
Mami Hendra pun tampak keluar dari ruangan Shaina tanpa memandang sedikitpun pada Shaina. Mami Hendra dan Sisil kemudian menuju ruangan Hendra dan duduk santai di sana. tiba-tiba Hendra datang.
"Sisil, maaf, aku ingin bicara 4 mata dengan Mamiku." Ucap Hendra mengusir halus Sisil.
"Bicara saja, tidak apa-apa kok, lagian dia juga bekal jadi istrimu Dra."
"Mami, ku mohon, hargai keputusanku, Mami sudah tau kan, sisil tolong keluar sebentar."
"Baiklah! Mami, aku pamit dulu ya." Sisilia pun keluar dengan wajah cemberut.
"Dra, kau melukai perasaannya, kau sudah tau kan, kalau aku tidak akan merestuimu dengan wanita itu. Titik!"
"Mami, bagaimana pun juga, aku tidak akan menikahi Sisil, aku tidak mau istriku mengumbar auratnya."
"Jadi maksudmu, kau ingin istrimu berhijab, ya tinggal bilang, Sisil pasti mau."
"Tidak semudah itu Mi, ini soal perasaan,"
"Nanti lama-lama juga bisa kok, banyak tuh yang nikah dadakan tanpa cinta."
"Itu mereka, tapi aku sudah menambatkan hatiku pada Shaina Mi."
"Shaina lagj, dia itu sedang hamil anak orang, apa benar dia punya suami, jangan-jangan hamil di luar nikah."
"Mami, ah," Hendra pun mengucek-ucek kepalanya.
Bruk
"Hendra! mau ke mana kau?"
Hendra tak menyahut, dia pergi meninggalkan Maminya sendirian.
Tap
Tap
Tap
"Mi mau kemana?" Sisil mengekori Mami Hendra yang berjalan tergesak-gesak
__ADS_1
"Ayo ikut!"
"Kemana Mi? Hendra juga pergi tergesak-gesak."
"Ikut saja." Sisil pun tak bertanya lagi dan hanya mengikuti Mami Hendra dari belakang.
Ceklek
Bruk
"Shaina!" Mami Hendra mendorong pintu ruangan Shaina dengan kasar.
"Iya Bu." Shaina dan Luri pun kaget melihat kedatangan Mami Hendra yang terlihat marah.
"Shaina, kalau kau masih ingin bekerja di sini, jauhi Hendra. Lihat! ini calon istri Hendra, jadi jangan coba-coba kau mendekatinya dengan alasan apa pun, ingat!"
"Iya, Bu." Shaina hanya bisa menunduk karena merasa takut. Luri pun menatap Shaina penuh Iba, namun dia akan pasang badan kalau seandainya Bumil itu di cakar atau apalah, dia siap siaga menghalangi.
"Berani kau mendekati anakku lagi, kau akan tau akibatnya."
Brak
"Maaf bu, tapi bukan saya yang.."
Brak. Memukul meja kembali.
"Berani kamu melawan heh, bagaimana bisa anak saya tergila-gila sama wanita hamil sepertimu, wajahmu tak sebanding dengan Sisil, lihatlah, mana cerminmu? apa harus aku yang melajarimu bagaimana bercermin dengan baik heh?"
Shaina pun hampir meneteskan air mata, namun dia sapu dengan ujung jilbab nya.
"Jangan cengeng, jangan harap aku akan kasian kepadamu, ingat! jangan berani dekati anakku lagi."
Tap
Mereka berdua pun meninggalkan tempat Shaina dengan kemenangan, karena telah berhasil membuat muka Shaina pucat.
"Shaina? kau tidak apa-apa?" Luri pun mendekat.
"Sudah biasa mbak, tidak apa-apa" Luri pun kembali kemejanya.
__ADS_1
Bruk
Tiba-tiba terdengar benda jatuh. Luri pun berbalik.
"Shain." Ternyata Shaina terjatuh dan pingsan.
"Shaina, bangun, aduh gimana ini?"
Luri tampak panik dan mengambil telponnya
Sementara di bawah. Hendra tampak sedang telponan dengan seseorang.
{Baik pak, kami akan menyiapkan pesanan yang anda butuhkan }
{Besok lusa aku akan ke sana untuk memeriksanya}
{Baik pak}
Tut
Telpon pun terputus.
"Pak, apakah kita akan ke proyek yang baru itu? bangunan untuk mini market bapak sudah selesai. Tinggal mewarnai bodynya biar kenclong, hihi." Orang kepercayaan Hendra itu sangat antusias.
"Haha, ingat, bangunan itu Mami tidak boleh tau, karena itu adalah mahar yang akan aku berikan pada Shaina nanti."
"Baik Bos, tenang saja."
"Jangan begitu, aku ini temanmu, jangan terlalu Formal padaku." Bagas adalah teman SMPnya dulu, mereka berpisah ketika sekolah SMK dan SMA.
"Bos ada pesan masuk nih."
Bagas pun menyodorkan HPnya pada Hendra, Rupanya Luri yang menChat.
"Hah, Shaina pingsan, aku akan ke atas dulu, tunda saja ke sana hari ini ya?."
"Baik Bos"
BERSAMBUNG....
__ADS_1