Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Hamil Siapa Ayahnya


__ADS_3

Shaina sangat Gugup, sudah 3 bulan dia tidak haid, perasaan takut dan was was pun menghantuinya. Setelah lama menunggu dia pun sudah mulai melihat hasilnya. Hasil Tespek yang membuat jantung Shaina berhenti berdetak untuk sesaat.


"Aaaaaa,"


Bruk


Shaina melempar gayung mandi hingga pecah.


Duk


Duk


Duk


"Nak, ada apa? Shaina buka!" Ibu shaina sangat cemas dengan kelakuan anaknya, dia pun menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Ummi....hik hik hik."


Ceklek


Bruk.


"Hik hik hik." Shaina memeluk tubuh Ibunya erat sambil menangis histeris.


"Ada apa nak, kenapa kau seperti ini, katakan!"


Ayahnya puan ikut memeriksa keadaan Shaina.


"Shaina, ada apa?" Ayahnya pun menengok ke dalam kamar mandi.


Deg


Mata ayahnya tertuju pada benda putih halus dan wadah kecil berisi air berwarna sedikit kuning.


"Shaina, a..apa, itu milikmu?" Ayah Shaina menunjuk benda yang tergeletak di lantai.


"Ada apa Bi, apa ada sesuatu di dalam?" Ibunya pun penasaran dan maju untuk melihat. Saat melihat tanpa babibu.


Hap


"Shaina? apa ini milikmu?" Ibu menenteng benda kecil itu ke wajah Shaina.


"...." Shaina mengangguk dan masih menangis.


"Shainaaaa.."


Plak


Plak


Plak


Sang ibu memukuli tubuh Shaina keras, sehingga tubuh Shaina pun tergoncang-goncang.


"Ummi, cukup! hentikan, Ummi! au," Ayah Shaina coba melerai istrinya, namun sayang tampaknya dia kesakitan, dia memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit dan terduduk.


"Abi...Abi kenapa, Abi." Ayah Shaina pun pingsan di pelukan Umminya.


"Abi....maafkan Shaina."


"Shaina ayo telpon taksi, kita bicarakan itu nanti."


Shaina pun berlari mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.


Tak berapa lama mobil pun sampai di halaman. ternyata dia menelpon Faruz tunangannya, karena kantor cabang Faruz dekat dengan rumah Shaina.


"Ada apa Shaina, kenapa Abi pingsan." Tanya Faruz terlihat khawatir.


"Nanti akan aku jelaskan, sekarang tolong bawa Abiku ke Rumah Sakit."


Mereka pun berangkat dengan di bantu beberapa tetangga untuk menggotong masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan Ibunya hanya menangis, sedang Shaina tidak tau harus mulai dari mana untuk mengatakan itu semua.

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


Mereka pun sudah sampai ke Rumah Sakit dan di bawa keruang UGD. di pakaikan selang infus dan oksigen.


"Shaina, sebaiknya kau pulang saja, Ummi bisa jaga Abi sendiri."


"Ummi..."


"Pulanglah!" Sepertinya ibunya tidak mau melihat wajah Shaina lagi, terlihat ibunya tidak menoleh sedikit pun saat menyuruh Shaina pulang. Tentu saja hati Shaina sangat sakit dan hancur. Dia pun keluar.


"Shaina, kau mau kemana?"


Ketika bertemu dengan Faruz dia pun bingung melihat Shaina menangis dan berlari keluar, dia pun mengikuti dari belakang.


Sesampainya di taman Rumah Sakit Shainan pun duduk di kursi panjang.


"Bang Far, maafkan aku."


"Emang ada apa sih Shain kenapa pipimu merah-merah, kayak bekas pukulan gitu?"


"Aku...aku, oh aku tak tau harus mulai dari mana."


"Kenapa denganmu? katakanlah, sebentar lagi kita akan menikah, jangan ada rahasia di antara kita." Faruz pun menggandeng Shaina ingin memberi ketenangan dan kekuatan, tubuh Shaina bergetar karena menahan tangis.


"Bang, maafkan aku." Shaina pun melerai pangkuan Faruz.


"Aku hamil Bang."


Deg


Deg


Deg


Beratus-ratus kalee ya pamirsa?.


"Shaina, jangan main-main dengan kata-katamu!?" Faruz tidak percaya, tidak akan pernah percaya. Faruz sebenarnya dulu adalah seorang pemuda yang sangat nakal. Dia bahkan pernah mempermainkan wanita dan menidurinya. Saat di jodohkan dengan Shaina, dia menolak keras sebelum bertemu. Ketika mereka di pertemukan entah mengapa Faruz malah tergila-gila pada Shaina sehingga dia mau melakukan apa saja seperti belajar sholat mengaji dll.


"Maaf Bang, aku tidak berdaya, aku di bius, aku di perkosa, hik hik jik."


"Apa, di perkosa? meng..mengapa tidak kau laporkan saja ke polisi? mengapa kau diam saja heh, siapa orangnya biar kita jebloskan ke penjara."


"Aku tidak tau Bang, aku di bius."


"Di mana kejadiannya?"


"Di rumah kami, saat itu aku baru keluar kamar mandi, aku lupa membawa baju ganti, mungkin itu juga yang mengundang hasratnya, aku tidak tau, kalau ternyata ada orang yang masuk ke rumah kami, karena dapur terbuka, bekas Ummi keluar."


Shaina terus menangis, Faruz pun jadi bingung harus bagaimana.


"Baiklah, aku tidak tau harus apa, aku akan pulang dulu untuk berpikir."


Faruz pun pergi meninggalkan Shaina sendirian, dia melajukan mobilnya dengan kencang, di tengah perjalanan, ternyata syoithon telah menggoda pikirannya, menghancurkan tekad dan harapannya.


Ceeeet


Dia berbelok arah, akhirnya dia duduk di taman menunggu malam tampa pulang.


Ashar, maghrib, isya pun telah lewat, dia hanya bengong tanla berkata apa-apa.


Tap


Tap


Tap


Dia memasuki area yang pengap bau alkohol, wanita-wanita seksi, dia kembali ke jalan yang bengkok ?. Dia lun memesan Minuman.

__ADS_1


"Hey, honey, akhirnya kau datang juga sudah sangat lama kau tidak muncul."


Seorang wanita malam menghampirinya dan memeluknya erat, dan mencumbunya tanpa permisi, Faruz hanya diam, dia sudah meminum beberapa cangkir anggur, namun masih berdiri kuat tatapannya terlihat kosong. Mungkin dia sangat Syok dengan kejadian itu. Hingga akhirnya wanita itu memberinya minum air putih yang sudah di beri perangsang, laki-laki tampan itu pun terlihat berapi-api dan memeluk Wanita itu bringas. Wanita itu pun tersenyum nakal, dan membawanya masuk keruangan khusus.


Cup


Cup


Cup


Satu babak telah selesai, Faruz pun tampak berbaring di samping wanita itu tanpa sehelai benang pun.


###


Rumah mungil Shaina 22.00


Klok.


("Shaina, tunanganmu sedang main wanita lain lihatlah foto ini.")


Tampak sebuah Vidio singkat menampilkan Faruz memeluk wanita itu dan merangkulnya membawa kesebuah ruangan khusus. Shaina tau Faruz kembali ke jalannya yang dulu.


"Hik hik hik. Allah, kenapa kau coba Hamba dengan semua ini, Allah, ampunkan Hamba, Hamba tidak tau siapa lelaki itu, hik hik hik."


Shaina terus menangis. Dia terus menangis di atas sajadahnya, dia memohon agar ada keajaiban bahwa itu hanya mimpi.


Ceklek


"Shaina, Abimu mau bicara, Shaina."


Ternyata hari sudah siang, jam menunjukkan jam 12, tadi malam Shaina tidak,tau entah jam berapa baru tertidur, ternyata orang tuanya sudah pulang dari rumah sakit.


"Ummi," Shaina pun bangun dan merapikan sajadahnya, dia melewatkan sholat subuh, dia berniat akan mengqodonya nanti. Shaina pun berjalan menuju kamar Abinya.


"Abi," Shaina mencium tangan Abinya, Abinya sangat sabar, tak sedikitpun api kemarahan ada di matanya.


"Aku ingin penjelasan dari mu Nak, Siapa ayah dari anak yang kau kandung?"


"Shaina terdiam, dia pun menatap wajah Ibunya, karena ini adalah kesalahan Ibunya yang tidak menutup pintu dapur, sehingga membuat kesempatan dalam kesempitan.


" Shaina di nius dan di perkosa Yah." Shaina tertunduk.


"Apa?" Ayah dan ibu Shaina terkejut bersamaan.


"Siapa? ayo katakan!" Ibunya mencengkram pundak Shaina kuat.


"Aduh Mi, sakit."


"Mi berhenti!" Ayahnya pun ikut bicara, ayah mempunyai hati yang sangat lembut.


"Kita harus membicarakan ini dengan keluarga pak Bayu ayah Faruz, kalau mereka membatalkan pertunangan, kita harus menerimanya."


"Di mana kejadiannya Nak?"


"Di rumah ini Bi."


"Apa? Di sini?" Ibunya tambah syok.


"Saat itu Ummi apa masih ingat? saat Ummi pergi ke pasar lewat dapur, dan membiarkan pintu terbuka, saat itu lah lelaki itu masuk dan membius Shaina."


Shaina menjelaskan semua kisah yang sebenarnya.


"Oh Tuhaaaan, mengapa jadi seperti itu, sudah."


"Itu kebiasaanmu dan juga kebiasaan Ibumu."


Maksudnya Shaina sering lupa bawa baju ganti sedang ibunya slalu lewat dapur dan membiarkannya terbuka.


"Jadi disini tidak ada yang salah, ini sudah takdir kita."


Sejak saat ketahuan Shaina orang di kampung pun mulai bergosip, Ayah Shaina tidak pernah lagi, disuruh pengajian, telah dicarikan ganti oleh ustadz yang lain oleh warga setempat. Mereka seperti di kucilkan. sekuat-kuatnya Iman ayah Shaina akhirnya tumbang juga, akhirnya beliau meninggal saat sujud di sepertiga malam dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


Mungkin beliau ikhlas akan takdir nasib di keluarganya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2