulu sampai luka di kepalamu itu sembuh." Tambah pak pratama lagi.
"Aku sudah membuatkan satu supermarket, seharusnya kemaren udah Grand opening, tapi karena Shaina melahirkan dadakan, jadi di tunda Pah, semua barang dan isinya pun sudah penuh, tinggal cari karyawan aja."
"Oh ya? mengapa papa tidak tau?"
"Mamah pun tidak tau." sahut mamah tiba tiba.
__ADS_1
"Sengaja Mah, kemaren kan mamah sangat marah sama Shaina, bahkan mamah memaki Shaina dan membuat Shaina harus melahirkan dadakan." ucap Hendra.
"Mamah minta maaf, ayo kamu istirahat di kamar saja, kalau perlu apa apa nanti panggi bini saja,"
"Baik Mah." Hendra pun masuk ke kamarnya di lantai atas.
Bruk
Dia menghempaskan tubuhnya di kasur empuk sambil tersenyum.
"Apa aku perlu menelpon Shaina dulu ya? apa Ummi sudah sampai? aku sangat bahagia.....Aduh, kepalaku sakit, aku lupa kalau ada jahitan di sini, mungkin karena senang tadi aku langsung hempaskan badan ini ke kasur," Ucapnya, wajahnya berseri seri, sementara di bawah.
"Hik hik hik, pah, kita harus bertindak, aku benar benar tidak rela dengan perlakuan Ayah Santi pada Hendra, aku akan membuat perhitungan, aku akan balas dendam." Ucap Ny.Linggar menggebu gebu.
"Iya mah, aku juga tidak rela, Hendra adalah anak kita satu satunya, pewaris kita, bagaimana kalau Hendra belum punya anak lalu dia meninggal, bagaimana penerus perusahaan kita nanti?"
"Pah, aku berencana menculik Santi, dan menghukum keluarga mereka." Ny.Linggar benar benar serius dengan ucapannya.
*
*
*
Sedang Ummi sudah sampai ke rumah kontrakkannya di pinggiran kota.
"Assalamualaikum, Shain Shain, di mana kau? nak." Ummi tampak berlari kecil memasuki rumah mencari anak semata wayangnya.
"Wa alaikim salam, ada apa Mi? kok buru buru?"
"Sini nak duduk dulu.hup hah hah." Ummi tersengal sengal, nafasnya ngus ngusan karena baru berlari dari depan rumah.
"Ada apa sih Mi?"
"Besok, kau akan menikah dengan Hendra."
"Hah? menikah? jangan becanda Mi, orang tua Hendra tidak merestui kami, Shaina tidak mau semua itu malah jadi beban baru bagi saya dan Zahwa Mi."
"Tidak Nak, ini malah ibunya Hendra yang melamar langsung padaku tadi. ada yang lebih penting dari itu."
"Apaan lagi Mi, kayaknya Ummi banyak rahasia hari ini?" Shaina penasaran.
"Nak Hendra sakit, usianya hanya sisa 2 atau 3 tahun lagi."
".....??????" Shaina terdiam, mulutnya terkunci. matanya melotot mulutnya terbuka lebar
__ADS_1
BERSAMBUNG....