
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam, papaaaa."
Hap
Zahwa yang memang selalu menunggu kedatangan papanya langsung memeluk Fathir. Sementara Yola yang gengsi keduluan hanya duduk tak memperdulikan.
"Udah makan siang?" Tanya Fathir.
"Belum pa." Jawab Zahwa.
"Kita makan di luar yuk, mama mana?" Tanya Fathir lagi.
"Lagi nyuci pa. Itu mobil siapa pa?" Tanya Zahwa yang melihat ada mobil di depan rumahnya.
"Ada deeeh, ayo panggilin mama, papa mau mandi dulu cari baju ganti. Bau acem nih papa baru dari bangunan warung jus."
Fathir pun berjalan dan mengelus Yola lalu menuju kamarnya untuk mencari baju ganti.
"Ma...papa udah datang, katanya kita makan siang di luar, nene mana?"
"Benarkah? baiklah, ini mama jemur baju dulu ya."
Ummi pun di panggil untuk bersiap siap.
"Ayo!" semua sudah siap di depan teras.
"Mobil siapa Beng?" Tanya Shaina.
"Maaf, hanya ini yang bisa ku beli, ini pun nyicil." ucap Fathir. Sebuah mobil yang terlihat masih mulus walaupun bekas untuk keluarga Fathir.
"Kok beli bekas sih pa?" Sahut Yola.
"Yola, kok ngomong gitu sih?" Zahwa pun dengan cepat menanggapi Yola.
"Nggak papa sayang, yang penting kita bisa jalan jalan kan?" ucap Shaina.
Yola yabg memang dari kecil nggak pernah dapat perhatian dari seorang ibu, hanya brsama pembantu dan di manjakan oleh Fathir, membuat dia sedikit kurang sopan.
Sementara Fathir pura pura tidak mendengar, karena memang Fathir agak emosian, Shainalah yang mengajarinya kalau marah cukup diam.
__ADS_1
Muka Yola cemberut.
"Ayo naik!"
Mereka semua masuk mobil dan sekali lagi Yola bikin ulah, dia nyelonong duduk di kursi depan.
"Yola, kamu di belakang sama nenek." Ucap Fathir.
"Udah Beng, nggak papa kok." Shaina mengalah.
"Hufs." Fathir menghela nafas dalam.
akhirnya mereka meluncur menuju warung makan terdekat.
Sesampainya di restauan yang lumayan, mereka memesan makanan kesukaan jus buah dan lain lain.
"Rangga, ada yang mau papa bicarakan sama kamu, kamu makan aja dulu ya!"
Mereka pun menyantap makanan yang sudah tersedia.
"Enak banget pa makanannya," ucap Yola.
Yola pun nambah nasi dan juga lauk lauk yang dia sukai.
Selesai makan mereka masih terlihat santai.
"Assalamualaikum." Ucap seseorang yang suaranya sangat Shaina kenal.
"Wa alaikum dalam, Papah?"
Pa Linggar pun duduk di kursi kosong di samping meja makan keluarga Fatir, Fathir memang sudah setuju untuk memlertemukan mereka di restauran ini.
"Maaf Shaina, Pa Linggar memaksa." Ucap Fathir.
"Shaina, aku mohon maaf karena telah menyakitimu waktu itu. Aku hanya emosi. Rangga sayang, apa kabarmu?apa kau tidak merindukan kakek heh?" ucap Pa Linggar.
"Baik kek." Namun Rangga hany menunduk, seakan dia tidak mau menatap wajah kakeknya itu.
"Sayang, kok begitu sama kakek, salim dulu."
"Ma, Rangga sakit lerut mau ke toilet dulu, sama mama."
__ADS_1
Ucap nya.
"Ooh, baiklah."
Mereka pin ke toilet.
Tap
Tap
"Mama, kakek telah mengusir kita saat itu, dan juga aku sempat menguping, kalau kakek juga yang telah membangkrutkan perusahaan Papa kan? lalu mengapa kakek ingin menemui kita?" Tanya Rangga. seeprti orang dewasa saja.
"Sayang, itu sudah berlalu, tidak usah di pikirkan, selama dia tidak merugikan kita lagi, tidak masalah kita bertemu dengannya kan?"
"Tapi dia sudah nyakitin hati mama kan? Rangga liat kok waktu itu mama menangis."
Shaina terkejut, ternyata Rangga seperhatian itu.
Rangga pun masuk Toilet. Dan menyelesaikan hajatnya
Ceklek
Mereka kembali mendekati meja makan.
"Rangga!" Pa Linggar meraih tangan Rangga. Namun Rangga menolak dengan mengelak. Dan duduk di samping Fathir.
"Joko, kemarilah!" Joko yang di panggil pun mendekat dengan membawa tas.
"Shaina, ini berkas perusahaan Linggar grop, aku ingin kaulah yang menghandelnya kembali." Ucapnya.
"Maaf pak, rasanya aku kurang pantas untuk ink, karena,aku bukan siapa siapa papa lagi, sementara Rangga masih kecil." Tolak Shaina.
"Tapi hanya kalian berdua keluargaku." ucapnya lagi.
"Maaf, baik kakek simpan saja itu, ayo ma, kita pulang!"
Ajak Rangga dia pun berlari mendekati mobil.
"Rangga tunggu!" Teriak Shaina
BERSAMBUNG....
__ADS_1