
Beberapa orang telah menarik sahamnya dari perusahaan ShinWa Grop, dan kini Fathir benar benar bangkrut. Karyawannya pun terpaksa di istirahatkan mendadak.
Fathir pulang dengan kaki gontai.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
Shaina yang baru saja sholat ashar pun menyongsong kedatangan suaminya.
"Beng, ada apa? kok loyo?" Tanya Shaina.
"Ayo kita duduk dulu!"
Fathir pun menggandeng Shaina dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kita harus menjual rumah ini sayang."
Fathir menatap Shaina sendu.
"Kenapa? apa yang terjadi?" Shaina jadi hetan.
"Kita bangkrut, semua investor telah menarik saham mereka dan mengalihkannya pada alinggar grop."
Ucap Fathir.
"Astagfirullah, apakah mungkin papah yang merencanakan ini?"
Ucap Shaina. Hatinya merasa pilu. Baginya, cukup Rangga tak di akui pewaris itu sudah cukup baginya, tapi mengapa harus perusahaannya juga di bikin bangkrut. Tanpa mereka sadari. Rangga mendengar dan memperhatikan dari jarak yang sangat jauh. Tangan mungilnya mengepal erat.
Kakek, kau sungguh telah menyakiti hati ibuku.
Lirihnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa mempertahankan rumah Zahwa ini." Gumam Fathir lagi.
"Beng, tidak apa apa, kita bisa hidup sederhana, kita akan belajar membuka usaha kecil kecilan ya!"
__ADS_1
Ajak Shaina.
"Mama...papa udah pulang?" Zahwa yang baru selesai sholat di kamar atas pun menuruni anak tangga.
"Iya sayang, sini!" Fathir pun merangkul Zahwa dan menciuminya, dia merasa sangat berslah.
"Sayang, maaf sebelumnya, kita akan pindah dari rumah ini. Papa terpaksa menjual rumah ini, karena perusahaan kita sedang dalam masalah."
Fathir terpaksa mengatakan itu pada Zahwa.
"Emang ada apa dengan perusahaan?"
Yola yang baru datang terlihat sewot melihat kemesraan Zahwa dan Fathir.
"Sini!"
Shaina pun melihat gelagat Yola yang cemburu dan menyuruhnya duduk di sampingnya. Namun Yola menolak, dia pun duduk di sofa terpisah.
"Secepatnya kita akan pindah dari sini, karena perusahaan papa sedikit bermasalah." Ucap Fathir.
"Terpaksa Yola, papa akan menjual rumah ini, karena papa tidak bisa menggajih karyawan lagi."
Fathir sangat merasa bersalah pada Zahwa.
Tap tap tap
Bruk
Yola menaiki anak tangga dan menutup pintu kasar.
...
...
...
"Bagiamana? apa reaksi Shaina kemaren heh?" Pa Linggar sedang bersama orang suruhannya yang mengantarkan surat wasiat kemaren pada Shaina.
__ADS_1
"Terlihat terkejut, namun beliau bisa mengendalikan diri pa, namun kelihatannya Rangga cucu bapak, sangat membenci bapak, terlihat dari sudut matanya dari kejauhan." Ucap suruhannya itu.
"Ooh, tidak masalah, nanti kalau sudah selesai semua ini, dia pasti kembali ceria dan baik lagi." jawabnya.
"Ini berkas yang Bapak minta, semua sudah di tanda tangani Nyonya Shaina."
"Baiklah, kalian boleh pulang!" Perintahnya.
Mereka pun meninggalkan rumah Linggar Pratama.
"Pasti sangat menyenangkan bermain dengan Fathir lelaki sombong itu, lihat saja, kau tidak akan bisa berdiri di atas kakimu lagi Fathir, terlalu sombong dan angkuh." Gerutunya.
Dia pun masuk ke kamar dan beristirahat.
Sementara Laila sudah di jebloskan ke penjara bersama Luna yang juga sudah tertangkap.
...
...
...
Rumah Zahwa sudah berhasil di jual, gajih karyawan sudah di lunasi.
"Sekarang kita mau ke mana Shain, kita harus punya rumah meski pun kecil."
Ucap Fathir.
"Kita menemui Ummi dulu, trus sama Loli dan ibu, kita tidak usah menceritakan ini, aku takut Loli akan terganggu lagi jiwanya." Ucap Shaina.
"Baiklah."
Mereka pun masuk kamar dsn membersihkan pakaian.
Shaina tampak meneteskan air mata. Sementara Rangga dia hanya diam dan memendam rasa sakitnya di dalam hati.
bersambung...
__ADS_1