
Hendra dan Shaina pun akhirnya berangkat menuju perusahaan Manae Grop. Ketemu nggak ya sama Shaina. Sesampainya di perusahaan besar tersebut Shaina pun sambil melihat-lihat pakaian yang ada di lantai dasar Kantor tersebut. Lantai dasar tersebut terlihat dari lantai 5 sekali pun. dibuat seperti mall gitu deh.
"Apa kau ingin sesuatu?" Hendra menawari untuk membeli barang kesukaannya.
"Oh, tidak, aku belum tau apa jenis kelamin anakku, ayo!"
Mereka pun naik lift untuk menuju ruangan rapat. Sesampainya di lantai yang di sebutkan mereka pun di jamu oleh pegawai yang bertugas menerima tamu, mereka memasuki ruangan. Sudah banyak rekan bisnis Pak Manae yang hadir dan duduk rapi di kursi yang ada di ruangan itu. Setelah duduk kurang lebih 25 menit. Pak Manae pun terlihat memasuki ruangan, di temani Zeze.
Deg
Bukankah itu wanita yang ku lihat di parkiran.
Gumam Shaina, dia sangat ingat wanita cantik yang memakai Rok mini dan blus bermerek tersebut. Sangat cantik dan anggun.
Acara pun di mulai. Setelah panjang lebar Pak Manae menceritakan kisah perjuangannya dalam membangun bisnis, dan trik-trik agar tetap sukses, acara pun di tutup. Acara selanjutnya makan-makan. Hidangan pun di sajikan. Berbagai menu lengkap tersedia di meja ruangan yang bersebelahan dengan ruang rapat tersebut.
"Mas, maaf, wanita itu siapa?" Tanya Shaina pada Hendra.
"Ooh dia Menantu Pak Manae," Ujar Hendra.
Menantu? apakah lelaki malam itu anak pak Manae?
Berbagai pertanyaan pun muncul di benak Shaina.
"Beruntung sekali dia ya?" ucap Shaina lagi.
"Kenapa? kau iri? kau pun akan beruntung seperti dia kalau kita menikah nanti, siapkan dirimu hem?" Hendra pun tersenyum sangat manis ke arah Shaina, membuat hati Shaina pun meleleh.
"Ih Mas apaan sih, aku melihat Mamah Mas nggak suka sama aku, aku takut Mas kalau harus bermusuhan sama mertua." ucap Shaina lagi terlihat cemberut.
"Kita akan meluluhkan hati mamah dengan cucu nya nanti sayang."
"Ih malu ah, kalau ada yang dengar."
"Ehem ehem, sudah hampir punya anak kok masih rayu-rayuan aja sih Hendra, so Sweet banget" Tiba-tiba Pak Manae datang dan menggoda Hendra. Pak Manae dulu sering berkunjung ke rumah Hendra karena dia rekan bisnis dengan Papahnya.
"Em, tidak Pak, itu hanya...hanya..." Hendra bingung mau jawab apa, dia hanya menarik-narik telinganya tersipu.
"Oh ya, bagaimana kabar ayah dan ibumu? aku sudah sangat lama tidak bertemu mereka, apa mereka baik-baik saja?" Tanya Pak Manae lagi.
"Iya Pak, alhamdulillah, mereka baik-baik saja."
"Mereka pasti sangat bahagia, sebentar lagi bakal kedatangan cucu, selamat ya." Ucap Pak Manae lagi sambil melirik ke arah Shaina.
"Bukan Tua..."
__ADS_1
"Oh iya Pak, terimakasih." Hendra menyelang perkataan Shaina yang ingin menyangkal.
"Makan yang banyak, biar bayi kalian sehat." Ucap Pak manae lagi ke arah Shaina. Shaina hanya mengangguk, mungkin Hendra tidak ingin banyak bicara, apalagi harus menjelaskan dirinya pada Pak Manae , jadi Shaina pun menuruti untuk diam.
Selesai makan mereka pun turun ke bawah.
"Shain, ayo kita lihat-lihat perlengkapan bayi dan lain-lain, di sini lengkap lho, semua produksi dari pabrik Manae Grop sendiri."
"Tidak usah Mas, nanti saja, lagian aku merasa kurang enak nih, perutku kenceng, mungkin tadi kebanyakan minum air."
Shaina berdusta, dia takut kalau Lelaki malam itu ternyata ada di situ, dia meyakini kini, bahwa lelaki itu adalah anak pak Manae.
"Benarkah? Baiklah, kita istirahat di hotel saja ya, kita Cari yang paling dekat."
"Hotel? untuk apa, baiknya kita pulang saja Mas, aku tidak enak."
"Kamu jangan khawatir, kita pesan kamar terpisah kok." Hendra pun membukakan pintu dan mempersilahkan Shaina masuk.
"Mas, mampir di ATM ya, aku mau ngambil uang." ucap Shaina.
"Ngapain ngambil uang? apa yang kamu inginkan heh? biar aku belikan, rujak? baju? cemilan? atau rumah hahaha." Hendra tertawa sambil melirik wajah pujaannya di kaca spion depan.
"Nggak Mas, aku pengen pengang uang aja kok!" jawab Shaina.
Hendra pun menepikan mobilnya.
Sett sett settt
"Ini uang untuk simpanan, kamu nggak usah ambil di ATM." Hendra benar-benar sangat perhatian, dia pun memberikan segepok uang yang berjumlah 2juta kurang lebih.
"Nggak mau Mas, itu uang kamu, ngapain kasih ke aku?" Shaina menolak mentah-mentah.
"Aku ini calon suamimu Shain, apa yang jadi milikku kelak juga adalah milikmu kok." Hendra melirik Shaina lagi dari kaca.
Shaina males membahas, dia pun hanya mengerucutkan bibirnya ketika menyadari Hendra menatapnya lewat kaca.
"Aku ingin mencek isi ATMku, tolong berhenti kalau melihat ATM, aku hanya ingin tau, berapa isi di ATMku." Ucapnya lagi.
"Hups baiklah sayangkuuuh, sebentar, kita cari dulu."
Hendra pun memelankan laju mobilnya. dan berhenti di depan Hotel.
"Kalau begitu kita disini saja sekalian istirahat, esok pagi-pagi sekali kita pulang. Itu ada ATM juga kok."
Hendra pun memarkirkan mobilnya di parkiran dan tergesak-gesak turun ingin membukakan pintu Shaina, namun Shaina lebih dulu membuka sendiri pintu mobil.
__ADS_1
"Mas apaan sih, nggak usah gitu Mas."
"Aku harus lebih giat lagi berusaha mengambil hatimu Shaina, hihi." Hendra cengengesan.
"Mas, aku merasa tidak enak kalau kamu seperti ini padaku, bagaimana kalau akhirnya jodoh itu bukan milik kita?" Shaina pun berjalan duluan menuju Mesin ATM.
"Wajib doong, jodoh pasti milik kita, harus optimis." jawab Hendra.
"Terserahlah, Mas ngeyel terus." Sahut Shaina, dan tenggelam di balik pintu ATM. Sementara Hendra menuju ke Resepsionis untuk memesan kamar.
Tat tit tut tut tut
Shaina pun mulai sibuk dengan panduan mesin ATM, tiba di Saldo.
"Ha? apa?" Dia kaget dan spontan menutup mulutnya.
"Tiga ratus juta(300.000.000)? apa ini angka yang betul? apakah angkanya sebanyak ini, ya Allah, apakah dia masih mengingatku? benarkah dia anak Pak Manae, bagaimana ini? dede, Ayahmu mengirimi uang sebanyak ini, Mama tidak tau harus di apakan, mama bingung, apakah papamu tau tentang dirimu? tapi saat itu Bibi bilang bahwa dia pernah ke rumah lama kita, dan terkejut saat tau aku hamil, pasti dia mengira memang ini anaknya kan?"
Tok
Tok
Tok
"Shaina? apa sudah selesai?" Tiba-tiba Hendra mengetok pintu ruangan ATM.
"Oh ya Mas, sudah." Shaina pun mengeluarkan kartu ATMnya.
Ceklek
"Lho, kok nangis? ada apa heh?apa isinya di curi orang? atau terlalu banyak? heh, hihihi." goda Hendra.
"E....hik hik hik hik hik." Akhirnya Shaina pun menangis dan menempelkan wajahnya di dinding pintu.
"Ha? kenapa malah kencang menangisnya? ada apa? ayo kita ke kamar hotel dulu, nanti aku dikirain menyakitimu atau menyelingkuhimu Shaina, ayo!"
Hendra pun meraih tangan Shaina dan membawanya naik ke hotel. Merwka pun menaiki Lift.
"Ini kamarmu, kalau ada apa-apa telpon saja, aku ada di sebelah sana ya, kamu tidak apa kan sendirian? atau mau aku temenin nih heh?" Hendra pun bersiap masuk.
"Eiiit jangan! aku nggak papa kok."
"Love you Shaina ku sayang, jangan berpling dariku ya... hihi."
Shaina pun menutup pintu tanpa menghiraukan perkataan Hendra. Karena itu sudah kebiasaan Hendra ngegombal.
__ADS_1
BERSAMBUNG...