
"Jadi, berapa gajih yang kau inginkan?" Tanya Zeze, setelah dia duduk di depan Fathir, kaki Zeze pun di tumpang sehingga p*ha mulusnya terekspos sempurna di mata Fathir. Fathir pun segera memalingkan wajahnya dan pura pura menatap jendela.
"Itu terserah padamu Ze, kau kan pemilik perusahaan ini?" Jawab Fathir.
"Baiklah, apa kau mau jadi asisten pribadiku? tapi multi Fungsi ya? dari jadi sopir, sekretaris saat aku meeting di luar kota, dan juga pekerjaan penting lainnya. untuk gajih, 10 juta, bagaiman? apa kau setuju?" Tanya Zeze.
"10juta? apakah itu tidak berlebihan?"
Fathir malah merasa kemahalan.
"Coba sopir gajihnya 2.5juta, sekretaris 5 juta, dan gajih untuk menemani rapat di luar kota atau di hotel hotel berbintang 2.5 juta beserta uang makannya." Zeze merincikan gajih yang dia sebutkan..
"Ooh, baiklah, deal.",Ucap Fathir, dia pun tersenyum tak perlu lagi khawatir untuk memberi makan ke 4 anggota keluarganya.
"Deal," Zeze pun mengulurkan tangannya, dan di sambut Fathir, namun genggaman itu begitu erat saat Fathir ingin menarik tangannya.
"Ze, baiklah, sekarang, apa yang harus aku kerjakan?" Tanya Fathir.
"Nanti malam, aku ada rapat di luar kota, ini pekerjaan pertamamu, dan sore kita akan mempersiapkan diri dan berkas yang harus ku bawa." Ucapnya.
"Bukankah itu pekerjaan sekretaris mu? aku akan pulang dulu sore, untuk mengatakannya pada Shaina, nanti malam akan aku jemput kau di Mansion." Ucap Fathir.
"Tapi aku kurang percaya pada sekretarisku, kadang dia teledor dan melakukan kesalahan. Aku ingin kau yang mengurusnya dan menceknya sendiri." Jawab Zeze.
"Kalau kau tak percaya padanya, kau ganti saja dengan yang lain, kan lebih bagus!" Saran Fathir.
"Itu masih aku pikirkan, tapi kali ini bantu aku." Ucapnya lagi.
"Baiklah, aku akan menelpon Shaina dulu." Fathir pun keluar dan mengambil Hpnya.
'Helo sayang...Assalamualaikum.'
'Wa alaikim salam. bagaimana Beng, apa kau sudah di kantor mbak Zeze?" Tanya Shaina.
'Iya sayang, tapi malam ini aku tidak bisa pulang, karena Zeze ada rapat di luar kota, sia memintaku untuk menjadi sopirnya." Ucap Fathir.
__ADS_1
"Baiklah Beng, syukurlah kau sudah di terima bekerja, hati hati Beng ya!"
sahutnya.
"Iya sayang, jaga anak anak kita ya! besok aku akan pulang siang. Assalamualaikum emch."
'Wa alaikum salam.'
Ternyata Zeze menguping di balik pintu yang tidak tertutup rapat.
"Bagaimana? apakah Shaina mengizinkanmu?" Tanyanya pura pura tidak ta dengan jawaban Shaina.
"Iya, sekarang bagaimana?"
Tanya Fathir.
"Ini berkas yang akan ku bawa tolong di cek."
Fathir pun mengambil berkas itu dan meletakkannya di meja yang ada di ruangan itu. dia mencek satu persatu.
"Baiklah, ayo kita pulang, kau ambil baju di bawah dan kita pulang ke Mansion."
Ucapnya.
...
...
..
'Helo Ummi, maaf kemaren Shaina mau ke rumah sana, namun karena ada sedikit masalah jadi di tunda.' Shaina menelpon umminya.
'Hari ini bisa ke mari kan? ada sedikit masalah nak.' Ucap Ummi dari sebrang telpon.
'Oke Mi, nanti habis ashar kami akan ke sana ya.' Janji Shaina.
__ADS_1
'Baiklah.'
Telpon pun di tutup.
Shaina pun menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan mulai mengambil jemuran dan melipatnya. Zahwa pun ikut membantu, sementara Yola dan Rangga tampak duduk manis di depan televisi sambil nyemil kacang goreng bikinan sendiri.
Tak terasa Ashar pun sudah tiba.
"Nak ayo kita ke rumah nenek!" Zahwa dan Rangga sangat senang mereka berlari mencari baju yang pantas, zahwa mengambil kerudungnya dan menunggu di depan teras.
"Uola, kok bekum siap?" Ucap Shaina saat melihat Yola masih duduk di depan televisi.
"Yola tinggal aja ma, males jalan." Jawabnya.
"Lho, kamu sendirian lho! nanti klo kenapa kenap bagaimana?" Ucap Shaina.
Zahwa pun yang mendengar, masuk kembali dan ikut membujuk Yola, akhirnya Yola mau dan mereka berangkat. Sepanjang jalan muka Yola tampak masam.
Ciiiit Bruk
tiba tiba Shaina menabrak pembatas jalan untung tidak terlalu laju, jadi hanya lecet sedikit.
"Mama... kok jatuh!" Pekik Yola sambil memegangi lututnya yang berdarah.
"Ma...ada apa,- Zahwa yang,melihat mamanya menatal satu arah oun heran.
" Oh maaf," Shaina oun mendirikan motornya dan mencek anak anaknya. Ternyata luka Zahwa yang lebih parah, lutut dan kakinya lecet dan berdarah.
"Mama begong makanya jatuh," Ucap Yola ketus.
"Ma..." Rangga hanya berucap sepatah kata. Dia sekarang lebih suka memoerhatikan dan menyelidiki masalah. Sejak oengusiran kakeknya dulu.
Apakah benar itu mbak Zeze dan Beng Fathir? Tapi kenapa mbak Zeze tampak menyandarkan kepalanya di bahu Bebeng?
Lirih hatinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...M