Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Diam diam Cemburu


__ADS_3

Pwmbunuh Bayaran Palsu ....


#Diam diam cemburu


#Dont share


"Terimakasih nona." ucap Hendra pada gadis itu.


"Sama-sama, namaku Salema," wanita itu mengulurkan tangannya pada Hendra."


"Oh, maaf, aku Hendra." hendra hanya menyatukan tangannya di dada."sebenarnya kalau sama Shaina dia mau aja salaman, tapi tidak dengan wanita lain, jadi gitu deh pura-pura alim bangeeet😍.


"Oh iya." Wanita be-rok mini itu pun tersipu.


"Terimakasih banyak Tuan." ibu-ibu yang lainnya pun tampak mengucapkan terimakasih.


"Andai aku punya anak perempuan sudah ku jodohkan denganmu." ucap salah satu ibu.


"Ah, ibu bisa aja, tapi maaf, aku sudah punya calon hihi." Tegas Hendra, sengaja, karena dia merasa Salema mencurigakan.


"Waaaah, beruntung banget pasti ceweknya,"


Ucap yang lainnya.


"Tapi kan sebelum janur kuning melambai, masih ada peluang." ucap Salma.


"Nggak juga bu, malah saya yang sangat beruntung memiliki dia, oh iya kok jadi curhat, udah ya mohon pamit, assalamualaikum." Hendra tak menanggapi ucapan Salma.


"Wa alaikum salam." serempak.


"Mas tunggu, aku juga udah selesai, kamu kerja di mana?"


"Aku tidak bekerja, aku sedang menemani seseorang di rumah sakit di sana. Maaf."


"Kamu bekerja dimana?"


"Aku hanya sopir Pribadi, jadi bisa di mana aja.. Maaf ya."


Hendra pun masuk ke mobilnya dan pergi.


*


*


*


Tok


Tok


Tok


"Maaf, apa ini ruangan Shaina?"


Dua orang pria wanita mengetuk pintu.


"Iya, mencari siapa Bu?" Ummi tampak bingung karena tidak mengenal orang itu.


"Aku teman Damon yang menelpon kami tadi, yang akan mendonorkan darahnya."


"Ooh silahkan masuk, kita tunggu perawat dulu. Nak Hendra tolong tanyain perawat, mereka harus ke mana dulu."


"Baik Mi."


Hendra pun segera meninggalkan ruangan menuju penjaga yang bertugas.

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


"Apa kalian yang akan mendonor?"


"Iya Sus." jawab bu Mega.


Apa kalian ingat Bu mega????😄.


"Kami perlu tanya jawab dulu."


"Apa ibu konsumsi narkoba? alkohol, atau sejenisnya,"


"Tidak, dalam 7 bulan ini."


"Apa ibu ada penyakit kronis?"


"Tidak."


"Sekarang bapak."


"Iya."


"Apa bapak peminum dan sejenisnya?"


"Aku juga sama, sudah 7 bulanan ini tidak pernah."


"Punya penyakit?"


"Tidak." Jawab pak Baron.


"Berarti kalian bersih, mari ikut saya keruangan donor."


Mereka pun menuju ruangan khusus yang ada di belakang bangunan rumah sakit tersebut. Selang 20 menit.


"Hallo, apa teman-temanku sudah datang?" Damon ternyata yang datang kembali.


"Oh iya, mereka lagi di ruangan belakang." ucap Ummi.


"Baiklah aku akan menyusul mereka."


Damon pun pergi dari ruangan Shaina.


Tap


Tap


Tap


"Assalamualaikum, Mi. maaf terlambat."


"Wa alaikumussalam, nggak papa Nak."


"Uaaaaah, Pusing...."


"Shaina, kau sudah bangun?"


"Mi, kemana anakku Mi," Shaina meraba perutnya yang rata.


"Itu," Ummi berdiri dan menunjuk di box bayi.


Ummi pun menggendongnya, dan membawa ke sisi Shaina."

__ADS_1


"Ya Allah, cantik banget Mi." Seru Shaina.


"Mi, makan aja duluan, biar aku nemenin Debay dan Shaina." ucap Hendra.


"Duluan aja nak, nggak papa,"


Hendra berdiri.


"Ummi saja, saya tadi udah icip icip kok di warung, ayo mi!"


Terpaksa ummi pun mau menuruti kemauan Hendra untuk ngehormati, kan kasian udah lama pasti jauh belinya, di benak emak.


Hendra pun duduk di sisi ranjang dan sedikit memegang putri imut biar tidak terguling, lagian bayi belum bisa juga kale guling guling Dra☺.


Lho, kok ada noda lipstrik sih di baju Mas Hendra, apa dia udah punya cewek ya? atau dia punya banyak cadangan ya?


Gumam Shaina dalam hati.


entah mengapa Shaina sedikit kecewa dan merasa tidak enak, apakah dia cemburu?


"Ada apa Shain? kok bengong?"


"Oh tidak, Mas beli nasi di mana?"


"Di warung pinggir jalan, kamu belum bisa makan ya, nunggu Buang angin dulu ya?"


"Apaan sih Mas, nggak kok, kata dokter sebelum operasi tadi aku udah nanya, katanya akan di kasih jadwal."


"Iya itu Ummi letakkin di atas lemari, jadwal Shaina, nanti boleh minum sedikit sedikit."


"Oooh, kirain nunggu buang angin dulu seperti kisah mamah dulu."


Tok tok tok


"Shaina udah bangun."


Tiba tiba Damon dan 2 temannya udah datang. Damon pun menghampiri ranjang Shaina.


"Boleh aku gendong?" Damon meminta bayinya untuk di gendong.


"...." Shaina mengangguk.


Hendra pun menyerahkan bayinya.


Damon membawa ke Sofa yang ada di ruangan itu, ruangan yang sangat besar.


"Waaaah, cantik banget ya..pasti saingan sama mamahnya nanti ya." ucap bu Mega.


"Ah bisa aja, mamahnya pasti lebih cantik," ucap Damon sambil melirik Shaina, namun yang di lirik tidak mendengar karena lagi asyik ngobrol sama Hendra.


Mengapa aku sangat cemburu melihat kedekatan mereka. ya Tuhaaan bantu aku mendapatkan hati Shaina.


Bisik hatinya lirih.


Damon pun berdiri.


"Maaf awas!" Dia menyuruh Hendra menjauh dari kursi di depan Shaina.


"Ada apa?" Ucap Hendra.


"Aku mau duduk di sini, sambil gendongin dia, agar ibunya bisa lihat." ucapnya.


Hendra pun mengalah dengan hati jengkel.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2