
Akhirnya Shaina pun di larikan ke rumah sakit.
"Sayang, ada apa ini, sus tolong segera tangani istri saya sus tolong sus!" Fathir menghiba pada suster jaga.
"Baik Tuan, Tuan tunggu saja ya, kami juga lagi menunggu dokternya."
Balas suster itu. Mereka hanya memeriksa tekanan darah saja.
"Sayang, ada apa? jangan begini sayang, mungkin kau terlalu memikirkan Zahwa, dia pasti baik baik saja, kamu jangan begini,"
Fathir terlihat meneteskan air mata.
Dreeeet
Telponnya bergetar.
'Hello'
'Kalau kau ingin anakmu selamat, transfer uang sebanyak 500 juta ke rekening ini!'
No rekening baru pun masuk.
"Sial,"
Fathir pun mengirim no telpon yang baru masuk ke rekannya untuk di lacak.
"Bi, tolong jaga Shaina ya! aku ada urusan, jangan sampai kau tinggalkan rumah sakit ini Bi!"
"Baik Tuan!"
Fathir pun pamit dia keluar untuk menemui teman temannya. Dia berharap no telepon itu bisa di lacak secepatnya.
Fathir pun menemui team teman lamanya dulu.
"Bagaimana paman Baron? apakah no itu terlacak?" Tanya Fathir saat sudah sampai di sebuah jalan tempat mereka janjian.
"Iya Thir, ayo!"
Mereka pun menuju tempat yang telah terlacak, Fathir juga sudah membawa foto Luna, karena waktu di lukis wajah Luna lah yang muncul. Sesampainya di tempat yang di tuju.
__ADS_1
"Mbak maaf,mau nanya, apakah mbak kenal orang ini? katanya dia tinggal sekitar sini mbak?" Tanya Fathir pada penjaga kios sembako.
"Maaf Tuan, saya belum pernah melihat wanita itu di sini." Jawab pemilik kios.
"Oh baikkah, apa di sini ada kontrakkan?" Tanya Fathir lagi.
"Ada, di ujung sana."
Pemilik kios menunjuk ke ujung jalan gang kecil.
"Oh, baiklah, terimakasih mbak."
Fathir pun berjalan menuju gang kecil dan niat ingin bertanya. Namun dia kaget saat mengenali sendal Zahwa yang ada di teras rumah walau hanya ada sebelah saja.
Tok tok tok
"Buka! siapa di dalam? buka!"
Dugh dugh dugh
Ketukan itu berubah jadi pukulan keras. Dia sangat yakin kalau sendal itu milik Zahwa.
Tiba tiba ada pria kekar keluar dari kontrakkan sebelah.
"Di mana orang yang ngontrak ini?" Tanya Fathir.
"Aku tidak tau, kalian mengganggu tidur siang ku, pergi pergi!"
Usir lelaki 6itu sambil mengipas ngipaskan tangannya tanda mengusir.
"Hey!"
Fathir pun mendekat dan mencengkram kaos lelaki itu.
"Kau? berani kau padaku?"
Bruk
Bugh bugh
__ADS_1
Lelaki itu memukul Fathir.
Baron dan kawan kawan pun datang dan berdiri hanya menyaksikan saja, karena mereka yakin Fathir bisa membalas.
Bugh
Sekali hantaman Lelaki itu tersungkur.
"Aku bertanya baik baik, mengapa kau membuat ku marah, heh?"
Fathir tampak emosi. Sementara lelaki itu menyapu darah segar yang mengucur dari sudut bibirnya.
"Ke-parat kau."
Lelaki itu bangun
Bugh
Sekali lagi Fathir meninju perut lelaki itu hingga kembali terjatuh.
"Mas mas, hentikan! jangan bertengkar!"
Teriak seorang wanita paruh baya yang baru datang.
"Kurang ajar kau!"
Lelaki itu kembali berdiri, namun wanita tua tadi menghalangi.
"Bu, aku hanya bertanya, di mana orang yang ngontrak rumah ini? dia telah mencuri anakku."
Ucap Fathir.
"Ooh, jadi benar dugaan ku, mereka tadi pergi ke sana, mereka terburu buru naik taksi Mas. Sang anak menangis karena tidak mau pergi, katanya cape pindah pindah terus. Jadi Dia anakmu?" Tanya Ibu tua.
"Benar Bu, terimakasih. Ayo!"
Fathir pun segera menyusul arah yang di tunjuk ibu tadi.
BERSAMBUNG....
__ADS_1