
Langkah Fathir terhenti di depan pintu masuk Hotel kamarnya.
"A...apa? 2 tahun? emang penyakit apa yang bisa menebak usia seseorang?" Tanya Fathir heran dan terkejut.
"Alzeimer, Karena sehari sebelum pernikahan dia di pukuli oleh ayah dari wanita yang di jodohkan dengannya." Ucap Ummi.
"Hah? ayah wanita dalam perjodohan? gila, masa calon mantu sendiri di pukulin?" Fathir tambah heran.
"Karena Hendra tidak pernah mau di jodohkan."
"Jadi Shaina menikahi Herndra bukan karena cinta? dia menikah hanya gara gara kasian gitu?" Tanya Fathir lagi.
"Itu rahasia hati, mana Umi tau! tapi dia bilang, dia akan membahagiakan Hendra di sisa hidupnya." Ucap Ummi lagi, yang membuat hati Fathir terbakar kembali oleh api cemburu.
"Aku mau Zahwa, Hendra memikiki Shaina dan aku ingin memikili Zahwa." Balasnya
Ceklek
Krek krek
Fathir menutup pintu dan menguncinya.
Duk duk duk
"Tuan, tolong, aku tidak mau terjadi masalah, tolonglah, kembalikan Zahwa." Pinta Ummi sambil menggedor gedor pintu.
Fathir yang sudah masuk ke dalam pun membaringkan Zahwa di ranjangnya.
Ceklek
"Masukalah Mi," pinta Fathir.
"Tidak, kita bukan Mahrom," Ummi takkan mau.
"Kita tidak berdua, Salman kemarilah!" Salman pun muncul di balik pintu.
"Ada apa Bos?" Tanya Salman.
"Mana Zahwa, aku akan segera membawanya, nanti Shaina tau." Ummi panik karena tak kunjung bisa membujuk Fathir membawa Zahwa kembali ke kamar.
"Mi, sebentar saja, masuklah? apa Ummi membawa Hp?" Ucap Fathir membujuk.
"Iya, baiklah." Ummi slalu membawa Hp karena Shaina bilang begitu, takut kalau Ummi kenapa kenapa.
"Nanti Shaina akan menghubungi Ummi kalau dia lagi mencari Ummi." Ucap Fathir lagi.
__ADS_1
Ummi pun masuk. Karena kamar Vip, semua perlengkapan Penuh.
"Ummi mau minum apa?" Tanya Fathir lagi.
"Nggak, usah, udah minum." Jawab Ummi.
"Mi, berarti aku nunggu jandanya Shaina doong." Ucap Fathir ada harapan.
"Hus...jangan bicara begitu, do'akan saja mudahan Hendra bisa kembali sehat." Ucap Ummi.
"Mi, tentu saja aku senang kalau suatu saat nanti bisa memiliki Shaina dan juga bersama Zahwa." Ucap Fathir lagi.
"Semua itu sudah ada yang ngatur, kita tinggal menjalaninya saja Tuan." Jawab Ummi santai. padahal di dalam hati Ummi sangat was was, kalau Shaina dan Hendra tau masalah ini.
Fathir pun akhirnya diam. Dia memilih mendekati putri kecilnya dan mengajaknya bicara.
"Helo Zahwa, ini papah nak, jangan cari papah lain ya, cukup papah ini aja." Ucapnya.
"Mi, aku ingin bertemu Shaina sebentar." Ucap Fathir tiba tiba.
"Untuk apa, kau bisa berpesan padaku saja." Ucapnya.
"Tidak Mi, aku ingin bertemu sebentar saja Mi, setelah ini aku akan pulang, tolong Mi. Kalau aku tidak bisa bertemu Shaina, maka aku tidak akan membiarkan Ummi keluar dari kamar ini, dan aku juga akan menemui Hendra langsung." Ancamnya. membuat Ummi takut akan kesehatan Hendra.
"Baiklah, aku harus membawa Zahwa dulu, ke kamar Shaina." Ucap Ummi.
"Dari mana kau tau?" Tanya Ummi heran.
"Dari CCTV di pot bunga depan, hihi." Fathir jadi salah tingkah sendiri.
"Dasar kau ini, sampai memasang CCTV segala." Ummi pun melototi Fathir. Dia sedikit kesal oleh anak itu.
Tak berapa lama Shaina dan Hendra sudah datang membawa Makanan di tangannya. Hendra menekan bel pintu Mamah dan Ummi. Ummi pun panik.
"Bagaimana ini?" Ucap Ummi.
Fathir selaku seorang pembunuh, walau sebenarnya palsu, alias belum pernah membunuh, punya banyak trik.
"Tenang Mi, kita tunggu telpon mereka."
Mamah Hendra membuka pintu dan berbicara, mungkin mengatakan kalau Ummi tidak di kamar.
Benar saja tak berapa lama Shaina menelpon.
"Angkat Mi, bilang lagi jalan jalan." Ujar Fathir.
__ADS_1
'Assalamualaikum'
'wa alaikim salam'
'Hello, ya Nak!"
'Ummi di mana? ini kami bawakan cemilan'
'Iya baiklah, lagi jalan jalan, tadi Zahwa rewel'
'Baik Mi,assalamualaikum'
'Wa alaikum salam'
Terlihat Shaina dan Hendra,memasuki kamar mereka, ini kesempatan Ummi keluar.
Ceklek
"Ummi jangan lupa, aku mau bicara dengan Shaina." Ummi hanya mengangguk.
Tap tap tap
ting tong
Ceklek
"Mi," Ternyata Ummi mengetuk pintu Shaina, dan kebetulan Shaina yang membuka.
"Shain, aku ingin ngomong sesuatu sebentar. Ayo!" Bisik ummi pelan.
"Obang, aku pergi bersama Ummi sebentar ya?" Izin Shaina pada suami.
"Baik, jangan lama lama, nanti tahu tek nya dingin." ucapnya.
"Oke."
Tap tap tap
"Kita mau ke mana Mi?" Shaina heran melihat Ummi berjalan menuju ujung kamar.
Ceklek
Ummi membuka pintu Fathir
"Lho? kamar siapa Mi?" Shaina tambah heran, dengan ulah Umminya. namun dia tetap mengiringi Ummi dan masuk.
__ADS_1
"Fathir???" Shaina kaget melihat lelaki itu di depannya.
BERSAMBUNG....