
Fathir sangat sakit, dia sangat menyesal menyaksikan wanita yang telah dia hamili itu tumbang begitu saja. Yang lebih menyakitkan lagi, kini wanita itu juga membencinya.
"Ummi...Maafkan aku, baiklah, aku akan pergi, tapi tolong, jangan halangi aku untuk bertemu dengan Zahwa, aku ingin slalu menatapnya," Fathir terlihat loyo, akhirnya dia mengalah, dan menuruti Ummi untuk pergi sekarang.
"Aku janji, aku akan mempertemukan kalian nanti, tapi pergilah, sekarang Shaina mungkin lagi trauma pasca melahirkan, jadi baiknya kau jangan menampakkan wajahmu lagi di sini. Nanti aku akan menghubungimu." Bujuk Ummi.
"Baik Mi, assalamualaikum, jaga Zahwa dengan baik Mi, aku sangat menyayanginya." Fathir pun berbalik menjauh.
"Wa alaikumsalam."
Dengan sangat terpaksa Fathir pun pergi meninggalkan rumah Shaina. Hendra menatap saingannya itu dengan hati senang.
"Nak Hendra, baiknya kau pulang juga, aku bisa menangani ini." ucap Ummi.
"Mi, aku ingin segera menikahi Shaina. Secepatnya." Hendra mendesak Ummi.
"Tapi dia masih belum stabil, mungkin dia sekarang mengalami trauma pasca melahirkan. Kita harus membuatnya tenang dulu." Ucap Ummi.
"Baiklah Mi, aku akan mencari rumah dekat sini, aku sudah minggat dari rumah, dan sekarang aku harus mencari tempat tinggal." ucap Hendra lagi, yang membuat Ummi kaget.
"Astagfirullah, Nak, mengapa kau lakukan itu, ada orang lain yang sibuk mencari orang tuanya, kau malah sibuk meninggalkan mereka, jangan durhaka Nak." Ummi mengingatkan.
"Aku harus mandiri Mi, aku tidak mau slalu di kekang." ucap Hendra.
"Tapi nanti malah Ibumu membenci Shaina, kau harus memikirkan itu?" Ummi memberi nasehat.
"Aku benar benar tidak mengerti dengan papah dan mamah Mi, mereka ingin menjodohkanku dengan anak rekan Bisnisnya, aku sama sekali tidak menyukainya." Hendra tampak kesal.
"Itu pasti yang terbaik untuk dirimu dan perusahaan kalian, kau coba saja, lagian Shaina tidak akan mau menikah kalau tanpa restu ibu dan bapakmu Nak." Ummi coba memberi pengertian.
"Mi sudahlah, aku mau istirahat, aku akan mencari rumah dulu, assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
*
*
*
Pagi yang cerah 3 hari sudah berlalu, kini Shaina tampak sudah terlihat gembira dan bisa duduk sambil menggendong bayinya.
"Mi, apa persediaan makan kita masih ada, bagaimana dengan uang belanja kita?"
"Tenanglah Nak, beras dan bahan lainnya sudah ada dan cukup untuk satu bulan ke depan."
"Siapa yang membelinya Mi? apakah Mas Hendra?"
__ADS_1
"Itu...itu.."Ummi tak bisa menjawab.
"Aku mengerti, pasti ayah Zahwa kan? aku juga tidak bisa memungkiri, bahwa dia ayah biologis Zahwa. Tapi, bagaimana dengan istri dan anaknya mi? bagaimana kalau mereka tau?"
"Shaina, pulihkan saja kesehatanmu, jangan memikirkan itu, aku sudah melarangnya datang. oh ya, bagaimana dengan Hendra? apa kau berencana menerimanya?"
"Kalau orang tuanya belum menerima aku Mi, aku tidak ingin menikah tanpa restu, itu akan sangat mengganggu pikiranku." Jawab Shaina.
"Ooh, baiklah, itu terserah kau saja." Ummi pun duduk di samping Shaina sambil membelai pipi Zahwa.
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
Ceklek
Ummi membuka pintu.
"Budi, ada apa?"
"Ini Mi, ada titipan dari seseorang." Ucap Budi.
"Dari siapa?" Ummi penasaran.
"Ambilah, ada surat di dalamnya."
*Dear Zahwa, putriku. Papah mohon maaf, papah bukanlah papah yang baik, tapi sejak papah melihat kau, papah akan berusaha menjadi papah yang sempurna di matamu.
Terimalah pemberian Papah.
Shaina, mungkin beribu maaf tak bisa mengehentikan tetesan darah di lukamu. Namun aku akan berusaha menghentikannya walau bagaimana pun caranya. Menikahlah denganku. kita mukai dari awal bersama Zahwa malaikat kecil kita.
Ummi
ini sertifikat Rumah, tolong kalian segera pindah dari sana. aku ingin putriku hidup dengan baik. uang yang ada di ATM Shaina telah ku tambah kembali, tolong gunakan itu untuk keperluan putri kecilku. kalau terjadi sesuatu padanya, aku sungguh tidak akan bisa memaafkan diriku Ummi, mohon kabulkan permintaanku*.
"Shain, dari Fathir." ucap Ummi.
"Bagaimana Mi, aku akan membantu kepindahan kalian bersama orang orang yang sudah di bayar." Ucap Budi, ada 5 orang bersama Budi saat ini.
"Kami perlu membicarakannya Budi."
"Mi ini menyangkut perut kami, kalau saya tidak bisa mengajak kalian pindah maka lihatlah anak anak mereka akan kelaparan, karena kami hanya mengharap upah dari jasa kami ini Mi." Budi sengaja membawa orang orang yang kurang mampu di desa itu untuk membantu kepindahan Shaina. Budi di ancam oleh Fathir, kalau dia tidak berhasil membawa putrinya pindah maka Budi tidak akan mendapat pekerjaan.
"Shain? bagaimana ini?"
__ADS_1
"Bisanya hanya mengancam, tidak Mi, aku tidak mau memakan jasanya, nanti aku tidak bisa membayarnya."
"Nyonya, tolong kami, kami perlu makan Nyonya." ucap Budi menghiba.
"Ish, mengapa dia pintar sekali membujuk, tidak, katakan padanya, kami tidak akan pindah, titik." ucap Shaina lagi.
Shaina pun masuk ke dalam membawa putrinya ke kamar dan membaringkannya di ranjang.
"Maaf Nak Budi, kalian pulang daja, mungkin Shaina tidak bisa menerima pemberian Tuan itu."
"Mi, kami perlu uang itu untuk makan, lihatlah mereka."
Terlihat bapak2 dan juga seorang pemuda yang terlihat lusuh duduk memasang muka pasrah, karena di tolak, wajah lelah mereka sangat mengganggu pikiran ummi.
"Aku akan membicarakannya lagi dengan Shaina," Ummi pun masuk. sementara di luar petir dan kilat mulai menyambar nyambar.
"Hey kalian, kita tidak akan pergi dari sini, sampai mereka mau pindah walau di sembar petir sekalipun." ucap Budi
Degummmm
Suara guntur menggelegar di atas langit, hujan sebentar lagi akan turun. Mobil truk dan mobil grabe pun sudah datang. Akhirnya gerimis pun turun.
Dari balik jendela kamar ternyata Shaina menatap mereka dengan hati sedih.
"Shain, bagaimana? apa kita akan pindah?"
"Mi... bagaimana dengan ruko Mas Hendra. bukankah juga sudah siap kita tempati?"
"Kita bisa menjaga toko kalau kau sudah pulih, atau kita cari pembantu untuk itu, kasihan mereka hanya mencari makan. Anak anak mereka tentu sedang menunggu ayahnya pulang untuk membeli lauk." Ummi galau, namun dia tidak bisa memaksa Shaina.
"Baiklah, Mi, ayo kita pindah,"
"Benarkah? baiklah, aku akan mengatakannya pada mereka.
Ummi keluar dan memberitahukan pada Budi. Budi tampak tersenyum.
"Hey, ayo semuanya, masuk! kita ambil barang yang perlu di bawa."
Tampak dari kejauhan sepasang mata sedang menatap pergerakan di rumah Shaina dengan senyuman lebar. Dia memeluk Hpnya dan menciuminya berulang ulang.
Tampak di layar itu foto seorang ibu muda sedang tidur di samping bayi mungilnya yang sangat cantik.
Shaina, aku tidak akan rela kau menjadi milik orang lain.
Ucapnya lirih
Dia kembali mencium layar Hpnya
__ADS_1
dan akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dengan senyum mengembang di bibirnya.
Bersambung....