Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Kantong Darah


__ADS_3

Buk


Damon menghantam Hendra.


"Tuan, tuan, permisi, bayinya menangis, biar aku gendong." ucap ummi.


Ternyata Damon hanya menghayal sedang memukul Hendra.


Damun, Hendra dan juga ummi menunggu dengan harap-harap cemas.


Tap


Tap


Tap


"Maaf, apa ada keluarga yang golongan darah B? kami memerlukannya satu kantong sekarang." Seorang perawat datang tergesak-gesak.


"Aku Sus, ambil saja darahku."


"Mari!" Hendra pun mengikuti Suster keruang pendonoran darah. Diperjalanan Hendra tampak was-was.


"Sus apa yang terjadi?"


"Shaina mengalami pendarahan hebat, mungkin untuk saat ini satu kantong cukup, tapi tolong bersiap-siap untuk hal terburuknya."


"Oooh Tuhaaan..... Baik Sus, aku akan mencari golongan darah B setelah ini."


Mereka pun sampai di ruangan yang di tuju.


Hendra pun di tusuk untuk mengambil darahnya.


"Sus, kenapa dia sampai pendarahan?"


"Sebelumnya dia terjatuh kan? sebelumnya juga sudah diperingati untuk tidak beraktivitas berat."


"Iya Sus."


"Stres juga bisa menjadi pemicu pendarahan."


"Oooh," selesai mendonor, Hendra pun di persilahkan kembali keruangan.


"Nak, bagaimana keadaan Shaina?"


"Mi, apa ada keluarga atau tetangga ibu yang bergolongan darah B? Shaina mungkin nanti akan memerlukannya lagi Mi."


"Apa memerlukan banyak darah?" Damon yang tadi menunggu kabar dari Hendra pun tampak khawatir.


"Saat ini sudah cukup 1 kantong, tapi tidak tau nanti."


"Baiklah, aku akan mencari orang yang bergolongan darah itu."


Damon pun terlihat mengambil Hp nya dan membuat status WA. Begitu juga Hendra dia pun menelpon seseorang. dia pun keluar untuk menelpon.


'Mah, aku perlu darah mamah untuk di donorkan'


'Untuk siapa?'


'Shaina Mah, dia pendarahan gara-gara Mamah di kantor kemaren.'


'aku? aku tidak ngapa-ngapain Hen, wanita itu sudah meracunimu ya! berani menggertak mamah.'


'Gara-gara Mamah mengancam Shaina dan membuatnya tertekan, dia pun jatuh dan pingsan. Kalau mamah tidak mau mendonor, kalau terjadi apa-apa sama Shaina, Mamah akan tau akibatnya.'


'Kamu jangan kurang ajar.'


Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut


Suara itu seakan memekikkan telinga Hendra ketika Mamahnya menutup telpon secara sepihak.


Hendra pun menghubungi kerabat lainnya namun tidak ada yang bergolongan darah tersebut, ada beberapa tapi ada yang hamil dan lansia😁. Hendra tampak frustasi.

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


"Hendra, tenanglah, aku sudah mendapatkannya." Damon angkat bicara ketika melihat Hendra tampak sayu.


"Ada berapa?"


"2 kantong, sebentar lagi mereka ke sini, karena jarak lumayan jauh, mungkin sekita 1 jam kurang lebih."


Tap


Tap


Tap


Perawat pun datang membawa Shaina yang terbaring lemah keruangan Vip tersebut, Shaina Masih pingsan karena pengaruh obat bius Total.


"Shainaaaa..Bangun Naaaaak, hik hik hik."


"Mi... dia tidak apa-apa, dia hanya belum siuman dari obat bius operasinya." Ucap Hendra menenangkan Ummi.


"Oooh, kirain pingsan, tapi kan sudah 3 jam?"


"Kalau Bius Total bisa sampai 6 jam Mi."


Sedang Damon hanya menatap wanita itu dari jarak jauh, dia juga menatap putri mungilnya bergantian. Seorang gadis yang imut putri Ny. Shaina dan Tuan Damon.


Sayang, maafkan Papa ya, papa baru bisa bertemu denganmu sekarang.


Sementara Di luar.


"Bu, Mas Bay kemana sih, kok lama banget."


"Tunggu sebentar Nak, dia lagi ngantar orang hamil juga kayak kamu, mungkin kesakitan perut Nak, kasian." Ucap Ibu Damon sambil mengelus.


Mereka menunggu terus menunggu sudah 3 jam mereka menunggu.


"Kasian sekali Ibunya di tinggal berlama-lama," ucap Ummi.


"Kok bisa lupa sama ibunya sendiri sih." Hendra pun ikut berkomentar.


"Mungkin dia sangat khawatir dengan Shaina, tapi ternyata dia non muslim, aku jadi terharu dan rasa gimanaaa gitu, bisa menyaksikan langsung orang muaallaf."


"Aku malah deg-deg kan Mi, baru pertama kali ini meng-islamkan orang, padahal aku juga irangnya acak adul." ucap Hendra.


Walau di lubuk hatinya ada perasaan takut kehilangan Shaina, setelah tau kalau Damon lah ayah Biologis Putri mungil itu.


"Tapi kita tidak boleh menunda orang yang mau Muallaf Nak, Dosa."


"Oooh, gitu ya Mi. Oh ya Mi aku keluar dulu ya cari makan."


"Iya, hati-hati, jangan ngebut kalau jauh ya?"


"Baik Mi." Hendra merasa senang karena Ummi memperhatikannya, dia merasa akan di restui oleh Ummi, apalagi selama ini Hendralah yang slalu ada untuk Shaina saat dia terpuruk.


*


*


*


Hendra pun tiba di sebuah Warung makan sederhana.


"Mba, bungkus 3 ya, ayam lalapan aja." ucap Hendra.


"Iya Mas, tunggu ya." Seorang wanita yang masih muda menjadi pelayanan warung makan tersebut, sangat cantik dan sedikit berpakaian Seksi.


Bruk

__ADS_1


"Hey, kalian semua yang di warung ini, keluarkan tiap orang 20 ribu uang kalian." tiba-tiba 3 orang lelaki kurus rambut panjang dan dekil datang membawa sebuah pisau belati dan meng-acungkannya ke atas. Hendra dan pengunjung lainnya pun kaget.


Hap


Seorang wanita yang dekat dengan Hendra seperti karyawan toko tiba-tiba mendekap tubuh Hendra dari depan karena ketakutan.


"Mas takuuut, tolong Mas."


"Hey menjauh dariku."


"Aku takut Mas tolong."


Hendra pun mengambil Maskernya dan memasangnya di mulutnya.


"Kalian mau berapa?" Ucap Hendra dengan lantang.


"wani piro heh?"


"Sebutkan saja nominalnya."


"Apa kau punya uang?"


Melihat baju Hendra hanya kemeja kusam ucek ucek karena seharian belum ganti. Brandalan itu tidak percaya kalau Hendra punya banyak uang.


"Sebutkan saja, aku mau cepet pergi."


"Kau berani? aku mau 500ribu."


Hendra pun mengambil dompetnya dan menghitung. Kebetulan sebelum ke warung dia singgah di ATM.


"Ini, sekarang kalian silahkan pergi."


Kepala preman itu pun mengambil dan tersenyum licik sambil menatap teman-temannya dan mengernyitkan alisnya.


"Kami mau lagi." ucap nya, karena melihat masih banyak kertas berwarna merah di dompet Hendra.


"Tidak, aku tidak suka orang yang plinplan sekali ucap selesai." Hendra pun maju dan mengambil makanannya.


Settttt


Preman itu menarik baju Hendra dari belakang.


"Tambah."


"Tidak!"


Ketika Preman itu hendak memukul Hendra lun menangkisnya.


pertengkaran tidak dapay terelakkan, semua pengunjung warung panik. Hendra pun keluar dengan berlari dan meletakkan nasi di atas meja.


Hap


seeet


Preman itu mengambil nasi Hendra dan melemparnya sampai berserakan di tanah. Hendra meradang.


bug bug bug


Sett Hap kreeeek


Henrda pun menskak 3 preman itu sekeligus. Karena dia pembisnis maka ayahnya menekankan dari usia,dini untuk dia bela diri dari sejak dini, sehingga kini dia sangat lihai melawan meksi 10 orang sekaligus. Bibi Hendra berdarah.


"Ampun tuan, ampun."


"Kembalikan uangku, karwna kalian telah melakukan penawaran denganku."


"ini Tuan."


Para Preman itu pun kacir meninggalkan warung makan.


"Waaah, Pak terima kasih banyak.",Wanita yang nempel tadi lebih dulu mendekat.

__ADS_1


"Biar aku traktir, Mbak tolong bungkus 3 nasi lagi seperti tadi ya." Wanita itu mentraktir Hendra.


BERSAMBUNG....


__ADS_2