Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Shaina Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

"Mas jangan! ku mohon" Shaina berteriak.


"Aku akan memberi Pelajaran lelaki buaya itu."


"Mas jangan, aku takut terjadi sesuatu padamu, tolong jangan!" Shaina sangat khawatir.


"Aku harus memberinya pelajaran Shain. Dia lelaki yang tidak bertanggung jawab." ucap Hendra lagi.


"Jangan! tunggu! apa Mas ingin dia bertanggung jawab heh? apa Mas ingin aku menikah dengannya? silahkan, silahkan Mas ke sana dan bawa dia ke sini, lalu nikahkan kami oke!" Shaina pun berlari dan masuk ke rumah tanpa menoleh. Dia menangis, kesal, sangat kesal, betapa tidak, dengan susah payah dia menghindari lelaki itu beberapa kali, malah ada orang yang ingin mempertemukannya kembali.


Bruk


Krek krek


Dia masuk kamar dan menguncinya dari dalam.


Dia pun Berbaring miring dan menutupi mukanya dengan bantal, dia menangis sejadi-jadinya, dadanya terasa sesak.


Tok


Tok


Tok


"Shain, buka! aku mohon maaf, aku emosi Shain, tolong maafkan aku, buka Shain!"


"Nak, baiknya biarkan saja dulu, mungkin dia merasa tertekan dengan apa yang baru saja dia lihat. Baiknya Nak Hendra pulang saja."


"Ummi tapi aku takut dengan kondisi Shaina, baiklah, hari ini aku akan bermalam di sini saja."


"Eeeh, jangan! tidak boleh, tidak baik Nak seorang lelaki bermalam tanpa ada hubungan apa pun."


"Baiklah bu, aku akan mencari penginapan dekat sini, kalau ada apa-apa tolong kabari aku ya!" Hendra pun melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Nggak papa, Nak Hendra pulang saja." ujar Ummi.


"Nggak Ummi, aku pamit dulu, cari penginapan dekat sini, assalamualaikum."


"Wa alaikumussalam."


Hendra pun pamit.


"Ummi...."


Ceklek


"Ada apa Shain?"


"Tolong Mi, perutku sakit banget mules mules gitu Mi."Shaina tamlak terduduk di sisi ranjang dengan menahan ari arinya seakn akan meu jatuh.


"Baik nak, aku akan nelpon dulu." Ummi pun keluar dan segera menelpon Hendra.


"Tunggu nak ya, sebentar lagi Hendra datang."


"Hendra? tapi Mi au aduh," Shaina meringis menahan sakit perutnya. sia menelus elus bagian bawah perut.


"Nak, ada apa? apa sakit sekali?"


"Iya Mi, Mi maafkan Shaina sering menyusahkan Ummi, sedang Shaina belum bisa membahagiakan Ummi hik hik."


"Jangan begitu Nak, ini sudah kewajiban ummi, kamu jangan berpikir macam-macam."


"Mi, sakit Mi, terasa di tusuk tusuk gitu,"


"Istigfar Nak, baca tasbih yang banyak. Ini baru 7 bulankan, nggak mungkin mau lahiran, mungkin kamu kecapean saja nak."


"Mi, aku takut, bagaimana kalau aku meninggal?"


"Nak, jangan bicara begitu, masa sakit begitu aja meninggal?"


"Sakit banget Mi auu." Shaina pun mengeratkan cengkramannya di,sisi ranjang tempat dia duduk.

__ADS_1


"Tunggu sebentar lagi." Ummi pun jadi bingung menghadapi Shaina, karena dia tidak pernah mengalami seperti itu.


Dulu waktu hamil biasa aja nggak pernah kesakitan gitu kecuali pas mau lahiran.


Tap


Tap


Tap


"Mi, ada apa?" Ternyata setelah 5 menit Hendra pun datang.


"Tolong Shaina, dia mules." Ucap Ummi


Hendra pun segera mengangkat Shaina yang sudah tidak bisa berjalan.


Mereka melaju menuju rumah sakit."


"Mi, ada cairan keluar Mi, tolong Mi, sakit Mi."


"Aduh gimana ini, Nak apa Rumah sakit masih jauh," Ummi tampak gugup dan was was


"Sekitar 30 menit lagi Mi kalau tidak macet,"


Hendra pun melajukan mobilnya dengan cepat. dia sama kacaunya dengan Ummi, sesekali dia mencuri pandang pada Shaina lewat Spion depan.


"Istigfar Nak, sabar ya nak,"


"Mi, rasanya ada yang pengen keluar Mi, bagaimana ini Mi." Shaina terus merasa kesakitan.


"Aduh Ummi juga bingung nak, ini kan baru 7bulan." Ummi jadi panik dan tak karuan rasa.


Hendra yang mendengar keluhan Shaina hanya mampu berdo'a dalam hati.


Setttt


Setttt


Sett


"Hey, tunggu!" Tiba-tiba ada mobil yang mengejar Mobil Hendra namun Hendra tidak memperhatikan.


"Ada apa Mon? siapa?" ucap Mamah Damon yang heran dengan tingkah anaknya.


"Bu kita akan mengejar mobil itu, aku harus bertemu dengan orang yang ada di dalam itu bu." Damon lun mempercepat laju mobilnya.


"Siapa mereka Nak? hati-hati, adikmu sedang hamil Mon." Ibunya memperingati Damon agar tetap waspada dengan jalanan.


"Nanti akan Damon jelaskan, sekarang jaga Loli bu, aku tidak mau kehilangan mereka lagi.


"Mereka? tapi jangan terlalu kenceng Mon au." Saat Damon menyelip mobil lain, Mamanya dan Loli pun tergeser dari duduknya, sementara Loli hanya tertawa kecil.


"Oh maaf Bu, aku harus bisa mengejar mobil itu."


"Mereka siapa? kok kamu seperti kesyetanan gini sih."


"Di dana ada cucu ibu,"


"Cucu? kapan kamu menikah?"


"Bu, nanti aku jelaskan, aku lagi konsentrasi pada jalanan." Akhirnya ibunya pun mengalah dan diam.


*


*


*


Mereka pun sampai rumah sakit.


Tap

__ADS_1


Tap


Tap


Hendra berlari masuk ke UGD dan memanggil perawat.


"Tolong, darurat."


"Ada apa pak?"


"Istri saya mau melahirkan tolong."


"Baiklah Pak, kami akan segera ke sana."


Perawat pun membawa Branker untuk pasien.


"Hey kau?" Hendra Kaget karena sudah berdiri Damon yang menggendong Shaina menuju ruang UGD, sementara Shaina tampak kesakitan dan tidak mampu lagi untuk membuka Matanya.Damon terus berlari kecil tanpa memperdulikan Hendra yang kaget, dia pun meletakkan Shaina di Branker dan mendorongnya sendiri dengan laju.


"Tolong urus dia secepatnya, dengan harga berapa pun akan aku bayar. obat terbaik yang di miliki Rumah sakit ini, tolong." Damon terus mendorong branker itu dengan arahan Perawat, dia pun segera di bawa keruang bersalin.


Sesampainya di sana.


"Bu kandungannya berapa bulan?"


"Baru 7 dok." Sahut Ummi.


Dokter pun memeriksa jalan lahir.


dan memeriksa lainnya.


"Maaf bu, anak ibu harus di operasi."


"Baiklah dok, apa pun yang terbaik."


"Tolong dok, " ucap Damon.


"Suaminya mana?" Tanya dokter.


"Aku" Damon dan Hendra bersamaan, Dokter pun bingung.


"Jangan bercanda."


" Aku ayah dari bayi." Ucap Damon lagi.


"Tidak!" Sahut Hendra


"Jangan berdebat, segera tangani anakku tolong Dok, biar aku saja yang menandatangani berkas sebagai ibunya."


Ucap Ummi.


"Ummi pun menandatangani surat izin pembedahan. Sementara Shaina tampak begitu lemas dan tak berdaya. Matanya pun hampit tertutup.


"Nak, sabar, sebentar lagi, kamu harus operasi Nak."


"Mi, tolong selamatkan bayiku Mi, aku rela mengganti nyawanya, asal dia selamat Mi tolong, Mi."


"Shaina, jangan bicara seperti itu." Damon memegang tangan Shaina, Membuat Hendra meradang.


"Tuan, tolong jangan pegang tangan anak saya karena kalian bukan Mahrom." Damon pun melepaskan tangannya.


"Maaf,"


"Nak banyak-banyak berzikir, tidak akan terjadi apa-apa kok, kita sudah melalui hal yang lebih berat dari ini Nak."


Shaina benar-benar terlihat lemas.


"Maaf bu, semua persiapan,sudah selesai, kami akan membawa ank ibu.


BERSAMBUNG....


WANITA BERCADAR BIRU

__ADS_1


Akan hadir lagi tanggal 21 mei ya


__ADS_2