
Pa Linggar sudah terapy sejak sebulan yang lalu, dan sekarang dia sudah mulai bisa berjalan.
"Pak Joko, tolong kau awasi Shaina dan juga pergerakan Fathir, dan laporkan tiap saat padaku." Ucapnya.
"Baik Bos."
"Pak, maaf Bos, kemaren aku lewat Rumah Shaina yang baru, mereka membeki rumah mungik di pinggir kota, dan sekarang mereka jualan nasi di pagi hari dan es buah di siang sampai sore hari." Ucap orang kepercayaan Pa Linggar."
"Apa mereka sekarang sebangkrut itu?" Ucap Pa Linggar.
"Iya Bos, itu yang saya lihat. Dan beberapa hari lalu juga Fathir menjemput anak anak pakai motor padahal sedang hujan deras, Dan beberapa hari ini aku tidak melihat Den Rangga berangkat sekolah, hanya ada Yola dan Zahwa Bos."
Ucapnya lagi.
"Benarkah? apa yang terjadi dengan cucuku Rangga?" Pa Linggar terlihat khawatir, walau dia marah sama Shaina dan Fathir, namun Rangga 9adalah darah dagingnya.
"Entahlah Bos."
"Cari tau. Jangan sampai kau kehilangan kabar berita."
"Baik Bos."
...
...
...
"Shaina, baiknya kau istirahat saja, biar aku yang jaga." Ucap Fathir.
"Tidak papa Beng, biar Ummi yang jagain anak anak di rumah."
Warung es buah Shaina tergolong ramai, dan bahkan sudah ada beberapa langganannya yang minta di antar ke rumahnya bahkan dengan ongkos yang mahal.
Sang Surya sudah mulai tenggelam.
"Alahamdulillah Beng, jualan pagi tadi habis, dan jualan,siang ini oun juga habis, walau tak seberapa, mudahan bisa mengobati Rangga."
__ADS_1
"Iya Sayang, ayo!"
Fathir pun mengunci warungan kecilnya dan menggandeng Shaina untuk pulang ke rumah. Karena rumah mereka sangat dekat.
"Mereka terlihat bahagia, apakah mereka memang bahagia? atau hanya berpura pura saja?" Tanya Pa Linggar.
"Setiap hari mereka memang begitu Tuan, aku juga tidak tau, mungkin mereka merasa cukup karena mereka memang dari awal hanya orang biasa saja." Ucap bawahannya.
"Ooh, mungkin saja."
"Ayo Bos!"
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
...
...
...
"Nasi 30 bungkus mbak!"
Shaina pun membungkus dengan gesit, sementara Fathir sedang mengantar anak anak sekolah.
"Berapa Mbak?"
seet Shaina menayap pembeli.
"Mbak Zeze? "
"Hahahaha, sudah 6 bulan kita tidak bertemu, kenapa kau tidak mengenali suaraku lagi? kau terlalu pelupa Shaina." Zeze pun tertawa.
"Mbak sangat cantik dengan hijab mbak itu, aku pangling melihatnya, tambah macanata hitam, mana aku bisa mengenali Mbak, oh iya, siapa itu di mobil?" Tanya Shaina.
"Oooh, itu? ayah Daxon." Ucapnya.
"Benarkah? kenapa nggak ngabari?"
__ADS_1
Ternyata Zeze sudah menikah dengan anak pengusaha kaya raya.
"Bagaimana aku kabari? Nomor Fathir udah nggak aktif, alamat ini pun aku dapat dari sekolahan Zahwa." Ucap Zeze.
"Oh iya, nomkr Fathir terbloker, lupa ngisi pulsa karena kesibukannya ngurus anak anak."
"Mengapa tak bekerja di kantorku saja sih?" Tanyanya.
"Kami ingin memulai dari nol lagi mbak. dan ini adalah awal kami menjalani hidup."
"Oke, aku jalan dulu ya, nanti kapan kapan aku mampir lagi, ini mau ke panti asuhan kasih nasi ini, jum'at depan aku pasti pesan lagi ya."
"Terimakasih mbak."
...
...
...
..m
"Beng bangun! Rangga Beng, dia sakit lagi." Shaina menggoncang tubuh Fathir untuk membangunkannya.
"Oh ayo kita ke rumah sakit!"
Fathir pun menggendong Fathir dan Shaina mengambil kunci.
Fathir meletakkan Rangga di tengah, sementara Shaina naik di belakang.
Mereka meluncur menuju Rumah sakit.
"Sakit maaaa." Rengek Rangga di pelukan Shaina.
"Sabar sayang, emch."
Shaina terus memeluki tubuh Rangga. Dari jarak yang lumayan jauh, ada mobil mengikuti mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG...