Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Siuman


__ADS_3

"Shaina, bangun! kamu harus kuat, Shain ayo!" Luri pun menggoyang-goyang tubuh Shaina agar Bumil itu bisa sadar kembali.


Ceklek


Hendra muncul dan langsung merangkul Shaina, kalau saja Shaina bangun dia pasti marah karena tubuhnya di rangkul.


"Ayo! aku akan membawanya ke klinik." Hendra pun menggendong Bumil yang mungil itu. dan membawanya turun menuju parkiran.


Dia membaringkan Shaina di kursi belakang, Luri pun ikut masuk dan merebahkan kepala Shaina di pahanya. Mereka pun melaju menuju klinik terdekat.


Di perjalanan.


"Bos, baiknya kau jauhi saja Shaina, kasian dia!"


"Emang kenapa Ri? aku ingin menyelamatkan dia dari hinaan orang-orang kelak, kalau anaknya lahir tanpa ayah, dia pasti merasa akan lebih sulit lagi, setelah dia lahir kami akan menikah dan membawanya pindah ke rumah yang baru."


"Tapi masih lama, sekarang kasian dia,"


"Kenapa dia sampai pingsan?"


"Tadi Mamimu dan maneger baru katanya sih tunanganmu, datang ke ruangan kami, Mamimu sangat marah dan mengancam Shaina, kasian Shaina tertekan Bos."


"Apa!? jadi ini ulah Mami dan wanita itu, keterlaluan mereka, aku akan memberi dia pelajaran, aku juga akan mempetingati Mami."


"Menurutku jangan Bos, itu malah akan membuat mereka marah dan memberi tekanan pada Shaina, selama ini dia sudah sangat tersiksa dengan cobaan hidup, dia akan di berhentikan Mamimu kalau sampai kalian masih dekat."


"Terus aku harus bagaimana, aku tidak akan melepaskan Shaina."


"Hups, aku hanya bisa memberi saran, baiknya kau jangan berhubungan lagi dengan Shaina sampai dia melahirkan."


"Itu mustahil Ri! Sehari saja tidak melihatnya, rasanya dunia ini runtuh di kepalaku, pusing aku tuh."


"Terserah kau saja." Luri pun tampak kesal dan kemudian diam.


"Huaaaah, di mana aku?"


"Shaina, kau tidak apa?"


"Lho kok rasa goyang-goyang? perasaan tadi kita kan di kantor?"

__ADS_1


"Kita akan ke klinik untuk memeriksakan kandunganmu dan juga kesehatanmu, tadi kamu pingsan."


"Tidak apa-apa Mbak, cuma kecapean,aja kok, kita pulang saja."


"Kita akan memeriksa kandungan mu lalu kita pulang kerumahmu oke, titik." ucap Hendra.


"Tapi Mas, aku tidak apa-apa kok, nanti Ibu Mas malah tambah marah kalau begini, aku tidak bisa kehilangan pekerjaan ini Mas."


"Kamu tenang saja, walau Mamiku memecatmu pun aku akan membiayai 100 persen hidupmu dan Ummi. Tenang saja!"


"Kita tidak ada hubungan apa-apa Mas, tidak baik kalau kau membiayai hidup kami, itu malah akan membuat semua orang tambah mencibir kami, tolong bantu aku untuk hidup tenang Mas."


"Shaina, 2 bulan lagi kita akan menikah, baiknya, kau istirahat saja, tidak usah bekerja, aku akan membiayai semua keperluanmu oke?"


"Mas!"


"Tidak! jangan lagi menolak,."


Tak terasa mereka pun sudah sampai di klinik Bunda.


Tap


Tap


Tap


"Maaf, baik Mas keluar dulu."


"Tidak apa-apa bu, suaminya melihat, biar tau perkembangan anaknya."


"Tapi.."


"Iya bu, baik saya keluar saja, Mbak Luri tolong temani istri saya."


"??????" Luri dan Shaina pun saling pandang.


"Baiklah, mari saya periksa, maaf bu ya, tolong buka bajunya." Baju bagian perut Shaina pun di buka dan di berikan cairan untuk di USG.


"Apa baru-baru ini ibu ada terjatuh?"

__ADS_1


"Iya Sus, tadi di kantor saya terpeleset." Jawab Shaina.


"Ibu, anak Ibu mengalami gangguan, dia hampir memasuki selengkangan, dengan kata lain, hampir kekuar dsri rahim ibu, jadi ibu harus istirahat total."


"Oooh, ya Allah, trus harus bagaimana Sus?"


"Cukup istirahat jangan banyak gerak nanti juga akan kembali kok."


"Terimakasih Sus,"


Shaina pun berdiri dan turun dari dipan.


"Aduuuh."


"Kenapa Shain?" Luri panik.


"Mungkin itu karena bayi yang turun tadi, baiknya di gendong aja menuju mobil." Saran suster.


"Bos, masuklah!" Hendra pun masuk.


"Shaina tidak bisa berjalan, karena ada gangguan di kanddungann."


"Tidak, jangan! aku akan mencoba berjalan, Mbak tolong gandeng aku."


Hap


Hendra pun mencuri badan Shaina dan membawanya ke mobil.


"Mas."


"Ini darurat, jangan bandel."


Luri pun menyelesaikan pembayaran pakai uang pribadinya, karena Hendra lupa memberikan uangnya.


Sementara Shaina menopang kedua tangannya di atas dadanya entahlah untuk menutupi apa😃.


"Mulai hari ini kau ku pecat."


"Hah????"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Hai Reader tinggalkan jejak ya, upah Author hilangin lelah saat ngetik😃


__ADS_2