Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Qulil Haq Walau Kaana Murrun


__ADS_3

#Katakanlah kebenaran meski terasa pahit#


Shaina tak bisa membendung air matanya lagi, dia pun masuk ke kamarnya dan menangis sekuat kuatnya dengan menenggelamkan wajahnya di bantal.


"uwaaaaaaa mammmma mmmmaa."


Tangisan Zahwa menghentikan tangisan Shaina, seakan Zahwa tau sekarang mamahnya lagi bersedih.


Shaina pun menggendong Zahwa.


"Sayang...kenapa menangis? ciluub baaa?"


Zahwa yang sudah berusia setahun pun tersenyum dan kadang tertawa kecil.


Zahwa ne-nen. dan mulai tertidur kembali.


Ceklek


"Obang?"


Hendra yang berdiri di pintu tertegun sesaat.


"Hen, kamarmu di atas!" Teriak mamahnya dari belakang Hendra.


Bruk, Hendra menutup pintu


krek krek krek


dan menguncinya dari dalam. artinya hendra masuk kamar Shaina.


"Obang."


"Sayang, apa yang terjadi, siapa wanita di luar sana?"


"Dia Laila Bang, istri Obang."


Shaina meletakkan Zahwa.


"Istri? kau adalah istriku, kenapa ada istri lainya?"


Hendra jadi semakin bingung. Dia pun memegangi kepalanya.


"Obang, sini!"


Shaina membimbing Hendra berbaring di ranjang.


Tok tok tok


"Shaina!"


Ceklek


Shaina membukakan pintu.


"Mana Hendra?.... Hen, ayo!"

__ADS_1


Ny.Linggar mengajak Hendra ke kamar Laila.


"Mah, kepalanya sakit. Biar dia di sini dulu."


Ucap Shaina.


"Tapi ini malam pertama Hendra Shain, kasian Laila!"


Ucap Nyinggar lagi. Dia pun memegangi tangan Hendra mengajak bangun.


"Aduh.." Pekik Hendra.


"Obang!"


Shaina pun segera memeluk tubuh Hendra yang hampir terjatuh.


"Hen, nanti juga akan sembuhkan, seperti biasa? ayo!"


Mamahnya tetap memaksa untuk naik ke lantai atas.


"Mah, aku di sini saja, aku ingin bersama Shaina."


Ucap Hendra tiba tiba.


"Hen...kamu harus punya keturunan, mamah ingin segera menimang cucu."


Ny.Linggar sedikit meninggikan suaranya.


"Mah, tapi dia sakit mah!"


"Shain, kamu tau kan, biasanya juga begini?"


"Bang, ayo ku antar!"


Shaina pun menggandeng Hendra untuk bangun, Hendra pun menurut.


Tap


Tap


Tap


tangga demi tangga telah di lalui.


Ceklek


Sampailah pada kamar yang dulu Hendra dan Shaina pakai untuk malam pertma mereka. Hati Shaina sangat sakit, namun demi lelaki yang mungkin tiba tiba saja akan pergi selamnya, Shaina rela berkorban untuk itu.


Deg


Betapa terbelalaknya Shaina saat masuk dan mendapati Laila sudah siap dengan pakaian sarang burungnya berbaring telentang di atas ranjang dan terliht tertidur pulas.(pura pura tidur, dia mengira hanya Hendra yang datang)


"Bang, aku ke bawah.-


Ucap Shaina berbisik di telinga Hendra.

__ADS_1


Ceklek.


Shaina menutup pintu. Mata Hendra tertuju pada Laila yang terbujur di atas ranjang luas dan di taburi bunga.


"Laila?"


Hendra pun oleng dan mendekati ranjang, dia menatap tubuh istrinya itu tajam, namun kilasan wajah dan senyum Shaina slalu datang di pelupuk matanya.


Siapa dia?


Gumam Hendra pelan. Akhirnya dia pun berbaring di sofa dan tertidur. Kasian tuh di ngangguren sarang burung waletnya😄


Sementara Shaina di bawah.


"Obang, sekarang kamu ngapain? apakah kini kau pun mulai melupakan aku?"


Shaina menangis sambil memberi ASI Zahwa yang terbangun karena haus. Akhirnya Zahwa,tertidur kembali.


"Ya Allah, ikhlaskan hamba."


Dia pun menuju kamar mandi dan berwudhu untuk sholat witir 3 rokaat.


"Mungkin saja nanti aku tidak terbangun seperti biasa."


Sekarang jam menunjukkan jam 12 malam, karena Shaina belum ada tidur, dia tidak bisa melakukan tahajud seperti biasa.


Selesai sholat dia berdo'a agar semua yang telah di gariskan untuknya, dapat dia lalui dengan lapang dada.


Pagi menjemput, sang surya sudah mulai meninggi.


"Huaaaaaaak, ha? jam berapa sekarang? jam 7? aku belum sholat!"


Shaina pun cepat cepat wudhu dan sholat dua rokaat. walau pun terlambat dari pada tidak sama sekali, karena dia tidak terbangun. Saat jongkok dalam sholatnya dia merasa mual dan ingin muntah.


Selesai salam.


"Huak...huak..."


Dia pun berlari dan muntah di kamar mandi.


"Apa aku masuk angin ya? Obang..."


Gumamnya.


Biasanya obanglah yang membangunkanku.


Biasanya Obanglah yang mijitin


"Hik hik hik..."


Shaina kembali menangis.


"Huak huak."


Shaina benar benar mual luar biasa.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2