Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Memohon untuk kembali


__ADS_3

Dag dig dug door


"Tuan Fathir?"


Shaina tertegun menatap lelaki yang kini berdiri hadapannya, lelaki itu, lelaki yang sangat sulit dia tepis dari hatinya.oh berdosakah Shaina coba menutupi semua itu, dia hanya wanita yang penuh kekurangan. "Mari masuk! Bi tolong bawakan air minum!"


Shaina pun segera mengalihkan pandangannya dari lelaki yang penuh pesona itu.


Tap tap tap


Kini Fathir sudah duduk di ruang tamu Hendra dia menyapu ruangan itu dan menatap satu kamar, yang di yakini nya kamar Shaina dan Hendra.


"Ooh...Tuan Fathir? terimakasih telah berkunjung." Tiba tiba Ayah Hendra datang dengan duduk di kursi roda menghampiri Shaina dan Fathir.


"Oh iya pak...saya ingin menjenguk Hendra, sudah sangat lama kami tidak pernah bertemu."


Ucapnya sopan.


"Ini diminum dulu, Tuan."


Shaina menyodorkan minuman yang di suguhkan Bibi.


"Terimakasih Shain, oh iya, boleh aku bertemu Hendra?"


Izin Fathir pada Shaina.


"Oh boleh, mari! Shaina pun membawa Fathir ke kamar tamu yang sekarang jadi kamar mereka. Fathir menatap perut Shaina yang membuncit.


Apa dia sedang hamil?


Lirih hatinya.


Ceklek


"Obang... ada Tuan Fathir nih."


Hendra yang sekarang cuma sering berbaring karena tubuhnya sering merasa lemes pun terbangun dan mencoba duduk, Shaina pun membantunya.


"Damon?"


Hendra hanya mengingat nama itu, nama Fathir sebelum muallaf.


"Iya, apa kabar?"


Fathir pun menatap saingannya itu penuh iba. tubuhnya yang kurus terlihat ceking dan tidak mempesona lagi. Pasti di pikiran Fathir. Kali ini dia pasti bisa ngendapetin Shaina, saingannya udah KO😁

__ADS_1


"Awas ya, kalau kamu masih ingin mengambil Shaina dariku!"


Bentaknya tiba tiba.


"Oh, tidak, aku ke mari hanya ingin bertemu denganmu, makan yang banyak, itu sudah hampir punya debay, dia pasti cantik kalau cewek, dan tampan kalau cowok."


Fathir basa basi.


Hendra hanya diam tidak merespon.


"Apa kau ingin bertemu Zahwa?"


Tanya Hendra, dia masih mengingat anak kecil itu yang sekarang sudah berlarian.


"Oh tentu!"


Jawab Fathir.


"Obang mau makan?"


Tanya Shaina.


"Nggak aku mau tidur, kepalaku sakit, kau bawakan saja Zahwa untuknya."


Hendra pun berpaling membelakangi Fathir dan Shaina. seperti anak kecil yang kurang beradab.


Mereka pun keluar meninggalkan Hendra.


Ceklek.


"Bi...Zahwa mana?"


Fathir kembali duduk di sofa, sementara Shaina mencari Bini di dapur.


"Di kamar Non, lagi nonton Tv sendirian, nonton Nusa Rara."


Ceklek


Shaina pun segera menuju kamar Bibi dan menggendong Zahwa.


"Papap."


Zahwa pun memeluk Fathir, walau jarang bertemu, namun Fathir sering nelpon lewat HP Bibi untuk VC.


Fathir memeluk tubuh mungil itu.

__ADS_1


"Shain...ayo kita menikah! Aku tau kau tidak bahagia, aku juga tau, kau sudah di madu kan? dan istri muda Hendra juga sedang mengandung."


Fathir terasa sakit mengingat Shaina di madu.


"Tuan, maaf, aku tidak ingin merusak rumah tangga kami yang masih utuh, biar semua ini aku jalani, jadi tolong Tuan jangan ikut campur."


Pinta Shaina.


"Shain, rumah tanggamu sudah rusak, bahkan sudah roboh, lihat! kau di madu, Hendra sekarat, apa yang kau harapkan dari semua ini heh?"


Hendra sangat emosi, bagaimana mungkin wanita yang selama ini di sanjungnya malah berada di situasi sangat buruk.


"Hey...oooh.kau? kau kan yang ketemu kita di Mall tadi?"


Laila dan Ny.Linggar sudah datang.


"Iya Tante..."


Jawab Fathir.


"Shain! tolong bawakan belanjaan kami yang ada di mobil!"


Laila dan Ny.Linggar melenggang menaiki tangga menuju kamar atas.


"Baik Mah,"


"Hah? Shaina! jadi kau juga jadi babu mamahnya? keterlaluan."


Fathir berdiri ingin menyusul Ny.Linggar yang sudah hilang di balik loteng.


"Tuan mau apa? tolong pergilah, aku baik baik saja!."


Ucap Shaina.


"Shain...kali ini aku mohon ayo kita pergi, setelah kau melahirkan anak Hendra, kita akan bahagia Shain!"


Fathir sangat memohon.


"Tuan aku mau ambil belanjaan mamah dulu, mohon Tuan silahkan pulang!"


Usir Shaina halus


Hap


"Ayo kita pergi dari sini!

__ADS_1


Fathir menggendong Zahwa dan mencengkram tangan Shaina.


BERSAMBUNG.(620)


__ADS_2