
Shaina menyelesaikan doanya dengan bercucuran air mata.
Kemudian melipat sajadahnya.
Ceklek
Tap
Tap
Tap
Keluar menuju dapur.
"Bi...apa Obang sudah makan?"
Tanya Shaina pada Bibi yang sedang sibuk mencuci piring.
"Belum ada yang turun Non."
Jawab Bibi.
"Tentu saja mereka belum bangun, pengantin baru kok."
Tiba tiba mamah Hendra datang dan seakan akan memanas manasin Shaina.
"Oh mamah, mamah mau makan? biar Shaina ambilin."
Ucap Shaina seperti biasa, dia selalu baik.
"Nanti saja, mau nunggu Laila dan Hendra dulu."
Bruk
Suara yang sangat keras terdengar dari kamar Shaina. mungkin Hendra yang membanting pintu.
"Mah aku ke kamar dulu." Shaina pun pamit untuk melihat. Ny.Linggar tersenyum sinis.
Aku yakin Laila akan memberiku cucu. Aku tidak akan membiarkan Hendra tidur di kamar Shaina lagi.
Lirih Ny.Linggar.
Ceklek
"Obang!"
Shaina sudah sampai di kamar Dan melihat Hendra berbaring di ranjang.
"Sayang...ada apa denganku? mengapa aku bisa ada di kamar atas?"
Tanya Hendra heran.
"Obang, Laila adalah istri Sah Obang sekarang. Jadi Obang harus adil pada kami."
Jawab Shaina, dadanya bergetar darahnya berdesir hebat saat mengatakan itu.
"Tidak! aku hanya punya kamu, selamanya begitu."
__ADS_1
Hendra pun memejamkan matanya.
Tok tok tok
"Mas, makan dulu!"
Ternyata Laila yang datang, pasti Ny.Linggar yang menyuruh.
"Tidak! aku tidak lapar."
Sahut Hendra.
"Bang, baiknya makan dulu, nanti Obang sakit lho."
Ucap Shaina membujuk.
"Bukankah sekarang pun aku sudah sakit? mengapa aku sering sakit kepala?"
Hendra pura pura belum mengetahui penyakitnya.
"Tapi tidak terlalu sakitkan?"
Tanya Shaina khawatir.
"Aku lapar, tolong ambilkan aku nasi! dan di suapin sama kamu ya!"
Rengek Hendra.
"Baik Bang."
Mungkin Hendra curiga, kalau Shaina mengetahui penyakitnya.
"Bukankah hanya sakit sedikit Bang, itu pun kalau Obang berpikir keras baru terasa sakit, kalau Obang santai nggak papa kok."
Shaina berlalu untuk mengambilkan sarapan.
"Mana Hendra?"
Tanya Mamah Hanan saat melihat Shaina datang.
"Dia tidak mau keluar mah, dia pengen makan di kamar."
Shaina pun mengambil piring.
"Tunggu, biar Laila yang ambilin. Laila, cepat kau bawakan makan suamimu itu!"
Laila pun dengan cepat mengambilkan makan dan membawanya ke kamar Hendra.
...
...
...
"Shainaaaaaa..."
Trang tring trong
__ADS_1
Rumah besar itu menggema oleh teriakan Hendra. pecahan piring pun terdengar nyaring. Shaina pun bergegas menuju kamar begitu juga Mamahnya.
"Ada Bang?"
Shaina mendekati suaminya yang kini duduk di pojokan ranjang.
"Kenapa kau suruh pembantu untuk menyuapiku? apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi? mengapa kau tidak mau menyuapiku Sayang!?"
Hendra tampak meneteskan air mata.
"Bang, bukan begitu..."
Belum sempat ngomong banyak, Ny.Linggar mamotong pembicaraan.
"Hen, dia itu Laila, orang yang dulu kau sukai."
Jawab Mamah Hendra membela Laila.
"Tidak! aku tidak mengenalnya, silahkan kalian keluar, Shaina, aku lapaaaaar."
Rengeknya,
"Tunggu, Shaina akan mengambilkan makanan."
Shaina dan mereka berdua pun keluar dari kamar Hendra.
"Shaina, kau apain Mas Hendra? kok dia sangat tergantung denganmu?"
Tanya Laila sedikit kasar.
"Laila, sudahlah, kau fokus saja bikin cucu buatku, nanti kalau dia tidak mau tidur di atas, nanti kalau dia sudah tidur kalian tukeren tempat saja, kan beres? mati in tuh lampu, biar Hendra tidak mengenali kalian."
Cecer Ny.Linggar
Shaina hanya terdiam.
"Betul juga."
Sahut Laila.
"Bagaimana tadi malam Laila?" Tanya Nyi.Lnggar di hadapan Shaina
Ny.Linggar benar benar jahat, dia memanas manasin Shaina terus terusan.
Ya Allah, tolong kuatkan hamba.
Lirihnya.
"Yaaaa begitulah Mah! masa harus diceritain."
Bayangan Laila teringat akan tadi malam.
"Kau siapa? mengapa tidur disini? sana kau tidur di bawah!"
Hendra mendorongnya hingga terjatuh, terpaksa Laila tidur di karpet, sedang Hendra tidur di ranjang.
BERSAMBUNG....
__ADS_1