Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Tiada namun bikin Cemburu


__ADS_3

Fathir, Shaina, Rangga, Zahwa dan juga Yola sudah berada di dalam mobil, mereka meluncur menuju kediaman lama yan22g pernah Fathir berikan duku untuk Shaina.


Sementara Pa Linggar tampak menangis, walau pun dia keras kepala dan pemarah, namun dia sangat menyayangi Rangga cucu satu satunya itu


'Helo, pa Joko, aku ingin mengganti pewaris ku, aku ingin kau mengirim surat,ke rumah Shaina bahwa, Rangga bukanlah pewaris ku lagi.'


Pa Linggar menelpon orang kepercayaannya.


'Baik Bos.'


Apakah Pa Linggar benar benar mengalih pewarisnya, atau hanya menguji ya Thor.


"Bi...tolong bawakan aku kopi!"


Teriak pa Linggar.


'Baik Tuan.'


'Oh iya, karena Keluarga Fathir sudah tidak di sini lagi, Lala sama Rara bisa pulang ke rumah masing masing."


Perintahnya.


Bibi yang mendengar itu pun segera memberitahukan ke pada Lala dan Rara.


"Bi, apakah tidak ada pekerjaan lain lagi? mau ke mana lagi kami mencari pekerjaan bi?"


Ucap Lala. Lala dan Rara adalah sepupuan. Mereka hidup cuma berdua di kota besar ini, orang tua mereka ada di desa hanya mengandalkan pertanian yang di sewa dari juragan tanah.


"Kau telpon saja Non Shaina, dia pasti memerlukan kalian, mungkin tadi dia tergesak gesak dan sedang kacau, makanya tidak sempat mengajak kalian, ayo telpon!"


Saran Bibi membuat wajah Lala kembali mempunyai harapan.


Ceklek


"Inilah rumah baru kita, ayo semuanya!"


Ucap Fathir. Rumah yang terlihat bersih rapi dan wangi itu memang tidak di huni. namun setiap pagi ada pembantu yang membersihkan mengepel dan lain lain untuk menjaga rumah itu.


"Waaaaw, besar sekali Pa!"


Ucap Yola dan memeluk pinggang papanya.


"Sebenarnya ini Rumah Zahwa, tapi karena kita tidak ada rumah yang lain, untuk sementara kita tinggal di sini dulu."


Ucap Fathir.


Namun tanpa ada yang menyadari, tiba tiba wajah Yola cemberut, dia pun melepaskan pelukannya dan berjalan menuju Sofa.


"Tidak papa Pa, ini juga Rumah kita bersama, nggak masalah, walau kelak Zahwa udah besar dan bekerja, kalian tetap tinggal di sini, jangan menganggao ini hanya Rumah Zahwa, ini adalah Rumah kita bersama pa, ma."


Ucapnya.


Sementara Rangga tak memperhatikan omongan orang tuanya dan kakanya.


Dia asyik mengingat tusukan tajam oleh kakeknya tadi.


Kakek membenciku, kakek mengusir kami dari rumahnya.


Batin Rangga, dia tidak bisa menerima itu.


Hap

__ADS_1


Tiba tiba Rangga memeluk mamanya dan meneteskan air mata, walau dia menyembunyikan isakannya.


"Sayang, ada apa?"


Shaina yang merasa aneh dengan anak bungsunya itu pun memegangi ke dua pundak jagoan itu.


"Mengapa kakek mengusir kita ma? apa salah kita?"


Tanya Rangga, walau pun tidak terisak, namun air matanya terlihat menetes di sudut matanya.


"Sayang, bukan begitu nak, kakek lagi lelah, dan dia cuma kurang sehat, sehingga kakek tak sengaja mengucapkan itu."


Ucap Shaina.


"Ayo semuanya, kalian pilih kamar dan bereskan baju kalian sendiri!"


Ucap Fathir, sedang dia berjalan menuju kamar utama membawa koper yang berisi bajunya dan baju Shaina.


Tentu saja Rangga memilih kamar yang sama dengan Shaina.


"Yola, ayo!"


Zahwa memanggil Yola yang masih duduk di Sofa.


"Kemana? aku nggak tau kamarku yang mana?" Tanyanya.


"Yola, kau tentu saja tidur denganku kan? ayo!"


Sekali lagi Zahwa mengajak Yola, namun terlihat Yola hanya menggeser duduknya dan berpaling.


Zahwa membereskan bajunya dan kemudian membereskan baju Yola, walau Yola masih terlihat cuek, namun Zahwa sangat perhatian dan baik hati, sejak kecil dia ditanamkan rasa sayang kepada keluarga, berbeda dengan Yola yang dari bayi tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dia hanya di manjakan dengan uang.


Pagi yang ceria. Rumah baru dan kegiatan baru, mulai hari ini Shaina tidak lagi bekerja di perusahaan Linggar Grop, dia akan fokus mengurus anak anak dan suami.


"Sayaaang, tolong pasangkan Dasi doong, terlalu bertele tele ini ah."


Teriakan Fathir membuat Shaina berlari ke kamar, padahal dia baru saja ingin ke dapur untuk memasak telor dadar kesukaan anak anaknya.


"Beng beng belajar dooong masang sendiri, masa terus menerus merepotkan istri sih Beng! aku lagi sibuk juga Beng ngurusin anak anak yang pengen sekolah."


Protes Shaina, walau pun maksudnya agar Fathir belajar, namun Fathir malah salah paham.


"Kamu itu istriku, harus patuh dan taat padaku."


Ucapnya.


"Tapi kita belum punya pembantu Beng, pagi ini semuanya aku yang kerjakan, Lala sama Rara baru siang ini pindahan kemari, karena kemaren kita kelupaan mengajaknya kan?"


Ting tong.


Suara Bel berbunyi.


"Biar aku."


Ucap Fathir, Shaina pun berlari ke dapur, sementara Fathir membuka pintu.


Ceklek


"Kami dari utusan pa Linggar ingin bicara sama Nona Shaina."


Mendengar ada tamu Rangga sebagai anak kecil penasaran dan berlari ke luar kamar.

__ADS_1


"Silahkan masuk!......Sayaaaang, ada tamu untukmu nih!"


Ucap Fathir.


"Aku masih ngegoreng telor Beng, tunggu 5 menit lagi!" pintanya.


"Tinggalkan saja biar aku yang ke sana!"


Fathir pun ke dapur, sementara Shaina keluar.


"Ada apa pak?" Tanya Shaina.


"Ini dari pa Linggar Nyonya, kami hanya mengantarkan saja, silahkan di buka."


Rangga yang sudah terlanjur ada di sana pun penasaran, dia duduk nempel di samping Mamanya.


Srettt srett srettt


Sangat jelas di sana tertulis.


Dengan ini aku menyatakan mencabut ahli warisku Rangga dan mengalihkannya ke pada orang lain yang belum aku tentukan.


Remuk tuh hati Rangga, walau dia belum laham apa arti yang sebenarnya, namun dia masih mengerti sedikit.


"Jadi kakek tidak memberiku uang lagi?"


Ucap Rangga, karena selama ini Rangga sering di beri uang, dan itulah yang di kira Rangga tentang ahli waris.


"Rangga, karena kita berjauhan, jadi kakek nggak mungkin kan ke mari memberi Rangga uang lagi, kecuali kalau Rangga ke sana nanti."


Shaina tetap ingin memberi citra baik tentang kakek pada Rangga.


"Shainaaaa,sayaaang, gosong." Teriak Fathir di dapur yang sedang memasak telor dadar.


Shaina pun berlari ke dapur.


"Pa, apakah kakek marah padaku?"


Rangga penasaran dan kembali bertanya pada orang orang kepercayaan Linggar.


"Tuan muda, mungkin kakek hanya lagi kesal, karena Tuan muda pindah dari sana."


Ucap salah satu mereka.


"Tapi kemaren kakek mengusir kami kok, katakan pada kakek, jangan pernah nyakitin Mama, aku akan melindunginya dengan tanganku sendiri."


Rangga pun pergi meninggalkan mereka dengan wajah kesal dan marah.


"Persis seperti Tuan Hendra ya dia."


"Iya benar, pasti dia akan menjadi seperti Tuan Hendra yang sangat mencintai Shaina dan membelanya mati matian." Ucap yang lainnya.


"Apa yang kalian bicarakan? mengapa membicarakan orang yang sudah mati? aku akan menjaga istriku dengan baik, sekarang kalian boleh pulang, tugas kalian sudah selesai."


Ucap Fathir ketus dan kesal ketika Mereka menyebut nama Hendra.


"Iya Tuan, permisi."


"Dasar kurang kerjaan, orang sudah mati pun di sebut sebut juga." Gumam Fathir lagi


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2