Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Rumah Terakhir


__ADS_3

"Sayaaang, ini mamah mu nak, kalau kau besar nanti, jadilah wanita seperti dia, tangguh, penyabar, cantik dan sederhana." Ucap Fathir, pada bayi yang sedang di gendongnya.


"Tuan, sini! biar Nona muda ku bawa ke mobil, akan turun hujan tuan, gerimis, nanti Nona muda demam kedinginan." Ucap seorang sutter muda.


"Baiklah, kau tunggu saja di mobil, ini bawa Yola bersamamu!" Fathir pun menyerahkan bayi cantik dengan pipi Humairoh tersebut.


"Iya Tuan."


Fayyola Nadhifa


Makna: Putri yang memiliki hati yang tulus dan bersih.


Anak Fathir dan Salma.


3 bulan silam.


"Mas, aku pusing, aku udah nggak kuat lagi"


"Tunggu sayang, kita akan sampai rumah sakit sebentar lagi, Salman lebih cepat!"


Salman pun melajukan mobilnya sangat cepat. sesampainya di rumah sakit.


"Suster tolong istri saya, dia akan melahirkan."


Fathir sudah menggendong Salma dan membawanya ke ruangan UGD.


"Tuan, sepertinya Istri Tuan pingsan."


Suster pun memasangkan infus dan membawanya keruangan bersalin.


"Tuan, tunggu ya! kami hubungi dokter dulu."

__ADS_1


"Cepat sus....Salma, kamu harus kuat, demi anak kita, aku janji, aku sumpah berjanji akan memberikan hidupku untuk mu, aku akan membahagiakanmu, bangun sayang! ayo!" Fathir terlihat menangis dan terus memeluki perut dan tubuh Salma.


"Tuan, istri anda akan di bawa keruang operasi, dan kalau dia sadar akan segera di operasi."


"Baik sus, tolong sus." Rengek Fathir.


"Iya Tuan, Tuan tunggu di luar! berdoa saja demi kelancaran persalinan ini."


Salma pun di bawa ruang operasi, di pasangi oksigen dan lainnya.


"Dok, jantungnya makin lemah, bagaimana ini?" ucap seorang,suster yang menjaga monitor.


"Kita minta persetujuan suaminya, karena ibunya sudah tidak bisa tertolong." Ucap dokter itu.


Ceklek


"Sus...bagaimana istri saya?" Fathir sangat khawatir.


"Maaf Tuan, kami harus mengoperasi Istri anda dengan izin anda, detak jantung istri anda mulai hilang." Kata kata suster itu bagaikan petir di siang bolong.


"Maaf Tuan, kami hanya bisa menyelamatkan anak anda, itu pun kalau anda bersedia menandatangani berkas."


...


...


...


Hujan mulai turun, Fathir masih duduk bersimpuh di depan gundukan kecil itu, sudah tiga bulan istrinya meninggal saat kontraksi melahirkan karena rendah darah.


"Salma, maafkan aku, aku belum sempat membuatkan rumah baru untukmu, karena aku sibuk menata hatiku, maafkan aku, Tuhan lebih sayang kamu, dan akhirnya hanya ini Rumah yang ku buat untukmu, maafkan aku."

__ADS_1


tubuh fathir basah kuyup di guyur hujan yang tiba tiba datang sangat deras.


"Tuaaan, ayo! nanti tuan sakit, siapa jaga Yola kalau l Tuan sakit?" teriakan suster membangunkan Fathir dari lamunannya.


"Baiklah! Salma, aku pulang dulu."


Fathir mencium batu Nisan Salma dan masuk ke mobil.


"Kita langsung ke perusahaan pusat." Ajak Fathir.


"Baik Bos." jawab Salman yang kini menjadi sopir pribadi Fathir.


Mereka melaju menuju kota, ke perusahaan inti pak Manae.


"Kita makan di warung pinggir jalan saja!" Ucapnya lagi.


"Siap!"


Setelah beberapa saat mereka berhenti di sebuah warung makan yang bersih dan rapi.


Mereka memasuki dan duduk di kursi pojokan, karena Fathir masih sedikit basah kuyup, belum ganti celana, kalo baju udah ganti.


Deg


"Lho, itu kan Fathir?" Shaina yang lagi makan siang bersama teman sekantornya kaget saat melihat Fathir makan di tempat yang sama.


"Tapi kok nggak sama Salma?" Shaina ragu ragu untuk mendekati Fathir, dia takut kalau nanti Fathir malah oleng lagi.Dan mengejar cinyanya,rupanya Shaina nelim tau kalau Salma uda meninggal.


Tolong like and komen, bantu Author membangun semangat baru😃


😥😥😥😥😭

__ADS_1


BERSAMBUNG....


bab ini udah dari senen kemaren aku Up, namun msih loading terus😭


__ADS_2