
Hendra dan Fathir tampak saling diam. Mereka asyik memainkan HPnya masing-masing.
"Nak, aku mau ke warung depan dulu, kalau Zahwa menangis tolong kalian gendong dulu ya, gantian,karena Shaina nggak bisa langsung bangun, bekas operasi."
"Tenang Mi, aku akan melayani putri kecilku dengan sepenuh hati."
Ucap Fathir sengaja mendahului Hendra. Hendra yang tadi sudah membuka mulutnya pun kembali diam dan hanya menelan kekesalannya. Ummi pun pergi meninggalkan mereka. Sudah 15 menit ummi pergi.
"Mi....minta tolong." Teriak Shaina dari dalam.
Tap tap tap
Hendra yang kebetulan paling dekat dengan kamar Shaina pun secepat kilat berdiri dan menghampiri pintu. Dan berdiri di balik pintu Shaina. Belum sempat Hendra mau bertanya tiba tiba Fathir lebih dulu menyela.
"Ngapain lho? kok diam di situ, nggak dengar apa? Shaina minta bantuan, sini biar aku saja." Ucap Fathir sambil nyelonong dan tangannya pun sudah memegang handle pintu.
Hap
"Nggak semudah itu, dia pasti tidak memakai hijabnya, jadi kita harus izin dulu sebelum masuk kamar orang." Ucap Hendra.
"....." Fathir pun mundur alon alon.
"Ada apa Shin, Ummi sedang keluar, aku masuk ya?"
"Mas Hendra? Mas jangan masuk, sebentar, Mas dengan siapa? apa sendirian? apa kita cuma berdua saja?"
"Tidak, aku bersama Tuan Muallaf, apa kau perlu sesuatu?"
"Oooh, tidak usah, biar nunggu ummi dulu."
"Uwek...uweeeek...uweeeek..." Tiba tiba Zahwa menangis, Shaina pun bingung harus ngapain. Sedang perutnya sangat sakit dia tidak bisa langsung berdiri kalau bangun dari tempat tidur.
"Mas masuk, tolong."
Bruk
"Shain." Ternyata yang masuk duluan malah Fathir.
"Kau? Oh, perutku, aku tidak bisa bangun."
__ADS_1
Hendra pun juga masuk setelah Fathir.
"Perlu aku bantu?" Ucap Hendra, biasa Hendra slalu sopan dan izin terlebih dahulu.
Hap
"Kau mau bangun? sini."
Fathir langsung menyambar pergelangan tangan Shaina.
"Tunggu! jangan menyentuhku." Ucap Shaina, dia terlihat kesel atas kelakuan Fathir yabg dadakan, walau Shaina pakai baju lengan panjang, tetap saja dia merasa risih.
"Oh maaf." Fathir pun menarik tangannya kembali.
"Tolong gendong Zahwa saja." Shaina pun berusaha menautkan ke dua tangannya di sisi ranjang. Sementara Fethir langsung mengangkat Zahwa yang sedang menangis.
"Au..."
Buk
Shaina kembali terbaring, karena pegangannya terlepas.
Hendra pun kaget dan spontan berlari mendekati Shaina dan memegang punggungnya. Fathir yang sudah menggendong Zahwa pun hanya mampu menatap cemburu. Kezeeeel.
Hendra pun membantu Shaina bangun, sementara Zahwa masih menangis, karena haus.
"Shain, ini dia kehausan." Fathir pun menyerahkan Zahwa pada Shaina yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Maaf, kalian boleh keluar, aku akan memberinya ASI."
Fathir dan Hendra pun keluar meninggalkan Shaina dan Zahwa.
Di ruang tamu.
"Kami akan segera menikah, aku harap kamu bisa menjaga jarak dengan Shaina." ucap Hendra mengingatkan Fathir.
"Huuh, sebelum janur kuning melambai, bukankah masih ada kesempatan?" Jawab Fathir lagi.
"Aku tidak akan menghalangimu untuk bertamu Zahwa, karena dia anak Biologismu, tapi tolong jaga jarak dengan Shaina."
__ADS_1
"Entahlah, kita lihat saja nanti." Fathir terlihat membangkang dan sangat tidak suka dengan kata kata Hendra.
"Assalamualaikum." ummi datang mencairkan suasana yang hampir memanas.
"Wa alaikum salam." Bersamaan.
"Mi aku akan pulang karena ada urusan mendesak, di kantor, nanti sore aku akan kemari lagi. Ummi tidak usah belanja, nanti biar aku bawakan keperluan dapur."
Ucap Hendra, dia pun berdiri untuk pamitan.
"Baiklah Nak, hati hati ya." Hendra pun pamit dan mengucap salam.
"Bagaimana denganmu?" Ummi menatap Fathir heran, karena lelaki itu masih duduk santai seakan akan ini rumahnya.
"Apa ummi mengusirku?" Tanya Fathir sambil tersenyum.
"Oh tidak, itu terserah Tuan saja." Ummi jadi salah tingkah.
Tok tok
"Tuan." orang suruhan Fathir datang dengan mengangkat berbagai macam peralatan bayi yang kemaren di bawa ke rumah sakit.
"Masuk, tolong rapikan di pojokan sana, dan kalian belanja ke pasar keperluan dapur."
"Lagi???" lelaki itu pun terlihat bingung karena belum selesai masalah yang ini, malah di tambah lagi perintah yang baru.
Bruk
"Aaaaau." Terdengar benda jatuh dari kamar Shaina.
"Ada apa?" Fathir pun meloncat menghampiri kamar Shaina.
ceklek
Masuk tanpa Babibu
Terlihatlah Zahwa tergeletak di lantai dan menangis. bersama Shaina yang terduduk di sampingnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1