Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Kabar tak Terduga


__ADS_3

Shaina pun berhenti di dekat kerumunan orang orang, dan turun dari motornya.


"Maaf, permisi, permisi." Shaina terus masuk ke dalam kerumunan.


"Mbak keluarganya? mengapa membiarkannya berjalan sendirian?" Ucap seorang ibu ibu.


"Aku mau lihat, permisi." Sampailah Shaina di depan orang yang tertabrak.


"Oooh, Alhamdulillah.." Ucap Shaina.


"Lho? kok Alhamdulillah sih Mbak? nggak toleran banget jadi orang, malu maluin kerudung nya aja, heh." cerca seorang wanita yang mendengar ucapan Shaina.


"Astagfirullah, bu... bukan begitu maksud saya, saya kira dia adalah kerabat saya, maaf." Shaina pun segers kembali menuju motornya.


"Bang, ke mana sih? hik hik hik." Shaina sangat sedih, dia terus meneteskan air matanya sambil mencari sekelilingnya.


"Obang!" Shaina berhenti di sebuah warung kecil. dan memarkirkan kendaraannya, ketika dia melihat Hendra sedang duduk manis.


"Obang!"


Hap


Shaina memeluknya erat.


"Ada apa Shain? kok nangis?" Tanya Hendra heran.


"Iya ada apa?" tanya tukang warung juga.


Keluarga Hendra terkenal kaya raya, dan tidak mau mampir di warung kecil, tapi memang beda dengan Hendra, dia malah sering singgah dan mentraktir orang orang.


"Bang, ayo kita pulang!" Shaina menyodorkan uang 50 ribu pada pemilik warung.


"Nggak usah di kembali in." ucap Shaina lagi.


"Terimakasih Neng."


"Ada apa Shain, kok terburu buru?" Tanya Hendra keheranan.


"Zahwa nyari in tuh, ayo!"


Mereka pun pergi meninggalkan warung tersebut.


"Sayang, kok kamu aneh? sampai nangis gitu, dulu aja aku yang sering nangis malem malem untuk dapetin kamu." Ucap Hendra.


"Sekarang gantian, biar adil." Ucap Shaina.


Mereka memasuki halaman rumah di sambut oleh mamahnya.

__ADS_1


"Hen, kamu ke mana? kok nggak bilang bilang kalau mau pergi?" Ucap mamahnya. "Ngopi mah di warung bu Uci" sahutnya santai.


padahal tadi dia minta bikinkan kopi sama Shaina di dapur dan belum di minum.


Terlihat Shaina memdekati paman satpam di depan herbang.


"Paman, aku mau bicara 4 mata."


Setelah babibu....


A sampai Z


"Paman mengertikan?"


"Iya Nyonya muda,"


Ternyata Shaina menceritakan kisah Hendra yang sedang sakit.


"Baik, jadi kalau dia keluar tolong ikuti dia, aku tidak tau kapan waktu itu tiba, namun sekarang aku sangat berhati hati paman. terimakasih, tolong jaga rahasia keluarga kami ini." Shaina pun kembali ke dalam rumah.


"Shaina, ayo kita makan!" Hendra sudah berdiri tegak di depan pintu dapur.


"Iya Bang, ayo!" Hendra melingkarkan tangannya di pinggang Hendra.


"Bang, hari ini aku ada rapat sama Mbak Zeze, kami janjian di hotel Mekar jam 11 nanti siang."


"Ooh, apa harus aku temani?" Tanya Hendra serius.


"Assalamualaikum... Shain," Ternyata Luri sudah datang.


"Mbak, kok lagi banget? kami baru sarapan nih." Sambut Shaina.


"Bks yang telat sarapan, ini udah jam 1p lho?" ucap Luri.


"Hah, masa?" Shaina pun menatap jam dinding di ruang tamu.


"Ya Allah, bentar, aku mandi dulu."


Shaina berlari kecil dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Aduuuh...kepalaku sakit." ucap Hendra. Dia pun memegangi kepalanya dambil menekan nekan.


"Ada apa Bos?" Luri tampak khawatir dengan kondisi Hendra.


"Sakit kepala, akhir akhir ini sering datang tiba tiba." ucap Hendra.


Ceklek

__ADS_1


"Ayo mbak!" Shaina sudah rapi.


"Ooh iya!" jawab Luri.


"Bang, aku berangkat, emch Assalamualaikum." Shaina mencium tangan dan pipi suaminya.


"wa alaikim salam."


...


...


...


Di perjalanan.


"Shain, sekarang bagaimana keadaan Bos Hendra?" Tanya Luri.


"Dia sering lupa dengan kegiatannya sebelumnya. kadang sikat gigi pun berulang ulang, handuk juga sering lupa taroh di mana." Shaina terlihat sedih.


Tak terasa mereka sidah sapai di Hotel, tentu daja itu Hotel milik keluarga Manae grop.


"Shaina..." Zeze ternyata sudah menunggunya di lobi.


"Hey mbak. apa kabar, lama nggak ketemu nih?" Basa basi Shaina.


"Iya... bagaimana kabar kamu dan Zahwa?"


"Alhamdulillah baik Mbak, kalau Daxon gimana kabarnya?"


"Udah berlarian kemana mana dia, cape seharian kalau lagi maen. oh iya, udah tau kabar belom?"


"Kabar apa mbak?"


"Kabar Fathir, kasian dia."


"Emang ada apa? kemaren ada ketemu kok, beberapa hari lalu."


"Kamu belum tau ya? udah 3 bulan Salma meninggal gara gara melahirkan.


Dag dig dug dooorrrrr


"Meninggal?"


Shaina sangat Syok memdengar kabar itu.


Mengapa dia tidak memberi tahuku waktu kami ketemu kemaren?

__ADS_1


Lirih hatinya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2